Bingung Memilih Koper Atau Ransel

Sepuluh hari yang akan datang tepatnya tanggal 14 Oktober 2017 insyaallah saya akan pergi ke pulau Dewata Bali. Kepergian saya kesana aslinya bukan untuk jalan-jalan tapi karena memang ada undangan pelatihan. Bisa jalan-jalan sesudahnya tentu menjadi bonus dan kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. 

Bali adalah surganya wisata di Indonesia. Semua orang pasti pengen kesana. Saya sendiri belum pernah sekalipun kesana, jadi kesempatan untuk pergi ke Bali harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Setelah pelatihan berlanjut jalan-jalan. 

Koper atau ransel

Satu hal yang masih saya bingungkan saat ini adalah pilihan untuk memakai ransel atau koper.Fungsi dari kedua barang itu sama, yakni untuk membawa barang-barang bawaan yang digunakan selama berada di Bali nanti. Baik koper atau ransel, keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya sendiri masih bingung menggunakan yang mana. 

Perjalanan saya ke Bali kurang lebih 10 hari. Kegiatan pelatihannya 5 hari, jalan-jalan dan wisatanya 3 hari dan sisanya dihabiskan untuk perjalanan berangkat dan pulang. Ini merupakan kepergian terlama yang saya lakukan di luar propinsi Jawa Timur. Biasanya hanya bepergian paling lama 5 hari. Oleh karena itu barang bawaan saya pasti banyak. (Baca juga : Perjalanan Ziarah Wali di 4 Propinsi

Jika Membawa Koper

Jika membawa koper saya mungkin merasa lebih nyaman dan bisa membawa banyak barang. Koper yang bisa digeret ke mana-mana tentunya membuat perjalanan lebih cepat, mudah dan ringan karena tak perlu memanggul atau mengangkatnya seperti ransel. Baju dan barang lain juga gak bakal kusut atau bergeser. Kondisi badan jadi tidak terlalu capek. 

Namun yang menjadi kendala adalah ternyata panitia pelatihan sudah menginformasikan bahwa tempat pelatihannya terletak di dataran yang tidak rata. Para peserta dianjurkan untuk tidak membawa koper karena tidak bisa digeret di lokasi pelatihan. Ini tentu menjadi dilema tersendiri bagi saya. 

Jika membawa koper, nantinya saya juga kesulitan saat perjalanan dari rumah ke bandara. Rumah saya berada di desa sementara bandaranya ada di Kota Surabaya. Untuk pergi kesana harus naik motor dan juga naik turun bis 2 kali. Koper akan terasa menyusahkan jika dibawa turun naik tangga dan naik bus umum. Perlu space lebih untuk menaruhnya dan tidak cocok dibawa jika bis dalam keadaan penuh penumpang. 

Baca juga : Perjalanan Lamongan ke Surabaya
Kalau mau carter dari rumah ke Bandara Surabaya saya gak sanggup karena biayanya pasti mahal. Panitia pelatihan hanya menanggung biaya dari bandara Surabaya sampai ke lokasi. Untuk transportasi dari rumah ke bandara ditanggung sendiri. 

Jika Membawa Ransel

Jika membawa Ransel, permasalahan membawa koper teratasi. Bepergian dengan ransel lebih memudahkan perjalanan. Saya bisa leluasa naik turun bis, dan melakukan perjalanan di medan apapun. 

Namun lagi-lagi yang bikin bimbang adalah barang yang saya bawa teramat banyak. Panitia pelatihan sudah bikin list panjang barang bawaan yang harus dibawa. Itupun belum termasuk keperluan pribadi dan perlengkapan jalan-jalan. Dengan barang bawaan sebanyak itu, tak terbayang beratnya ransel yang harus ditanggung oleh bahu. 10 hari membawa ransel di bahu, bukan senang yang didapat, tapi malah pegal pegal di seluruh badan. 

Bawa ransel juga kurang praktis, mesti bongkar-bongkar sampai ke bawah jika membutuhkan sesuatu. Saya orangnya tipe grusa grusu dan gak bisa rapi. Di dalam ransel Baju dan pakaian jadi mudah kusut. Sandal dan sepatu sebagai perlengkapan pendukung juga tidak cocok dimasukkan ke dalam ransel. 

Para pembaca mungkin bisa memberi masukan, enaknya saya menggunakan koper atau ransel. Jujur saya masih bingung dan dilema memilihnya. Ditunggu saran dan masukannya di kolom komentar. 
#ODOPOKT3 

4 Comments

Silahkan tinggalkan komentar, saran atau pertanyaan di bawah ini

error: Content is protected !!