Petualangan di Bali Hari Kelima

Green Edukator Course hari ke 3 menjadi hari yang padat dan penuh aktivitas. Kegiatan dimulai pukul 07.30 WITA hingga pukul 20.00 WITA. Ada sesi kunjungan ke sekolah juga. Hari ketiga Green Edukator Course ini sekaligus menjadi hari kelima petualangan saya di Bali.

Seperti biasa setelah aktivitas pribadi di lodge, saya dan peserta lainnya turun ke Peace Garden untuk sarapan. Menu sarapan pagi di hari Rabu itu berbeda dengan menu sarapan pagi sebelumnya yang hanya berupa roti. Ada nasi goreng yang menggugah selera dan mampu memuaskan perut dan lidah saya hingga siang hari (Baca : Petualangan Bali hari keempat)

Seusai sarapan pagi, ada sesi Mindfulness di Ruang Yoga yang dipandu oleh Pak Skolastika. Sayangnya sesi ini tidak berlangsung lama karena ruangan akan dipakai oleh guru lain. Sesi Mindfulness kedua ini hanya berlangsung beberapa menit saja, tidak bisa lama seperti sesi di hari sebelumnya.

Foto bersama di Ruang Yoga
Foto bersama di Ruang Yoga

Seusai sesi Mindfulness yang super singkat, para peserta sudah ditunggu oleh tim Kembali dan 10 siswa Green School kelas 9 untuk melakukan tour ke SD Taman Tirta Badung Bali. ‘KemBali’ sendiri adalah sebuah unit dalam Green School yang menjadi sentra Pengelolaan Sampahnya Green School (semacam bank sampah sekolah).

Pada tour ini sudah disiapkan 3 armada bis mini yang menggunakan bahan bakar khusus bio buss. Bio buss didapat dari penyulingan minyak jelantah atau minyak goreng bekas. Ada stasiun pengisian bahan bakar di dekat tempat parkir armada bis mini ini. Karena menggunakan minyak jelantah sebagai bahan bakar, aroma asap yang dikeluarkan juga khas minyak jelantah. Asapnya lebih ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi.

Bunga
Peserta Green Edukator Course di SD Taman Tirta

Di SD Taman Tirta rombongan dari Green School disambut dengan antusias oleh warga sekolah. Tiap orang diberikan satu kelopak bunga di telinganya seperti tradisi Bali dalam menyambut tamu pada umumnya. Setelah itu mereka melakukan atraksi tari tradisional Bali. Jujur ini pertama kalinya saya bisa menyaksikan tari tradisional Bali secara langsung dengan durasi yang lumayan lama. Biasanya hanya menyaksikan tarian Reog, Remo dan jogetan Orkes Melayu. Tarian Bali lihatnya hanya dari Televisi dengan durasi sebentar saja.

Tari tradisional Bali
Atraksi tari tradisional Bali

Berhubung gerimis kembali menyapa bumi, atraksi pertunjukan anak-anak Taman Tirta dilanjutkan di dalam ruang kelas. Ada 2 pertunjukan lagi yang ditampilkan dan itu membuat suasana makin semarak. Anak-anak tampak gembira dan bersemangat. Rombongan dari Green School juga ikut tertular semangatnya. Mereka ikut menari-nari juga. Setelah atraksi/pertunjukan selesai, giliran tim ‘Kembali’ melakukan sosialisasi dan pembelajaran tentang persampahan. Ada Mas Robbi yang mewakili di depan dan menjelaskan tentang nama-nama dan jenis sampah.

Anak-anak SD Taman Tirta dan rombongan dari Green School kemudian dibagi menjadi 2 kelompok. Satu kelompok berada di dalam ruangan untuk membuat tulisan jenis-jenis sampah dan menyiapkan beberapa tempat sampah non organik. Sedangkan satu kelompok lainnya melakukan trash walk di sekitar lingkungan sekolah. Trash Walk adalah aktifitas memungut sampah yang ditemukan di jalanan dan nantinya sampah tersebut dipilah berdasarkan kategorinya. Trash Walk menjadi salah satu kegiatan yang efektif mengurangi dampak buruk dari sampah non-organik.

Sekitar pukul 12.00 WITA, kegiatan tour dan kunjungan ke SD Taman Tirta berakhir. Setelah pengumpulan sampah hasil dari Trash Walk ada tim dari Green Camp yang melakukan penyuluhan dan pembelajaran lebih lanjut pada anak-anak di SD Taman Tirta. Peserta Green Edukator Course dan anak-anak Green School kembali ke area Green School untuk makan siang dan melanjutkan sesi kegiatan lainnya.

Bio buss
Armada Bus berbahan bakar minyak jelantah

Setelah makan siang ada Sesi Presentasi dari tim Bio Buss yang menjelaskan tentang alur pembuatan minyak jelantah menjadi bahan bakar mesin diesel. Selain digunakan untuk bahan bakar mesin diesel, minyak jelantah ternyata dapat diolah menjadi sabun dan kosmetik. Namun hal ini masih dalam tahap penelitian dan pengembangan lebih lanjut. Begitu sedikit gambaran presentasi dari Bio Bus yang saya dapatkan.

Momentum Green Edukator Course
Ada keakraban yang terjalin

Di Green School terdapat sebuah program pembelajaran khusus buat warga lokal Bali. Namanya adalah Kul-Kul Connection. Jika dalam kelas reguler Green School mulai tingkat TK hingga SMA, murid-muridnya 90% adalah warga asing, maka dalam kelas Kul-Kul Connection ini 100% muridnya adalah warga lokal Bali. Mereka ini diberikan pengajaran bahasa Inggris dan beberapa pembelajaran berbasis lingkungan hidup.

Penjelasan tentang Kul-Kul Connection ini saya dapat bersama peserta Green Edukator Course lainnya pada sesi Desain Kurikulum Kul-Kul Connection setelah Presentasi Bio Buss. Anak-anak Bali yang masuk dalam Kul-Kul Connection hanya perlu menyetorkan 5 Kg sampah kering (non organik) sebagai biaya pendaftaran dan studi. Sampahnya sendiri bisa dicicil hingga 1 semester sehingga tidak terlalu membebani. Waktu belajarnya adalah saat pembelajaran formal di Green School berakhir yakni pukul 16.30 hingga pukul 20.00 WITA.

Kelas Kul-Kul Connection ini semacam kursus atau les tambahan buat warga sekitar yang tidak berkesempatan sekolah formal di Green School. Anak-anak lokal bisa belajar di sekolah masing-masing di pagi hari, dan sore atau malam harinya bisa belajar di Kul-Kul Connection.

Yang patut diapresiasi tinggi dari Managemen Green School (Kul-Kul Foundation) adalah mereka tidak pernah membedakan mana siswa reguler Green School dan mana siswa Kul-Kul Connection. Setiap kali ada event atau kegiatan penting tentang lingkungan, penelitian atau yang lainnya, semua dipersilakan untuk mendaftarkan diri. Semua mendapatkan kesempatan yang sama. Hal yang tidak pernah saya temukan di Sekolah lainnya.

Diantara sekian banyak siswa Kul-Kul Connection ada 2 orang siswa yang berprestasi dan membanggakan. Mereka adalah Rama dan Diah. Bersama dengan beberapa murid Green School yang terpilih mereka berkesempatan untuk pergi ke EROPA untuk mengikuti COP23. Video mereka bisa dilihat dalam link berikut :

Peserta Green Edukator Course edisi Bahasa Indonesia (yang salah satunya adalah saya) berkesempatan untuk berbincang bincang dengan 2 anak berprestasi ini dalam sesi khusus. Dedikasi dan semangat mereka dalam kelestarian lingkungan patut diacungi jempol. Mereka adalah generasi muda penerus bangsa. Andai semua pemuda Indonesia seperti mereka, bumi Indonesia akan selalu lestari.

Karena hari sudah beranjak sore, sesi presentasi bersama Diah dan Rama diakhiri. Saya bersama dengan peserta Green Edukator Course lainnya istirahat sejenak untuk mandi dan melakukan aktivitas pribadi. Pukul 5 sore makan malam sudah siap di HOS dan kamipun menikmatinya.

Makan malam di HOS
Makan malam di HOS

Sebelum makan disempatkan wefie dulu, karena kesempatan untuk berbincang dan berkumpul bersama seperti ini sangat langka. Momen kebersamaan, kekeluargaan dan keakraban seperti ini susah untuk didapatkan.

Kegiatan hari ketiga Green Edukator Course edisi Bahasa Indonesia diakhiri dengan Observasi Kelas Kul-Kul Connection. Disini semua peserta mengikuti interaksi dalam kelas Kul-Kul Connection layaknya murid disana. Sayangnya saya tidak bisa mengikuti dengan sempurna karena mereka semua memakai bahasa Inggris, sementara otak dan telinga saya saat kalau disuruh mencerna bahasa Inggris selalu menolak. Saat yang lain diskusi dan presentasi dalam bahasa Inggris, saya malah mengerjakan job menulis dari Hijup yang kebetulan mampir. Mumpung Hp juga tidak rewel. Maafkan saya teman-teman 🙇🙇

Ikuti update terbaru yang saya tulis di blog ini dengan cara like fanpage yang terdapat di blog ini atau follow akun twitter saya @Munasyaroh_fadh. Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar. Lanjutan petualangan di Bali dapat dibaca disini.

One Comment

Silahkan tinggalkan komentar, saran atau pertanyaan di bawah ini

error: Content is protected !!