Susahnya Menggunakan Flazz Card Untuk Berbelanja di Desa

Sekitar bulan Februari yang lalu, saya mendapatkan hadiah undian dari sebuah situs survei online. Hadiah tersebut berupa flazz card BCA yang berisi saldo 500 ribu rupiah. Flazz card adalah salah satu produk keuangan modern yang berupa kartu dan bisa digunakan untuk berbelanja di Merchant tertentu, membayar tol dan pembayaran tiket transportasi publik seperti bus (TransJakarta, TransJogja) serta kereta api (Commuter Line Jabodetabek). Kartu tersebut dapat diisi dengan nominal tertentu sesuai keinginan. 

Yang namanya hadiah, siapapun pasti suka dan dengan senang hati menerimanya. Begitu pula dengan saya. Bayangan saya, flazz card tersebut nantinya dapat saya gunakan untuk berbelanja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walaupun tidak bisa digunakan di pasar tradisional seperti pasar Wage atau warung, namun kartu tersebut bisa digunakan di Alfamart atau Indomaret. Saya tidak punya kendaraan pribadi, jadinya tidak pernah bayar tol. 

Berdasarkan informasi yang saya peroleh, Flazz Card hanya bisa digunakan untuk berbelanja / membeli barang barang di Merchant yang telah bekerjasama dengan Bank yang bersangkutan, misalnya Solaria, Carrefour, Indomaret, Giant, Alfamart, dan lain sebagainya. Saldo dalam kartu ini tidak dapat diuangkan seperti halnya atm.

Saat pertama kali memegang kartu flazz ini, keinginan untuk menggunakannya langsung menyeruak. Saya sendiri juga penasaran, karena belum pernah menggunakan kartu seperti ini untuk berbelanja. Kebetulan ada beberapa barang yang ingin dibeli jadinya langsung cascus berangkat ke minimarket terdekat.

Tujuan pertama adalah di Alfamart yang terletak di desa sebelah. Meskipun sudah membawa flazz card, saya tetap membawa uang tunai untuk berjaga-jaga. Kali aja ada trobel atau sesuatu yang lain. 

Sesampainya di Alfamart, saya langsung menuju ke kasir untuk menanyakan apakah bisa menerima flazz card sebagai alat pembayaran. Sang kasir langsung menjawab kalau tidak bisa. Alatnya belum ada. 

Mendengar jawaban kasir tersebut saya maklum. Alfamart yang saya datangi letaknya memang di jalan penghubung antar desa. Meskipun bukan termasuk daerah yang pelosok, namun penggunaan uang elektronik berbasis kartu di desa belum dikenal. Kalau mau belanja biasanya memakai uang tunai, kalaupun nanti kurang bisa mengambil di atm yang terletak di dalam minimarket. 

Saya akhirnya tetap belanja di Alfamart tersebut dengan menggunakan uang tunai. Flazz Card saya simpan lagi dan rencananya akan saya gunakan di minimarket lain yang letaknya berada di jalan antar Kecamatan atau antar Kabupaten. Mungkin di tempat yang lebih ramai, ada alat untuk pembayaran flazz Card tersebut. 

Baca juga : Investasi Dengan Reksadana

Di hari yang lain, sayapun pergi ke minimarket untuk belanja. Kali ini perginya ke Indomaret yang letaknya berada di dekat Kantor Kecamatan. Seperti yang saya lakukan sebelumnya, sayapun langsung ke kasir untuk menanyakan apakah bisa membayar dengan flazz card. Namun lagi – lagi jawabannya sama. Di Indomaret tersebut belum bisa. 

Di Kabupaten tempat tinggal saya, Mercant belanja modern hanyalah Alfamart dan Indomaret. Mercant lain belum ada. Dulu pernah ada Matahari dan Ramayana, tapi sekarang sudah gulung tikar. 

Meskipun di Indomaret maupun Alfamart yang saya datangi sudah mengatakan tidak bisa menerima Flazz Card sebagai alat pembayaran, namun saya tidak patah arang. Setiap ada kesempatan untuk berhenti di Alfamart atau Indomaret saya selalu menanyakan ke kasir bisa tidaknya menerima flazz card sebagai alat pembayaran. Di samping ingin menghabiskan saldo di dalam flazz card, saya juga penasaran dengan kartu ini. Bagaimana cara kerjanya dan dimana bisa menggunakan Flazz Card ini jika di desa. 

Hampir semua kasir Alfamart dan Indomaret yang saya datangi menyatakan kalau tempatnya tidak bisa menerima flazz card sebagai alat pembayaran. Ini mungkin jadi Peer buat pihak-pihak terkait. Ternyata kecanggihan teknologi perbankan belum menyentuh  daerah-daerah pedesaan. 
Pernah saya masuk ke Indomaret yang letaknya berada di jalan Raya Babat – Surabaya yang cukup ramai. Disana saya menanyakan bisa tidaknya menerima flazz card sebagai alat pembayaran. Sang Kasir menjawab bisa. Hati saya langsung sumringah dan sayapun mengambil banyak barang untuk dibeli. 

Setelah menyerahkan flazz card ke kasir, sayapun menunggu sambil merencanakan akan datang lagi ke Indomaret ini di lain kesempatan. Sekian lama menunggu, ternyata hasilnya tidak sesuai keinginan. Kasir kesulitan dalam pengoperasian alatnya dan memanggil rekannya yang lain. Dari rekan kasir inilah baru diketahui kalau ternyata alat yang ada bukan dari Bank yang mengeluarkan kartu flazz ini, tapi dari bank yang lain. Otomatis kartu tidak diterima dan pembayaran tidak bisa dilakukan. 

Berhubung waktu itu saya tidak membawa uang tunai yang cukup, barang belanjaan yang udah di Kasir saya balikkan ke rak. Saya hanya mengambil barang sesuai budget yang saya bawa. Tengsin memang, tapi kesalahan bukan sepenuhnya pada saya. Kasir juga ikut berperan didalamnya. 

Setelah kejadian tersebut saya kapok dan tidak berminat lagi menggunakan Flazz Card di Alfamart maupun Indomaret. Hal yang patut dimengerti adalah meskipun zaman sudah canggih, namun belum tentu semua orang mengerti tentang kecanggihan teknologi tersebut. Alat pembayaran modern belum bisa diterima di tempat perbelanjaan modern, terutama jika tempatnya tersebut berada di desa. 

Menggunakan Flazz Card
Pengoperasian Flazz Card oleh kasir Carrefour

Kesempatan berbelanja menggunakan Flazz Card saya peroleh ketika berada di Carrefour BG Junction Surabaya. Saat itu saya sedang mengikuti sebuah acara disana dan seusai acara saya jalan jalan serta iseng bertanya pada Kasir Carrefour apa bisa menggunakan Flazz Card. Mbak kasirnya jawab bisa, namun diantara  10 Kasir yang berjajar, mbaknya bilang hanya satu kasir saja yang bisa. 

Meskipun tidak ada keinginan maupun kebutuhan untuk belanja, saya tetap memilih dan membeli beberapa barang di Carrefour tersebut sekedar menuntaskan rasa penasaran. Saya pengen tahu bagaimana cara kerja kartu tersebut dan pengoperasiannya. Apa kartu saya tersebut benar-benar ada isinya, bagaimana sesudahnya dll. Maklum saya orang desa yang tidak pernah menggunakannya, jadi rasa penasaran pasti ada. 

Saat mbak kasirnya mengambil flazz card dari tangan saya, saya langsung menyiapkan kamera untuk mengabadikannya. Saya yakin hal ini pasti berguna suatu saat nanti sehingga saya tidak mau melewatkannya. Berdasarkan pengamatan saya, ternyata untuk proses pembayaran belanja dengan flazz card dibutuhkan 2 alat yakni reader dan juga mesin EDC. Kedua alat ini harus sinkron dan menyala. Setelah dipencet pencet mbak kasirnya, proses pembayaran selesai dan saya akhirnya bisa menggunakannya. 

Itulah pengalaman susahnya menggunakan Flazz Card di desa yang saya alami. Berhubung di Jawa Timur belum ada sistem transportasi menggunakan pembayaran flazz card, saya hanya berharap bisa menggunakan flazz card dalam berbelanja. 

Pengalaman saya ini tentu tidak bisa dijadikan patokan penggunaan flazz card di desa karena bisa saja sistem minimarket di desa-desa berubah seiring kebutuhan banyak orang. Postingan ini sekedar sharing saja. 

#ODOPOKT4

8 Comments

Silahkan tinggalkan komentar, saran atau pertanyaan di bawah ini

error: Content is protected !!