STOP KONSUMSI ANTIBIOTIK UNTUK SEMUA PENYAKIT!

Dikit-dikit jangan minum obat. Dikit-dikit jangan konsumsi Antibiotik, karena tidak semua penyakit bisa diobati dengan antibiotik. Demikianlah pesan utama yang disampaikan dalam Seminar Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia 2019 yang diselenggarakan di RSUD Dr Soetomo pada tanggal 30 November 2019. Seminar yang diselenggarakan di Gedung Pusat Diagnostik Terpadu (GPDT) lantai 7 tersebut merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan peringatan Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia.

Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia diperingati pada 18-24 November 2019 atau pada minggu ketiga bulan November. Peserta seminar Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia di RSUD Dr Soetomo terdiri dari para pelaku kesehatan dan juga masyarakat umum. Diantaranya yang hadir  ada para dokter dan tenaga kesehatan RSUD Dr Soetomo, kader kesehatan seluruh puskesmas Kota Surabaya, perwakilan beberapa sekolah, universitas, tokoh masyarakat Surabaya dan tak ketinggalan ada para blogger kesehatan.

Kegiatan seminar dibuka secara resmi oleh Direktur utama RSUD Dr Soetomo : Dr. Joni Wahyuhadi dr.,SpBS K. Pada sambutannya Pak Direktur menyampaikan berbagai pemahaman baru serta informasi terkait Antibiotik dan resisten. Menurutnya, saat ini ancaman bakteri resisten menjadi masalah kesehatan terbesar yg dihadapi para ahli kesehatan dunia. Bakteri resisten salah satunya disebabkan karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat.

Karena besarnya bahaya bakteri resisten yang disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan penyakit ini, WHO dan instansi kesehatan di RSUD Dr Soetomo menghimbau pada masyarakat supaya tidak selalu menggunakan antibiotik dalam upaya pengobatan. Himbauan ini disebarluaskan dengan berbagai cara. Diantaranya dengan membentuk tim Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba, mengadakan kompetisi kreatif antar unit/bagian RSUD Dr Soetomo, mengadakan pelatihan, seminar dan lain sebagainya.

Dr. Hari Parathon, dr., Sp. OG (K) sebagai ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) pada seminar tersebut menyatakan bahwa munculnya bakteri resisten yang berkembang saat ini membuat pihak RSUD Dr. Soetomo serius mengontrol penggunaan antibiotik. Beliau berpesan kepada seluruh lapisan masyarakat terutama pada para peserta seminar supaya bijak menggunakan antibiotik. Jangan sembrono konsumsi antibiotik untuk mengobati segala penyakit.

Hubungan Antibiotik dan Resistensi ?

Antibiotik merupakan salah satu jenis obat atau bahan kimia yang gunanya dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan bakteri. Antibiotik bisa berupa kapsul, kaplet, tablet, sirup, supposituria dan juga injeksi. Antibiotik pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming tahun 1928, dan baru diproduksi tahun 1940-an.

Karena biaya penelitian yang mahal, dan ketika diproduksi dan dipasarkan sudah tidak lagi manjur mematikan bakteri, sejak tahun 1980 penemuan antibiotik baru sudah sangat sedikit. Oleh karena itu sejak 30 tahun terakhir sudah tidak ada antibiotik yg benar benar baru. Antibiotik yang beredar saat ini masih banyak yang produksi lama, padahal musuh dari antibiotik itu sendiri yakni bakteri terus memperbarui diri.

Konsumsi antibiotik

Saat ini di seluruh dunia telah berkembang sebuah bakteri resisten yang diakibatkan penggunaan antibiotik yang terkendali. Bakteri ini dapat mengubah mekanisme pertahanan tubuhnya dalam menghadapi serangan antibiotik. Kemampuan bakteri untuk menahan, melawan, dan menghentikan efek membinasakan dari obat antibiotik disebut dengan nama resistensi.

Resistensi ini dapat dipercepat oleh penggunaan antibiotik yang tidak bijaksana seperti penggunaan secara berlebihan dan terus menerus. Dampak dari bakteri resisten sendiri adalah dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas tubuh. Dapat juga membuat komplikasi serta kegagalan operasi yang kompleks.

Bijak Konsumsi Antibiotik Untuk Kepentingan Kesehatan Diri

Dr. Dominicus Husada SpK (A), Kepala Staf Departemen Kesehatan Anak FK Unair/RSUD Dr Soetomo dalam pemaparan materinya di seminar Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia menyatakan bahwasanya beberapa penyakit yang dialami seseorang pada pengobatannya sebenarnya kebanyakan tidak memerlukan antibiotik. Hal itu dikarenakan virus didalam penyakit tersebut tidak bisa dimatikan oleh antibiotik.

Antibiotik hanya digunakan untuk penyakit karena bakteri. Kalau bukan karena bakteri, antibiotik tidak akan mempan. Oleh karena itu Dr Dominicus berpesan untuk bijaksana menggunakan antibiotik. Jika anak terkena penyakit panas, anak itu tidak bisa diobati dengan antibiotik karena obatnya adalah Paracetamol.

Baca juga : 5 Tanaman Herbal Untuk Pengobatan Kanker Serviks

Saat terkena penyakit panas, batuk pilek, campak jangan sesekali mengkonsumsi antibiotik tanpa resep dokter. Antibiotik digunakan jika diperlukan saja. Tidak bisa setiap hari atau terus menerus. Obat antibiotik juga tidak diperkenankan disimpan dalam jangka waktu lama, karena bisa jadi bahan yang terkandung dalam antibiotik bisa berubah diri dan justru membahayakan karena berbagai sebab.

Dr Dominicus juga telah mewanti-wanti supaya masyarakat jangan menggunakan Antibiotik yang sudah pernah di gunakan sebelumnya. Meskipun sebelumnya bisa sembuh dg antibiotik itu. Obat Antibiotik juga tidak boleh dipindah tangankan pada orang lain yang memiliki gejala penyakit yang sama. Karena bisa jadi kebutuhan orang berbeda-beda. Untuk konsumsi antibiotik tetap perlu resep dokter. Dalam memberikan antibiotik sendiri, para dokter juga tidak sembarangan. Ada tingkatan tertentu yang menjadi patokan dalam pemberian resepnya.

Dr Dominicus Husada dan Dr Arif Bachtiar dalam sesi tanya jawab seminar

Sementara itu Dr Arief Bachtiar, Kepala Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi RSUD Dr Soetomo pada seminar yang sama menyatakan, bahwasanya antibiotik di buat untuk membunuh bakteri jahat, bukan untuk membunuh virus apalagi jamur. Pada umumnya infeksi akibat virus justru dapat sembuh sendiri dengan pengobatan suortif saja. Virus itu bisa dibunuh oleh ketahanan tubuh kita, oleh karena itu ketahanan tubuh harus dijaga.

Baca juga : Rahasia Tubuh Tetap Sehat dan Bugar

Menjaga daya tahan tubuh secara umum juga merupakan upaya mencegah penyakit misalnya dengan konsumsi gizi seimbang, olahraga cukup, istirahat cukup dan tak lupa melakukan rekreasi. Dengan melakukan upaya pencegahan penularan penyakit, minimal kita sudah mengurangi beban pengobatan. Mulai sekarang stop konsumsi antibiotik untuk mengobati segala penyakit.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!