Pagi itu, di pertengahan Bulan Juli 2025, udara pagi terasa dingin menusuk tulang. Walaupun demikian, semangat saya tak tergoyahkan. Perjalanan puluhan kilometer dari Lamongan ke Surabaya saya jalani dengan optimis. Ini adalah hari-hari pertama saya sebagai Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpusnas Lokus Kota Surabaya. Tugas pertama yang terlintas di benak saya adalah mengenali medan.

Berbekal data dari Perpusnas yang dishare di grup Relima, saya arahkan langkah kaki ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. Ini pertama kalinya saya datang kesana. Meskipun tidak ada seorangpun yang saya kenal, namun saya meyakinkan diri, saya pasti bisa.
Beragam rencana dan skenario saya susun untuk memuluskan jalan dan menjalankan tugas 6 bulan kedepan. Kedatangan saya di sana bukan sekadar kenalan dan silaturahim, tapi juga untuk kordinasi dan mencari data kontak dari para penerima bantuan buku Perpusnas. Saya butuh peta jalan, siapa saja yang akan saya dampingi, bagaimana karakteristik mereka dan apa yang bisa saya lakukan kedepannya.
Dari koordinasi awal di kantor dinas yang berada di jantung Kota Surabaya itu, saya sedikit lega, Ternyata pencarian informasi awal menemukan banyak titik terang. Skala pekerjaan mulai mengerucut. Dari 112 titik yang menjadi target binaan atau kunjungan saya, ternyata 3 titik diantaranya berada di luar Surabaya, 5 titik menjadi tanggung jawab Dispusip Jawa Timur dan 76 titik di adalah milik Perpustakaan Kota Surabaya. Sementara yang lainnya, masih belum ada titik terang.
Gak mau pusing dengan 28 TBM/Perpus yang keberadaannya belum diketahui, saya fokuskan pada TBM/Perpustakaan yang menerima bantuan Bahan Bacaan Bermutu tahun 2024 & 2025. Kebetulan datanya sudah ada di tangan. Tinggal menghubungi satu persatu.
Perlu diinformasikan bahwasanya TBM/Perpustakaan di Kota Surabaya jumlahnya lebih dari 500 TBM. Ini adalah layanan ekstensi dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya yang berada di Balai RW, Kelurahan, Kantor Rusun dan tempat-tempat umum lainnya, Dari 500an itu yang menjadi fokus perhatian saya saat ini adalah 76 titik saja. Mereka ini adalah penerima bantuan buku tahun 2024 & 2025.
Dari awal keikutsertaan sebagai Relima, saya sadar bahwa Surabaya, merupakan sebuah kota metropolitan yang sibuk, menyimpan jaringan literasi yang luas dan kompleks. Ini adalah awal dari catatan kecil saya di kota pahlawan ini.
Tantangan di Lapangan, Ketika Buku Baru Terjebak Dalam Kardus Birokrasi
Saya berasal dari Lamongan, sebuah kabupaten di Jawa Timur sebelah baratnya, Surabaya melewati Kabupaten Gresik. Menjalankan tugas di lokus Surabaya berarti menempuh perjalanan dua jam setiap kali keberangkatan & pulang. Dari rumah saya naik motor, menuju ke stasiun Lamongan. Kemudian naik Kereta Api menuju Stasiun Tengah Kota Surabaya. Perjalanan ke lokasi kunjungan, biasanya menggunakan angkutan freeder, Surabaya Bis dan juga Ojek Online.

Sebelum melakukan kunjungan, saya selalu merencanakan perjalanan dengan matang. Mengadakan janji sana sini untuk memudahkan. Saya sengaja japri satu persatu pengelola TBM/Perpustakaan yang jadi sasaran, tidak pakai google form atau angket. Tujuannya supaya mengakrabkan diri dengan para pengelola tersebut dan data yang saya dapatkan benar-benar valid.
Saya ingin membuat peran dan keberadaan Relima terasa nyata: mendampingi perpustakaan dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) agar lebih dekat dengan masyarakat. Fokus utama saya adalah literasi inklusif, memastikan layanan bahan bacaan dapat diakses oleh semua.
Hal yang membuat saya sedikit terpaku di awal-awal tugas adalah status dari pengelolanya. Ternyata 70an TBM yang saya dampingi ini adalah TBM “plat merah” yang menjadi layanan extensi dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. Pengelola atau penjaga dari TBM tersebut adalah tenaga kontrak Pemkot, yang mendapatkan gaji bulanan sesuai kontrak. Hal ini berbeda jauh dengan pemahaman saya selama ini bahwasanya pengelola TBM merupakan relawan mandiri tanpa bayaran.
Sempat bingung juga dengan sistem TBM di Kota Surabaya yang mengacu pada sistem yang dibuat oleh Dinas, bukan sistem Perpustakaan Nasional pada umumnya. Memang sih sistemnya yang disebut SIPUS ini punya stabilitas tersendiri dan memudahkan koordinasi, namun saya merasa sedikit kaku, seperti roda yang berputar lambat.
Salah satu tantangan awal yang saya temui adalah terkait bantuan buku itu sendiri. Setelah beberapa kali kunjungan ke TBM-TBM yang mendapatkan bantuan buku tahun 2025, saya melihat pemandangan yang hampir sama. Buku-buku baru Bahan Bacaan Bermutu masih bertumpuk rapi di sudut ruangan.
Para pengelola TBM cuma bisa menghitung jumlah bukunya dan mencocokkan judul dari daftar pengiriman. Tak ada yang berani membuka plastiknya dan menata atau meminjamkan. Alasannya sederhana namun kuat. Setiap TBM tidak diperkenankan punya stempel sendiri, sehingga semua buku harus melalui proses pengolahan dan distempel resmi oleh Dinas Perpustakaan Kota, dan antreannya panjang. Bayangkan setiap TBM mendapatkan bantuan 1000 buku. Kalau ada 60 TBM, berarti ada 60.000 buku yang harus ditempel.
Saya ingat kunjungan ke salah satu TBM di rusunawa. Seorang pengelola, menunjukkan kardus-kardus itu dengan senyum getir. “Mau dibuka juga nggak bisa, Mbak. Nanti kena tegur dinas,” katanya, sambil matanya melirik tumpukan kardus itu.
Untuk pelayanan, mengandalkan buku-buki lama.. Kalau sudah bosan, pengelola akan mengajak bermain atau melakukan hal-hal yang bermanfaat. Pengelola dituntut kreatif untuk memaksimalkan layanan pada masyarakat. Ini membuat saya sadar, literasi bukan hanya soal menyediakan buku, tapi juga memastikan buku itu bisa “hidup” di tangan orang-orang yang membutuhkan.
Dinamika TBM Plat Merah
Jam operasional harian TBM di Kota Surabaya juga punya cerita tersendiri. Petugas yang ada seringkali harus menghandle 2-3 lokasi sekaligus, ditambah tugas tambahan lain dari Pemkot seperti administrasi atau kegiatan lingkungan. Akibatnya, jam buka TBM rata-rata cuma dua hari seminggu. Hari lain? Tutup, karena petugas pindah ke TBM lain yang juga butuh perhatian.
Saya pernah datang ke sebuah TBM di Balai RW pada hari yang seharusnya buka, tapi saya temukan terkunci rapat. Pengelola, menelepon saya dari lokasi lain, menjelaskan situasinya. “Maaf, Mbak, hari ini saya di kelurahan untuk rapat. Besok aja ya kalau mau kegiatan.”
Situasi seperti ini bisa memicu frustrasi, tapi juga memaksa saya untuk belajar beradaptasi dan mencari solusi kreatif. Saya mulai usulkan kegiatan yang lebih fleksibel, seperti sesi baca mobile yang bisa dilakukan di luar jam buka resmi TBM, atau kolaborasi dengan lembaga lainnya supaya dampak keberadaan TBM terasa nyata.

Mencoba mengusulkan kegiatan adalah bagian favorit sekaligus paling menantang dari peran saya. Setiap hari, saya coba hubungi pengelola via WhatsApp atau telepon, tawarkan ide-ide sederhana: workshop mendongeng untuk anak-anak, diskusi buku ringan untuk remaja, atau kelas literasi digital pakai ponsel untuk ibu-ibu. Responsnya campur aduk.
Ada yang menolak halus, seperti “Wah, Mbak, kami lagi sibuk urus izin dulu deh, nanti kalau ada waktu kami kabari.” Ada yang diam saja, pesan saya tenggelam di antara notifikasi lain. Tapi untungnya, tak sedikit pula yang antusias. Misalnya, di sebuah TBM dekat TK, pengelola langsung setuju untuk “Baca Bareng dengan anak-anak” setelah saya jelaskan manfaatnya. Mereka bahkan inisiatif tambah sesi untuk diskusi bedah buku. Tak ada paksaan untuk yang menolak. Saya belajar, perubahan datang dari kesediaan, bukan desakan.
Belajar Dari Yang Lebih Berpengalaman
Di balik tantangan, ada pelajaran hangat yang sering saya dapat dari obrolan-obrolan santai. Sebelum atau sesudah koordinasi, kami sering ngobrol asyik. Topiknya luas: dari cara mengatur rak buku supaya anak-anak tertarik, hingga cerita pengalaman literasi di masa lalu.
Sebagian besar pengelola TBM di Surabaya ini sudah berpengalaman. Banyak dari mereka yang sudah menjaga TBM sejak 2011, saat TBM masih langka dan harus dirintis dari nol. Ada juga yang baru bergabung di 2020-2022, namun begitu pengalaman dari pengelola sebelumnya membuat mereka tak kalah mumpuni dalam kegiatan literasi.
Dari Pak H, yang sudah 14 tahun di TBM kelurahan, saya belajar strategi menarik warga: “Jangan langsung suruh baca tebal-tebal. Mulai dari komik atau buku bergambar dulu, biar mereka nyaman dan datang lagi.” Sementara mbk D yang baru tiga tahun, bercerita bagaimana satu sesi dongeng bisa membuat anak-anak rusun betah datang ke TBM. Obrolan ini tak hanya menjadi ajang tukar ilmu, tapi juga membangun ikatan. Saya, yang awalnya merasa asing sebagai orang Lamongan, kini punya teman-teman seperjuangan di Surabaya yang siap saling mendukung.
Dampak Kecil, Harapan Besar
Dampak dari pendampingan Relima mulai terlihat, meski masih terbilang kecil, namun ada harapan besar di sana. Beberapa TBM yang saya kunjungi, mulai rutin melakukan kegiatan. Anak-anak yang dulunya hanya bermain saja, saat melihat TBM buka langsung masuk dan membuka buku-buku bacaan. Tak jarang dari mereka meminta untuk berkegiatan bersama, seperti mewarnai, mendongeng dan membuat karya kreasi.
Relima seperti saya berperan sebagai jembatan: mendorong pengelola agar TBM tak cuma menjadi gudang buku, tapi juga ruang hidup yang dinamis. Komitmen saya tetap kuat untuk terus mengusulkan kegiatan, mendampingi proses, dan mendorong literasi inklusif. Saya selalu menekankan Pentingnya literasi di tengah gempuran Informasi
Ke depan, harapan saya sederhana: proses pengolahan buku yang lebih cepat, otonomi lebih bagi TBM agar bisa lebih fleksibel dalam jam buka dan kegiatan, serta integrasi Relima yang lebih erat dalam program-program pemerintah daerah. Mungkin suatu hari, kardus-kardus itu tak lagi menunggu lama, dan Surabaya akan menjadi kota di mana setiap orang, tanpa terkecuali, punya akses ke dunia cerita dan pengetahuan.
Catatan kecil ini mungkin tak akan mengubah dunia dalam semalam, tapi ia adalah bagian dari mozaik besar literasi Indonesia. Di Surabaya, dengan segala hiruk-pikuknya, saya belajar bahwa perubahan dimulai dari langkah-langkah kecil: satu obrolan, satu kegiatan, dan satu buku yang akhirnya dibuka dari kardusnya. Dan itu, bagi seorang Relima, ini sudah lebih dari cukup. Harus konsisten melakukannya.

Setuju Mbaak
Perubahan itu emang gak bisa langsung besar Mbaaak. Emang mulainya dari yang kecil-kecil dulu dan yang terpenting mulai dari sekarang