Setiap kali kaki menginjak Ibukota Jakarta, ada satu tempat yang hampir selalu saya sempatkan untuk dikunjungi. Bukan pusat perbelanjaan, bukan kafe kekinian, melainkan sebuah gedung tinggi yang menyimpan ribuan, bahkan jutaan pengetahuan. Yup itulah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia atau disingkat Perpusnas.

Bagi sebagian orang, mungkin terdengar biasa. Tapi bagi saya, Perpusnas adalah ruang pulang, tempat menenangkan pikiran, sekaligus sumber inspirasi yang tak pernah habis. Jauh sebelum menjadi Relawan Literasi Masyarakat Perpusnas, saya sudah sangat suka mengunjungi tempat ini. Pertama kali kesana tuh akhir tahun 2019. Setelah itu berkali-kali kesana tanpa ada rasa bosan sama sekali.
Pernah saat saya datang setelah kelar acara Workshop Sibi 2024, saya dengan membawa koper dan ransel nekat datang ke Perpusnas sambil menunggu jadwal kepulangan Menariknya, hal itu bukan masalah sama sekali. Di Perpusnas tersedia layanan penitipan barang yang rapi dan aman. Setelah menitipkan koper dan ransel, saya malah bisa leluasa menjelajah dari lantai ke lantai tanpa beban secara harfiah dan batiniah.
Dari Lobi Hingga Lantai Atas, Awal Perjalanan Literasi
Memasuki gedung Perpustakaan Nasional, pengunjung akan disambut suasana tenang dan tertata. Lantai dasar menjadi ruang orientasi: tempat bertanya, mendaftar anggota, dan mengenal alur kunjungan. Bagi yang baru pertama kali datang, bisa tanya satpam atau petugas yang dengan ramah akan mengarahkan alur kunjungan agar tidak bingung.
Kalau mau foto-foto cakep, pemandangan dengan latar belakang kata Perpustakaan Nasional dan gedung tinggi yang menjulang wajib dilakukan. Ini jadi bukti bahwa kita sudah sampai di gedung perpustakaan tertinggi di Indonesia ini. Biasanya rombongan juga melakukan foto bersama di area lobi sebelum pintu masuk utama ini.

Di lantai-lantai awal, terdapat ruang pameran dan area publik yang kerap digunakan untuk pameran literasi, diskusi buku, hingga kegiatan kebudayaan. Di sinilah terasa bahwa Perpusnas bukan hanya ruang membaca, melainkan juga ruang temu gagasan.
Naik sedikit ke atas, pengunjung akan menemukan area anak dan keluarga. Suasananya cerah, penuh warna, dan ramah anak. Buku cerita, pojok baca, serta ruang bermain edukatif membuat perpustakaan ini terasa inklusif, bukan hanya untuk peneliti dan mahasiswa, tetapi juga keluarga.
Dari Buku, Film, hingga Ruang Sunyi untuk Bekerja
Salah satu hal yang membuat saya betah berlama-lama di Perpusnas adalah keberagaman ruang dan fungsinya. Ada lantai khusus audiovisual tempat pengunjung bisa menonton film dokumenter, film edukasi, atau arsip visual sejarah Indonesia. Ruangannya nyaman, tenang, dan cocok untuk jeda sejenak dari aktivitas membaca.
Bagi yang ingin fokus bekerja atau menulis, tersedia banyak ruang baca sunyi. Meja-meja tertata rapi, pencahayaan nyaman, dan suasana yang mendukung konsentrasi. Tak jarang terlibat banyak orang yang membawa laptop dan menghabiskan berjam-jam di sini, menulis, membaca, atau sekadar merapikan pikiran.

Di beberapa lantai menyediakan ruang diskusi dan seminar. Tak heran jika Perpusnas sering menjadi lokasi bedah buku, diskusi publik, hingga forum literasi. Tempat ini benar-benar hidup, bukan sekadar gudang buku saja.
Lantai Koleksi: Menyusuri Pengetahuan dari Masa ke Masa
Salah satu daya tarik utama Perpusnas adalah koleksi bukunya yang luar biasa. Dari buku umum, jurnal ilmiah, majalah lama, hingga koleksi langka dan naskah kuno, semuanya tersimpan rapi.
Ada lantai khusus untuk koleksi umum yang bisa dibaca bebas, ada pula lantai yang menyimpan naskah langka dan koleksi khusus yang perlu perlakuan lebih hati-hati. Melihat manuskrip lama, arsip sejarah, dan buku-buku terbitan puluhan tahun lalu selalu memberi rasa takzim tersendiri. Di sanalah kita benar-benar menyadari bahwa ilmu pengetahuan adalah warisan yang dijaga lintas generasi.
Menariknya, semua itu bisa diakses tanpa biaya. Cukup menjadi anggota, dan dunia pengetahuan terbuka lebar. Pendaftaran Anggota bisa dilakukan secara online. Untuk mencetak kartunya dapat dilakukan di lantai 2.
Menikmati Jakarta dari Ketinggian

Salah satu momen favorit saya adalah ketika naik ke lantai atas Perpusnas. Dari sini, pemandangan kota Jakarta terbentang luas. Monas berdiri gagah tak jauh dari jendela, seolah menjadi saksi bisu perjalanan bangsa dan literasi yang terus tumbuh. Memandang Monas dari Perpusnas menjadi sesuatu yang asyik juga.
Duduk di dekat jendela, membaca buku sambil memandang kota, adalah pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain. Inilah sisi lain Perpusnas, tempat wisata literasi yang tidak hanya memberi isi pada kepala, tetapi juga menenangkan jiwa.
Lebih dari Sekadar Perpustakaan
Perpustakaan Nasional bukan hanya tempat membaca. Ia adalah ruang belajar, ruang temu, ruang refleksi, bahkan ruang istirahat yang bermakna. Dari mahasiswa, peneliti, pekerja lepas, hingga wisatawan, semuanya bisa menemukan tempatnya masing-masing di sini.
Tak heran jika banyak orang datang bukan hanya untuk mencari buku, tetapi juga pengalaman. Bahkan bagi yang ingin mengenal struktur kelembagaan dan tata kelola informasi publik, tersedia berbagai referensi yang bisa ditelusuri, termasuk melalui tautan seperti https://dlhbarru.org/struktur/ yang memperlihatkan bagaimana informasi kelembagaan disusun secara sistematis.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memiliki jam operasional yang cukup panjang dan ramah bagi pengunjung. Berdasarkan informasi resmi terbaru, layanan Perpusnas buka pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00–19.00 WIB, sementara Sabtu dan Minggu buka pukul 09.00–16.00 WIB. Namun, perlu dicatat bahwa pada hari libur nasional dan cuti bersama, layanan Perpusnas tutup. Jam operasional ini memungkinkan masyarakat dari berbagai latar belakang, pelajar, mahasiswa, peneliti, hingga pekerja untuk tetap bisa mengakses layanan literasi di sela aktivitas harian.

Adapun layanan yang tetap buka hingga sore hari mencakup berbagai fasilitas penting, seperti Graha Literasi, loker penitipan tas, layanan keanggotaan, layanan aspirasi publik, koleksi audiovisual, koleksi naskah Nusantara, koleksi monograf tertutup dan terbuka, koleksi buku langka, hingga koleksi budaya Nusantara. Beberapa layanan tertentu memiliki penyesuaian waktu operasional, terutama di akhir pekan. Karena itu, sebelum berkunjung, pengunjung disarankan mengecek kembali informasi terbaru agar pengalaman membaca dan berkunjung ke Perpustakaan Nasional tetap nyaman dan optimal.
