MAKNA TERSIRAT DARI KUPAT DAN LEPET, MAKANAN KHAS LEBARAN

Melanjutkan postingan sebelumnya mengenai tradisi kupatan saat Lebaran, disini saya ingin membahas makna tersirat dari kupat dan lepet yang merupakan makanan khas lebaran. Pada hakekatnya tradisi kupatan ini adalah benar – benar hanya tradisi saja dan bukan hukum atau syariat dalam agama Islam. Tradisi membuat dan makan kupat lepet bisa dikatakan sebagai pengingat kalau Idul Fitri baru sepekan berlalu dan juga sebagai kesempatan untuk berbagi bersama.

Makna tersirat dari kupat dan lepet
Kupat dan lepet, makanan khas lebaran

Kupat dan lepet adalah dua hidangan /makanan yang berbeda, namun selalu di sandingkan dalam acara yang sama yakni acara Kupatan. Ketupat atau tradisi Jawa-nya disebut kupatan mempunyai makna dan filosofi mendalam. Tradisi kupatan berangkat dari upaya – upaya Walisongo memasukkan ajaran Islam pada kebiasaan/tradisi masyarakat Jawa dimasa lalu.

Baca juga : Tradisi dan Budaya Era Reformasi

Zaman dulu orang Jawa selalu menggunakan simbol – simbol tertentu untuk mengungkapkan sebuah niat dan usaha, akhirnya para Walisongo memanfaatkan cara tersebut dan mempopulerkan lepet kupat. Kupat dan lepet sama-sama terbuat dari Janur (daun kelapa muda) namun isi dan cara penyajiannya berbeda.

Kupat terbuat dari Janur yang dirangkai/dianyam sedemikian rupa serta berbentuk segi empat dan segi lima. Didalamnya diisi dengan beras. Sedangkan lepet terbuat dari janur yang digulung utuh (tanpa dianyam). Isinya adalah campuran ketan dan parutan kelapa. Kadangkala ada yang ditambah kacang sebagai penikmat rasa.

Pembuatan kupat dan lepet memakan waktu lama. Mulai dari saat menganyam janur untuk kupat, mengisi beras dan memasaknya. Memasaknya sendiri membutuhkan waktu kira-kira enam jam 4 sampai 5 jam. Beras yang dimasukkan ke dalam kupat tidak boleh penuh, namun cukup sepertiganya saja. Dalam proses memasak (menanak kupat) nanti, beras didalamnya akan mengembang dan memenuhi seluruh isi kupat. Isi kupat menjadi mirip seperti lontong.

Makna tersirat dari kupat dan lepet
Lepet dari ketan dan kelapa yang diikat tali

Sedangkan lepet yang terbuat dari campuran ketan dan parutan kelapa harus diisi penuh dan dibentuk memanjang seperti guling. Agar isi tidak keluar dan terbentuk sempurna, lepet diikat dengan tali dibagian luarnya. Berbeda dengan kupat, waktu memasak lepet hanya butuh waktu sekitar 2 jam saja.

Menurut tradisi, kupat dan lepet harus terbuat dari janur atau daun kelapa yang masih muda berwarna kuning. Kenapa mesti dibungkus dengan janur?. Karena dalam falsafah, janur sejatinya adalah nur yang berarti cahaya sejati. Di balik penyebutan nama kupat lepet juga mengandung makna tersendiri. Keduanya merupakan nama makanan yang mempunyai makna tawadu (rendah diri).

Makna tersirat dari kupat yang berbentuk segi empat/segi lima merupakan hati manusia. Hati yang dipenuhi cahaya sejati. Pada saat kupat dibelah, isinya yang putih bersih bagaikan hati tanpa iri dan dengki langsung tersingkap. Kupat artinya ngaku lepat, kula ingkang lepat. (artinya Akulah yang berbuat kesalahan). Kupat-lepet adalah simbol pengakuan dosa yang dimiliki oleh manusia. Ini sama halnya dengan kata “kudus” yang berarti “aku dosa”. Sedangkan lepet maksudnya mangga dipun silep ingkang rapet atau mari kita kubur yang rapat.

Lepet yang terbuat dari ketan dan kelapa itu diberi tali yang melingkar di bagian luar. Tali identik dengan persaudaraan, semakin erat ikatannya semakin erat pula persaudaraannnya. Jadi makna tersirat dari kupat dan lepet adalah setelah mengakui kesalahan kemudian minta maaf saling mengubur kesalahan dan dengan hati bersih bersinar mempererat tali persaudaraan.

Baca juga :Dibalik Setahun Akun Instagramku

Mungkin orang jawa dahulu merasa kurang cukup jika penebusan dosa hanya dengan bersalaman. Lalu dibuatlah simbol makanan kupat-lepet agar mereka tidak lupa dengan kesucian makna Idul Fitri dan saling bersilaturrahmi. Kupat dan lepet memang tidak ada pada jaman Rosulullah. Kupat dan lepet adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa yang dikembangkan oleh wali penyebar Agama Islam.

Baca juga : Ziarah Walisongo di 4 Propinsi

Pembuatan kupat dan lepet sebenarnya tidak hanya dilakukan saat lebaran saja, namun pada saat-saat melaksanakan upacara tertentu juga dilakukan. Namun ini sebatas hanya pada masyarakat tertentu yang melestarikan budaya leluhur nya. Saat mendirikan rumah, pindah rumah ataupun upacara pernikahan mereka juga membuat kupat dan lepet. Makna tersirat didalamnya juga sama yaitu mengaku salah minta maaf dan mengajak untuk memendam yang rapat kesalahan yang sudah terjadi setelah saling memaafkan serta meningkatkan silaturahmi.

Itulah sekilas pembahasan tentang makna tersirat dari kupat dan lepet, makanan khas lebaran. Jika ada tambahan, pertanyaan atau sanggahan bisa ditulis di kolom komentar.

10 Comments

Silahkan tinggalkan komentar, saran atau pertanyaan di bawah ini

error: Content is protected !!