Minggu pagi, 15 Desember 2025, langkah kaki saya mantap menuju Taman Prestasi Surabaya. Taman yang terletak di kawasan Ketabang Kali, Kecamatan Genteng, ini memang menjadi salah satu ruang publik favorit warga Surabaya, terutama di akhir pekan. Anak-anak berlarian, orang tua bercengkerama, dan suasana pagi terasa penuh energi.

Pagi itu saya datang sebagai Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpusnas RI Lokus Surabaya, untuk melihat dari dekat sekaligus membersamai layanan mobil perpustakaan keliling Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. Taman Prestasi merupakan salah satu titik layanan strategis selain taman-taman lain seperti Taman Bungkul, Taman Surabaya, Taman Harmoni, Taman Mangrove Wonorejo, dan beberapa taman kota lainnya yang secara rutin disinggahi mobil perpustakaan keliling di Hari Sabtu dan Minggu.
Taman Prestasi sendiri bukan taman biasa. Sejak dibangun dan diresmikan pada pertengahan tahun 1990-an, taman ini dirancang sebagai simbol kebanggaan kota. Nama “Prestasi” tersemat karena di dalamnya terdapat berbagai replika penghargaan yang pernah diraih Kota Surabaya. Fasilitasnya lengkap: playground anak-anak, jogging track di tepi Sungai Kalimas, gazebo, area rumput sintetis, hingga wisata perahu Kalimas yang kerap menjadi magnet pengunjung di sore hari. Kombinasi ruang hijau, area bermain, dan lokasi yang mudah diakses membuat taman ini nyaris tak pernah sepi, terutama pada Sabtu dan Minggu pagi.
Sekitar pukul 08.00, mobil perpustakaan keliling mulai membuka layanan. Lokasi parkirnya berada tepat di depan area rumput sintetis, bersebelahan langsung dengan playground anak-anak. Letak ini terasa sangat ideal. Anak-anak yang semula bermain dengan pengawasan orang tua masing-masing perlahan mendekat, penasaran dengan mobil besar penuh buku yang pintunya mulai terbuka.
Tak butuh waktu lama. Begitu layanan dibuka, anak-anak langsung menyerbu. Mereka mendekat ke mobil, memilih buku, kemudian membawa ke tengah rumput sintesis untuk membaca bukunya. Tak berapa lama kemudian, berdiri lagi dan mendekat ke mobil perpustakaan keliling untuk menukar buku lain. Aktivitas itu berlangsung berulang-ulang. Tidak hanya satu anak, tapi ada banyak sekali. Dalam kurun waktu sekitar satu jam saat saya disana, suasana terasa sangat dinamis: pinjam buku, balikin buku, pinjam lagi, balikin lagi. Petugas pun tampak sibuk melayani arus anak-anak yang tak putus.

Ada satu momen kecil yang terasa sangat berkesan. Saat saya menyapa seorang anak dan bertanya, “Sudah buku ke berapa ini?” Ia menjawab dengan wajah polos namun penuh semangat, “Ini sudah buku ke-8.” Jawaban sederhana itu terasa seperti bukti nyata bahwa minat baca bisa tumbuh kuat ketika akses benar-benar dekat dengan anak-anak.
Petugas mobil perpustakaan keliling hari itu berjumlah dua orang: satu sopir tetap dan satu petugas dari TBM Kota Surabaya. Petugas TBM yang saya temui belum pernah saya jumpai sebelumnya. Ia bukan penerima BBB (Bantuan Buku Bermutu) Perpusnas tahun 2024 maupun 2025, sehingga wajar jika kami belum saling mengenal. Tugas Relima saat ini fokus ke penerima bantuan Perpusnas saja. Namun percakapan tetap mengalir hangat. Barangkali karena berasal dari lingkar yang sama, circle pegiat literasi, rasa dekat itu tumbuh dengan cepat, tanpa perlu banyak penyesuaian.
Keramaian pengunjung membuat pengelolaan layanan harus lebih ketat. Pintu mobil perpustakaan hanya dibuka dari satu sisi saja agar pengawasan terhadap anak-anak bisa lebih intens. Meski begitu, suasana tetap terkendali. Buku-buku cerita anak yang tersedia benar-benar menjadi pusat perhatian. Anak-anak terlihat antusias, sementara sebagian orang tua memilih duduk di sekitar taman sambil menemani. Ada juga yang membacakan buku untuk anak-anak mereka.
Di tengah kesibukan itu, ada satu kejadian kecil yang cukup mencuri perhatian. Seorang anak meminta krayon untuk mewarnai. Sayangnya, layanan mobil perpustakaan keliling memang hanya menyediakan fasilitas baca di tempat, tanpa kegiatan pendukung seperti mewarnai. Permintaan itu justru menunjukkan kebiasaan anak tersebut yang mungkin sering berkunjung ke TBM atau perpustakaan sekitar yang menyediakan krayon sebagai sarana berekspresi. Meski krayon tak tersedia, anak itu tetap memilih buku dan melanjutkan membaca.
Di Kota Surabaya ada sekitar 500an TBM/Perpustakaan yang dikelola oleh Pemerintah Kota lewat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. Jumlah ini berbeda dengan TBM/komunitas literasi yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
Kehadiran mobil perpustakaan keliling di ruang publik seperti Taman Prestasi terasa sejalan dengan semangat menghadirkan literasi langsung ke tengah masyarakat. Ruang terbuka tidak hanya menjadi tempat bermain, tetapi juga ruang belajar yang hidup. Seperti halnya berbagai inisiatif literasi dan lingkungan yang banyak disuarakan melalui kanal informasi daerah, termasuk yang dapat dijumpai di https://dlhacehselatan.org/berita/, taman kota memiliki potensi besar sebagai ruang edukasi yang inklusif.
Beberapa waktu sebelumnya, saya juga sempat membersamai layanan mobil perpustakaan keliling di Taman Bungkul. Meski taman tersebut juga ramai pengunjung, antusias anak-anak untuk membaca buku tidak sebesar yang saya temui di Taman Prestasi. Di Taman Prestasi, buku benar-benar menjadi magnet. Anak-anak datang silih berganti, seolah tak ingin melewatkan kesempatan membaca satu judul pun.
Pagi itu, di tengah riuh tawa, langkah kecil yang mondar-mandir, dan halaman buku yang terus berpindah tangan, Taman Prestasi menghadirkan satu potret sederhana namun kuat untuk gerakan literasi dari pinggiran. Semoga kontrak saya sebagai Relawan Literasi Masyarakat Perpusnas RI diperpanjang untuk 2026 supaya bisa terus membersamai kegiatan semacam ini.
