Petualangan di Bali Hari Kesembilan

Postingan Hari kesembilan ini bisa dibilang hari terakhir petualangan saya di Bali. Setelah di hari pertama hingga hari kedelapan disibukkan dengan berbagai agenda yang sudah disusun oleh pihak pengundang, khusus Petualangan di Bali hari kesembilan ini adalah waktunya untuk diri sendiri. Di hari Kesembilan, saya gunakan untuk sowan dan berkunjung ke Yayasan Pondok Pesantren SPMAA Denpasar Bali.

image

Berdasarkan jadwal, kepulangan saya harusnya di hari Minggu tanggal 22 Oktober 2017, namun saya minta diundur sehari. Tiket pesawat untuk pulang jadinya diboking di hari senin pagi 23 Oktober. Sebelumnya saya sudah ngomporin mbak Wiwik buat ikutan memundurkan jadwal dan ikut bersama saya. Mbak Wiwiknya bersedia, jadinya tidak merasa sendirian.

Mbak Qisthi sendiri sudah punya acara sendiri bersama keluarga sehingga di sabtu malam setelah dari Tanah Lot, Mbak Qisthi pamit meninggalkan Penginapan Eco-Lodge bersama anak dan suaminya. (Baca : Petualangan di Bali Hari Kedelapan).

Pada Minggu pagi (22 Oktober 2017) sekitar pukul 7.00 WITA, saya bersama Mbak Wiwik sudah berkemas-kemas meninggalkan Eco-Lodge markas Green Books. Aplikasi Gojek menjadi alternatif yang dipilih untuk pergi ke Ponpes SPMAA. Setelah drivernya datang, kamipun bergegas untuk pamitan pada tuan rumah. Mr.Petr sebelumnya sudah menawarkan untuk menginap sehari lagi dirumahnya, tapi kami menolaknya karena ingin menikmati suasana yang berbeda. Tidak hanya berkumpul dengan bule-bule saja. Lagian saya juga ingin segera menikmati suasana Ponpes di Bali.

Perjalanan dari Canggu, Badung Bali menuju Desa Pemecutan Kelod, Kecamatan Denpasar Barat lokasi SPMAA Denpasar Bali lumayan lancar. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Sebelumnya dalam Petualangan di Bali Hari Kedua saya pernah kesini jadinya sudah familiar dan tau ancer-ancernya.

Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) Bali adalah salah satu Yayasan yang masih dalam satu lingkup dengan Yayasan SPMAA Lamongan. SPMAA Denpasar Bali dibawah asuhan Gus Glory Islamic. Ruang lingkup kegiatannya selain Pondok Pesantren juga ada sekolah PAUD, TK dan juga Madrasah Ibtidaiyah (sekolah setingkat SD). Nama sekolahnya “Rare Muchtary”.

image

Murid-murid dari Sekolah Yayasan SPMAA Bali, baik PAUD, TK maupun MI Rare Muchtary selain beragama Islam, ada juga yang beragama Hindu, Kristen dan Katholik. Meskipun berbasis Islam, namun sekolah di Rare Muchtary terutama yang PAUD dan TK tidak dibatasi sekat Suku, Agama, Ras dan Antargolongan. Toleransi bermasyarakat dan nilai-nilai Pancasila benar-benar diterapkan disini. Bukan hanya sekedar teori, namun langsung pada implementasi sehari-hari.

Untuk TK dan PAUDnya sudah berdiri hampir 5 tahun dan sudah meluluskan banyak sekali murid. Karena banyaknya murid yang mendaftar, kegiatan belajar mengajar sampai terbagi menjadi 2 shift, pagi dan siang. Masing masing kelas berisi 20 sd 30 murid. Untuk sekolah MI baru 4 tahun berdiri dan kelas tertinggi adalah kelas 4.

image

Saat ini Yayasan SPMAA Denpasar Bali sedang proses membangun gedung baru. Gedung tersebut terdiri 4 lantai, rencananya nanti selain digunakan untuk Gedung sekolah juga dibuat untuk masjid. Saya sempat diajak kesini untuk melihat-lihat dan masuk kegedungnya. Kelihatannya sangat megah dan modern. Semoga kedepannya makin lancar dan cepat selesai pembangunannya agar bisa memberi kontribusi positif pada perkembangan Islam di Bali.

Berada di Komplek Yayasan SPMAA Denpasar Bali bagai berada di rumah sendiri. Setelah sebelumnya berkumpul dan bersama dengan orang-orang dari berbagai dunia dan menggunakan bahasa yang berbeda dan kebanyakan tidak saya mengerti, disini saya kembali ke habitat asal. Saya kembali bisa menggunakan Bahasa jawa sebagai bahasa komunikasi. Suara Adzan juga menjadi musik yang merdu dan dapat didengar 5 waktu. Ibadah sholat lebih khusu’ dan selalu tepat waktu.

Karena tidak ada rencana kemana-mana, di hari minggu tersebut saya hanya berada di tempat ini. Bercengkrama dan berbaur dengan santri yang ada disini. Sebagian memang sudah ada yang saya kenal jadinya akrab. Sempat keluar sebentar sih untuk membeli oleh-oleh khas Bali untuk orang rumah, namun tidak lebih dari setengah jam. Setelah itu kembali lagi kesini.

Ditempat ini saya tidak sempat bertemu dengan Gus Glory pengasuh sekaligus pemimpin Yayasan SPMAA Denpasar Bali karena beliaunya sedang ke Jawa. Namun ada istrinya Bu Rida yang menjamu kami dengan baik. Bu Rida banyak bercerita tentang PAUD dan RA Rare Muchtary yang dikelolanya kepada saya dan Mbak Wiwik. Bu Rida merupakan guru saya waktu di Madrasah Aliyah dulu jadinya tidak ada kecanggungan sama sekali saat bercengkrama. (baca : 8 Momen Berkesan saat Aliyah)

image

Mbak Wiwik yang baru pertama kali kenal dan mengetahui tentang Yayasan SPMAA Denpasar Bali merasa sangat berkesan dengan program-program yang ada disini. Dianya merasa senang bisa saya ajak kesini dan mengetahui kehidupan yang berbeda di Bali. Mbak Wiwik sempat berfoto dengan anak-anak kecil yang tinggal di tempat ini sebagai kenang-kenangan.

Demikianlah cerita petualangan di Bali hari kesembilan yang saya lalui. Ini adalah cerita terakhir tentang petualangan di Bali bulan Oktober lalu. Di hari kesepuluh, saat pagi pagi buta saya sudah meluncur ke Bandara untuk chek in dan pulang kembali ke Surabaya. Saya berharap semoga suatu saat bisa kembali lagi ke Bali dan menceritakan petualangan-petualangan lainnya yang berbeda dan lain daripada yang lain.

5 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!