Kegiatan dan Pendampingan Literasi Relima di Kota Surabaya

Sebagai bagian dari Relawan Literasi Masyarakat (Relima) di bawah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Alhamdulillah saya memiliki kesempatan untuk terlibat secara langsung dalam berbagai kegiatan literasi di Surabaya sepanjang tahun 2025. Keterlibatan ini tidak hanya memberikan pengalaman dalam pelaksanaan program, tetapi juga memperluas pemahaman saya mengenai kondisi nyata ekosistem literasi di masyarakat, khususnya di Surabaya.

Selama menjalankan peran sebagai Relima, saya berfokus pada kegiatan literasi berbasis komunitas, khususnya melalui Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan juga Perpustakaan di Kota Surabaya. Salah satu kegiatan yang secara konsisten saya lakukan adalah membaca nyaring (read aloud) di berbagai TBM. Kegiatan ini saya inisiasi sebagai upaya sederhana untuk menumbuhkan minat baca anak-anak melalui pendekatan yang lebih interaktif dan menyenangkan. Dalam pelaksanaannya, saya tidak hanya membacakan buku, tetapi juga mengajak anak-anak untuk terlibat dalam percakapan, memahami isi cerita, serta mengekspresikan pendapat mereka. Waktunya janjian dengan pengelola TBM setempat.

Di sela-sela kunjungan ke TBM sasaran, saya mengamati dan mencoba memahami karakteristik dari masing-masing TBM/Perpustakaan. Terkadang jika tidak memungkinkan untuk membaca bersama, saya ajak untuk bermain edukatif dengan menekankan pada literasi. Berbagai kegiatan dilakukan sesuai dengan kebiasaan di masing-masing TBM.

Pada beberapa kesempatan, saya juga terlibat dalam pendampingan event literasi tingkat kecamatan. Ini merupakan kegiatan kolaboratif antar TBM dan perpustakaan dalam satu wilayah kecamatan. Dalam kegiatan ini, saya berperan sebagai pendamping yang membantu jalannya kegiatan, sekaligus sebagai bagian dari proses penguatan jejaring literasi antar komunitas. Melalui kegiatan tersebut, saya dapat melihat secara langsung bagaimana masing-masing TBM memiliki karakteristik dan pendekatan yang berbeda dalam mengelola kegiatan literasi.

Dalam aspek kelembagaan, saya turut mendampingi beberapa TBM dalam proses pengurusan Nomor Pokok Perpustakaan (NPP). Pendampingan ini menjadi penting karena NPP merupakan identitas resmi yang mendukung pengakuan keberadaan TBM dalam sistem perpustakaan nasional. Saya membantu pengelola TBM dalam memahami alur administrasi serta memberikan pendampingan secara bertahap hingga proses pengajuan dapat dilakukan dan NPP berhasil didapatkan.

Relima Perpusnas Lokus Surabaya

Kegiatan lain yang saya lakukan adalah kunjungan ke perpustakaan pondok pesantren. Dalam kunjungan tersebut, saya melakukan koordinasi dengan pengurus, melihat secara langsung aktivitas pengelolaan perpustakaan, serta mengidentifikasi tingkat keaktifan layanan. Melalui kegiatan ini, saya memperoleh gambaran mengenai kondisi riil perpustakaan di lingkungan pesantren, sekaligus memahami tantangan yang dihadapi dalam pengelolaannya.

Saya juga aktif berkoordinasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya dalam mendukung kegiatan literasi di tingkat daerah. Salah satu bentuk keterlibatan saya adalah mendampingi kegiatan perpustakaan keliling di beberapa titik di Kota Surabaya. Kegiatan ini memberikan akses bacaan secara langsung kepada masyarakat, terutama di ruang publik.

Selain kegiatan berbasis lapangan, saya juga berupaya memperluas jangkauan literasi melalui media digital. Saya mengajak para penulis di platform Kompasiana untuk menuliskan tentang layanan Pojok Baca Digital (Pocadi). Melalui tulisan tersebut, diharapkan masyarakat dapat lebih mengenal keberadaan dan manfaat Pocadi sebagai salah satu layanan literasi berbasis teknologi. Inovasi menggandeng Penulis Kompasiana ini kemudian membawa saya menjadi salah satu relima Inspiratif dalam pertemuan Sebaya Relima di Bogor.

Di samping itu, saya juga mendokumentasikan sebagian kegiatan literasi yang saya lakukan melalui media sosial pribadi. Dokumentasi ini saya bagikan sebagai bentuk publikasi sederhana agar masyarakat luas dapat mengetahui bahwa kegiatan literasi di Kota Surabaya terus berjalan dan berkembang. Melalui media sosial, saya berharap dapat membangun kesadaran sekaligus mengajak lebih banyak pihak untuk turut terlibat atau setidaknya memahami pentingnya literasi dalam kehidupan sehari-hari.

Relima Kota Surabaya Jawa Timur

Dalam seluruh kegiatan tersebut, saya menjalankan berbagai peran, kadang sebagai inisiator, fasilitator, atau hanya sekedar pendamping. Tak jarang juga merangkap ketiganya. Saya tidak hanya terlibat dalam pelaksanaan kegiatan, tetapi juga dalam perencanaan, penguatan kapasitas pengelola, serta membangun komunikasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan literasi.

Dari berbagai kegiatan yang telah saya lakukan, terdapat beberapa capaian yang dapat saya rasakan secara langsung. Kegiatan membaca nyaring di TBM menunjukkan adanya peningkatan keterlibatan anak-anak dalam kegiatan literasi. Mereka mulai menunjukkan ketertarikan untuk hadir dan mengikuti kegiatan, meskipun dengan tingkat partisipasi yang beragam. Selain itu, pendampingan yang saya lakukan terhadap TBM dalam pengurusan NPP memberikan dampak pada meningkatnya pemahaman pengelola terhadap pentingnya aspek administrasi dalam pengelolaan perpustakaan.

Kegiatan kolaboratif di tingkat kecamatan juga memperkuat hubungan antar TBM dan perpustakaan, sehingga tercipta ruang berbagi dan saling mendukung dalam pelaksanaan program literasi. Sementara itu, keterlibatan dalam kegiatan perpustakaan keliling memberikan dampak dalam memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan. Publikasi melalui media digital, baik melalui tulisan di Kompasiana maupun unggahan di media sosial pribadi, turut membantu memperluas jangkauan informasi literasi kepada masyarakat.

Namun demikian, dalam pelaksanaan kegiatan literasi tersebut, saya juga menghadapi berbagai tantangan. Selain keterbatasan fasilitas dan keberagaman karakter masyarakat, terdapat pula kendala dalam pengelolaan TBM yang berkaitan dengan sistem kerja tenaga pengelola. Sebagian besar pengelola TBM merupakan tenaga kontrak dari pemerintah daerah yang tidak hanya bertugas di satu lokasi, melainkan harus menangani dua hingga tiga TBM sekaligus. Selain itu, mereka juga memiliki tugas tambahan di luar pengelolaan perpustakaan.

Kondisi tersebut berdampak pada belum optimalnya pelayanan di TBM, seperti keterbatasan jam operasional dan ketidakkonsistenan kehadiran petugas. Hal ini menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan kegiatan literasi, terutama dalam memastikan bahwa masyarakat dapat mengakses layanan secara rutin.

Dari kondisi tersebut, saya belajar bahwa penguatan literasi tidak dapat sepenuhnya bergantung pada sistem yang ada. Diperlukan peran aktif relawan dan komunitas untuk mengisi kekosongan yang terjadi, serta memastikan bahwa kegiatan literasi tetap berjalan meskipun dalam keterbatasan. Tantangan ini menjadi proses pembelajaran bagi saya untuk terus beradaptasi dan berinovasi dalam menghadirkan kegiatan literasi yang relevan dan berkelanjutan.

Sebagai refleksi, pengalaman menjadi Relima Surabaya memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem literasi. Saya menyadari bahwa literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga tentang membangun kebiasaan, menyediakan akses, serta menciptakan lingkungan yang mendukung proses belajar masyarakat.

Ke depan, saya berharap dapat terus berkontribusi dalam kegiatan literasi di Kota Surabaya, baik melalui pendampingan TBM, penguatan jejaring komunitas, maupun pemanfaatan media digital. Saya juga berharap kegiatan literasi yang telah dilakukan dapat terus berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Dengan komitmen yang berkelanjutan, saya meyakini bahwa upaya kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan kontribusi nyata dalam penguatan literasi masyarakat.

 

Munasya

Blogger, Writer and Teacher Contact Person : email : sy4r0h@gmail.com Twitter : @Munasyaroh_fadh IG. : @Muns_Fadh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke atas
error: Content is protected !!