SERBA-SERBI PASAR WAGE DESA PUCANGRO

Wage adalah salah satu nama sebutan hari pasaran dalam kalender jawa. Selain wage Ada 4 hari lagi dalam pasaran jawa yakni Kliwon, Legi, Pahing dan Pon. Pasar Wage Desa Pucangro atau yang juga dikenal masyarakat dengan nama Pasar Wedus Desa Pucangro adalah salah satu pasar tradisional yang berada di Desa Pucangro Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Pasar ini dikelola dan dikembangkan oleh Pemerintah Desa setempat.

bedak-dlm-pasar.jpg.jpeg
Bedak dalam pasar wage

Pasar tradisional ini hanya ada 5 hari sekali yakni hari pasaran Wage saja. Hari pasaran lainnya tidak beroperasi. Pasar ini menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar yang diperoleh oleh Masyarakat desa.  Tidak hanya pedagang dari wilayah Desa Pucangro saja yang beraktifitas di pasar ini, tetapi juga pedagang dari wilayah desa-desa lain di sekitar wilayah tersebut.
Barang yang diperdagangkan mulai dari kebutuhan sehari-hari, hasil perkebunan, hasil peternakan, pakaian, berbagai peralatan rumah tangga, jajanan tradisional dan lain sebagainya.

 

20160404_083653.jpg

Yang paling terkenal dari adanya Pasar Wage ini adalah keberadaan tempat jual beli hewan kambing atau disebut “Pasar Wedus”.
Areal jual beli kambing ini menempati sebelah selatan pasar dan luasnya hampir 1/4 bagian pasar. Adanya pasar kambing ini menjadi ciri khas dari pasar wage yang tidak dipunyai oleh pasar-pasar tradisional lain disekitarnya sehingga membuat Pasar Wage sangat terkenal. Mendekati Hari Raya Kurban, pasar ini selalu ramai dengan para penjual dan pembeli kambing. Biasanya saat mendekati puncak hari raya para penjual dan pembeli meluber sampai ke jalan, namun tidak mengganggu aktifitas pasar secara keseluruhan.

10 tahun yang lalu keberadaan pasar tradisional seperti pasar Wage ini sangat ramai dan menjadi idola masyarakat. Jalan-jalan ke pasar dulunya menjadi trendmark yang mengasyikkan bagi anak-anak saat liburan. Tawar menawar harga barang menjadi tantangan yg menyenangkan bagi para pembeli. Namun seiring dengan menjamurnya minimarket dan toserba keberadaan pasar tradisional sekarang ini seolah terpinggirkan. Pasar tradisional tidak seramai dulu bahkan saat mendung atau gerimis relatif lengang. Ini tentu sangat merugikan terutama bagi para pedagang tradisional.

Jika dicermati lebih mendetail keberadaan pasar tradisional seperti Pasar Wage Desa Pucangro merupakan sentra ekonomi sentral bagi masyarakat desa pucangro pada khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya. Selain sebagai penggerak roda ekonomi perdesaan yang bisa nenampung sekaligus memasarkan hasil pertanian dan industri rumah tangga ciri khas budaya lokal.

Pertemuan antara penjual dan pembeli, tidak hanya untuk transaksi ekonomi, tetapi sekaligus menjadi media interaksi sosial, saling menyapa antar orang-orang yang dikenal dan bertukar kabar bisa dilakukan dalam interaksi tersebut. Berkenalan dengan orang-orang baru juga bisa dilakukan dalam komunitas pasar. Kesemuanya itu tentunya bisa memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan dalam masyarakat.

Terlepas dari bentuk hubungan dan interaksi dalam pasar, pasar tradisional bisa menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Pemerintah Desa, retribusi dari para pedagang yang beraktifitas di dalam pasar bisa menjadi pundi-pundi dana desa yang sangat besar. Pasar Wage ini juga menjadi pendulang pendapatan asli di Desa Pucangro. Penghasilannya lumayan besar dan sangat mencukupi kebutuhan pendanaan pemerintah Desa yang pada akhirnya juga dinikmati oleh seluruh masyarakat Desa Pucangro.

Jangan lupa tinggalkan komentar dan pesan untuk perbaikan kedepan. Dapatkan update terbaru dengan follow twitter @Munasyaroh_fadh

6 Comments

Silahkan tinggalkan komentar, saran atau pertanyaan di bawah ini

error: Content is protected !!