PELAJARAN BERHARGA DARI IDUL ADHA DAN HEWAN KURBAN 

ALHAMDULILLAH, kita baru saja merayakan hari raya idul Adha dan melaksanakan ibadah kurban. Idul adha adalah momen hari raya umat Islam yang diperingati tiap tanggal 10 Dzulhijjah. Didalam ibadah kurban yang mengiringi pelaksanaan Hari Raya Idul Adha selalu menyimpan banyak pelajaran berharga bagi kaum Muslimin di manapun berada. Hikmahnya takkan pernah hilang dimakan rentang waktu dan zaman.

Idul Adha dan Kurban

Pada hari Raya Idul Adha, kita tidak hanya sekedar beribadah dan menyembelih hewan kurban, namun lebih dari pada itu, Idul Adha dan kurban memberikan makna dan hikmah yang mendalam dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai pengorbanan yang diangkat dari sejarah dan kisah nabi Ibrahim serta anaknya Ismail menjadi sebuah pelajaran berharga bagi seluruh umat Islam di dunia. 

Baca juga : Sejarah Adanya Perpustakaan Di Dunia

Idul Adha dan kurban tidak hanya sekedar tradisi dan juga tuntutan ibadah. Dibalik semua itu ada banyak hikmah yang bisa dijadikan pelajaran penting dan berharga. Meski Hari Raya Idul Adha sudah meninggalkan kita dan baru setahun lagi akan bertemu dengannya lagi, namun pelajaran dan hikmah didalamnya selalu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari. 

Berikut ini adalah beberapa pelajaran berharga dari Idul Adha dan hewan kurban yang bisa kita renungkan. 

Keimanan Dan Ketakwaan

Pelajaran pertama dari Idul Adha adalah mengenai Keimanan dan Ketakwaan. Qurban yang secara bahasa berasal dari kata: qaraba–yaqrobu–qurbaanan, artinya adalah “dekat”,. Dekat disini dimaksudkan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara mendekatkan diri kepada sesama manusia melalui ibadah qurban.

Seperti yang telah diketahui bersama bahwasanya perintah berkurban tersebut adalah perintah untuk mengikuti jejak Nabi Ibrahim tatkala diperintah menyembelih putranya Ismail. Nabi Ibrahim telah membuktikan rasa keimanan dan ketakwaannya dengan melaksanakan perintah tersebut. Nabi Ibrahim rela mengorbankan harta yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu anaknya Ismail, semata-mata karena ketaatan dan keimanan yang tinggi kepada Allah.

Bagi setiap orang di masa kini, keimanan dan ketakwaan yang kuat seperti Nabi Ibrahim tidak akan ada yang mampu menyamainya. Kita hanya diperintah untuk menyembelih hewan kurban seperti sapi, kambing dan unta. Tidak diperintahkan untuk menyembelih anak atau putra. 
Perintah berkurban saat Idul Adha hanyalah sedikit ujian untuk ketakwaan dan keimanan kita. Mampukah kita melaksanakannya dengan ikhlas hanya semata mengharap ridho Allah SWT. Tanpa rasa pamer dan bangga ingin dipuji sesama manusia. 


Kisah dan Sejarah Nabi Ibrahim

Perjalanan Nabi Ibrahim dalam mencari dan mengikuti kebenaran tidaklah mudah. Ada berbagai macam ujian yang harus dihadapi secara bertubi-tubi. Mulai dari kisah saat muda, beranjak dewasa hingga menjadi seorang Bapak. 

Dalam proses pencarian Tuhan saat usia muda, Nabi Ibrahim menghadapi pertentangan masyarakat umum yang akhirnya harus berhadapan dengan Raja Namrud dan menerima hukuman dibakar hidup hidup. Saat Dewasa dan berkeluarga, Nabi Ibrahim diuji disuruh meninggalkan anak yang masih bayi dan istri di padang pasir hingga ujian perintah menyembelih putra kesayangan beliau Ismail. 

Dalam menghadapi itu semua, Nabi Ibrahim tidak pernah ada kata mengeluh, tidak pernah ada penyesalan dan tidak ada rasa putus asa. Beliau menerima dengan ikhlas, sabar penuh tawakal mengharap pahala dan ridho Allah SWT. Tidak sekalipun ada di benak beliau pikiran sudah punya banyak amal, sudah banyak perjuangan dan dakwah sehingga dapat hidup berleha-leha tanpa perlu ada beban dan ujian. Semua dihadapi dengan tanpa rasa pamrih. 

Walaupun berat dan banyak, pada Akhirnya semua ujian dan cobaan Nabi Ibrahim dapat dilalui dan lulus khusnul khotimah. Hal inilah yang membuat nama beliau selalu disebut dalam bacaan tahiyat sebagai ibroh dalam hidup kita. Lalu bagaimana dengan saya, anda dan kita semua? 

Baca juga : Kantin Kejujuran Sebagai Pembelajaran Anti Korupsi

Pelajaran kedua tentang Idul Adha dan Kurban adalah mengambil hikmah dari kisah dan sejarah Nabi Ibrahim. Sudah seberapa banyak, seberapa rumit dan seberapa berat ujian yang kita terima dalam mengikuti kebenaran Islam? Mampukah kita lulus hingga finish husnul khotimah seperti Nabi Ibrahim? Dapatkah kita mengklaim sebagai orang yang beriman dan bertakwa padahal belum ada ujian yang kita terima. Ini yang harus menjadi renungan kita bersama.

Mencermati Perbedaan Hewan dan Manusia

Manusia dilengkapi akal dan pikiran. Akal sehat manusia bisa membedakan mana yang bermanfaat atau tidak. Mana yang baik atau buruk. Merugikan orang lain atau bukan. Sedangkan hewan hanya punya naluri saja, tanpa bisa melakukan hal hal yang dilakukan manusia. Disinilah letak perbedaan antara Manusia dan hewan. 

Hewan kurban

Setiap manusia yang hidup, pastinya akan mati. Datangnya malaikat pencabut nyawa tidak pernah dapat diduga sebelumnya. Bisa saat ini, besok atau nanti tinggal menunggu datangnya saja. Kebenaran tentang adanya kematian sudah diketahui oleh kita semua. Dalam proses menunggu kematian tersebut, tidak selayaknya kita enak-enakan dan hura hura seolah-olah tidak akan terjadi apa apa. Kita harus bisa mempersiapkan segalanya, dengan menebar kebaikan, menambah ketakwaan dan keimanan serta lebih khusu’ dalam beribadah. 

Namanya hewan, pasti tidak punya akal dan pikiran. Saat hewan tersebut akan disembelih, dia masih makan dengan rakusnya, masih seruduk sana seruduk sini tanpa sedikit pun rasa takut dan cemas. Padahal hewan tersebut sudah melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri, satu demi satu temannya disembelih. Diapun akan mengalami peristiwa yang sama. Namun dalam proses menunggu, dia tetap enak dan enjoy seolah tidak ada apa-apa. Pasca disembelih dan mati, hewan sudah tidak punya urusan apa-apa. Kita sebagai manusia tentunya tidak boleh sama dengan hewan tersebut. 

Manusia bukanlah seperti hewan yang setelah kematiannya tidak ada urusan apa-apa. Pasca kematiannya, manusia masih harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan di alam kubur, menghadapi timbangan amal dan juga harus melewati jembatan shirothol mustakim. Jika hasilnya baik, surgalah tempatnya, namun jika nilainya buruk dapat dipastikan siksa neraka yang pedih siap melahapnya. Oleh karena itu marilah dipersiapkan dengan sebaik baiknya. 

Baca juga : Filosofi Kehidupan Dunia Akhirat Dari Buah Pepaya

Demikian pelajaran dari idul adha dan hewan kurban yang bisa saya tuliskan. Tulisan ini adalah inti sari dari khutbah Idul Adha yang saya ikuti. Jika ada kekurangan mohon untuk dikoreksi dan ditambahkan. Saya tunggu saran, kritik dan masukan di kolom komentar. 

2 Comments

Silahkan tinggalkan komentar, saran atau pertanyaan di bawah ini

error: Content is protected !!