Bagi saya, ASUS bukan nama yang asing. Di rumah juga ada laptop ASUS yang sudah menemani berbagai aktivitas. Sebagai blogger, laptop termasuk perangkat yang cukup sering saya gunakan, mulai dari menulis artikel, mengerjakan pekerjaan, mengikuti meeting online, sampai mengolah berbagai kebutuhan konten. Karena itu, ketika ada undangan ASUS Gathering Surabaya, saya cukup antusias untuk datang. Beberapa kali saya memang sudah mengikuti acara serupa. Namun, setiap kali datang ke gathering, selalu ada saja produk, teknologi, atau informasi baru yang menarik untuk dilihat.

ASUS Gathering Surabaya kali ini berlangsung di JW Marriott Surabaya pada 10 September 2026. Selain mendapatkan informasi dari sesi presentasi, peserta juga bisa melihat langsung berbagai produk ASUS yang dipamerkan. Ada laptop dari lini Vivobook, Zeenbook, Proart, berbagai aksesori, hingga beberapa teknologi yang sekarang semakin dekat dengan kebutuhan pengguna sehari-hari. Saya sendiri tentu tidak melewatkan kesempatan untuk mampir ke area booth dan mencoba beberapa perangkat yang ada di sana.
Menurut saya, melihat laptop secara langsung memang memberikan pengalaman yang berbeda dibanding hanya melihat foto dan spesifikasinya di internet. Kita bisa melihat bentuknya, mencoba keyboard, merasakan ukuran dan bobotnya, sekaligus melihat detail-detail kecil yang kadang tidak terlalu terasa ketika hanya membaca spesifikasi.
ASUS No. 1 Quality & Service
Salah satu hal yang dibahas dalam gathering ini adalah ASUS No. 1 Quality & Service. Kalau membicarakan laptop, biasanya perhatian kita langsung tertuju pada spesifikasi. Prosesornya apa, RAM berapa, penyimpanannya berapa besar, layarnya seperti apa, dan tentu saja harganya. Padahal setelah membeli laptop, masih ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu layanan service center.
Hal ini terasa cukup relevan bagi saya karena laptop bukan perangkat yang digunakan sebentar. Apalagi kalau sehari-hari pekerjaan kita bergantung pada laptop. Ketika perangkat bermasalah, pekerjaan bisa ikut terhambat. Jadi, keberadaan service center dan layanan purnajual tentu menjadi salah satu pertimbangan ketika memilih laptop.
Dalam acara tersebut, Brama Satyadi, Head Of Public Relations & Digital ASUS Indonesia menjelaskan berbagai layanan yang dimiliki, termasuk jaringan service center di Indonesia serta layanan seperti On-Site Service, Fastlane, dan Laptop Spa sesuai ketentuan masing-masing. Ada juga informasi mengenai perpanjangan masa garansi pada beberapa lini laptop ASUS dari dua menjadi tiga tahun.
Ada satu layanan yang namanya cukup unik bagi saya, yaitu Laptop Spa. Kalau mendengar kata spa, yang langsung terbayang biasanya perawatan untuk tubuh. Ternyata laptop juga bisa mendapatkan perawatan berupa pembersihan. Ini mengingatkan saya bahwa perangkat yang setiap hari kita gunakan juga perlu dirawat, bukan hanya dipakai sampai kotor atau mulai bermasalah.

Melihat Ketahanan Laptop ASUS
Selain soal layanan, ketahanan perangkat juga menjadi salah satu bagian yang diperlihatkan dalam acara ini. ASUS menunjukkan beberapa pengujian yang dilakukan terhadap laptopnya, termasuk pengujian berdasarkan standar MIL-STD-810H pada produk tertentu.
Ada pula demonstrasi ketahanan dengan beban berat yang cukup menarik perhatian. Ada ASUS Zenbook 14 yang diuji dengan diberi beban 100kg. Ternyata masih aman-aman saja. Ada juga laptop yang jika tidak sengaja terjatuh tidak apa-apa. Seperti Asus ExpertBook.
Melihat langsung pengujian seperti ini membuat saya lebih mudah memahami bahwa laptop memang tidak hanya dirancang untuk terlihat bagus, tetapi juga perlu memiliki ketahanan untuk penggunaan sehari-hari.
Bagi orang yang sering membawa laptop ke mana-mana, hal seperti ini cukup penting. Laptop bisa masuk tas, dibawa naik kendaraan, diletakkan di meja yang berbeda-beda, atau digunakan di luar rumah. Meski begitu, tentu saja bukan berarti laptop kemudian boleh diperlakukan sembarangan. Tetap perlu dijaga dan dirawat supaya bisa digunakan dalam waktu lama.
ASUS Vivobook 14 untuk Kebutuhan Kerja
Salah satu lini yang diperkenalkan dalam Gathering kali ini adalah ASUS Vivobook 14. Dari namanya saja sudah bisa ditebak bahwa laptop ini memiliki ukuran layar 14 inci. Ukuran seperti ini menurut saya cukup ideal untuk kebutuhan kerja karena masih nyaman digunakan untuk berbagai aktivitas, tetapi tidak terlalu besar ketika harus dibawa bepergian.
Vivobook 14 hadir dalam beberapa pilihan konfigurasi, termasuk prosesor Intel, AMD, dan Snapdragon pada varian tertentu. Salah satu variannya menggunakan Intel Core Ultra 5 225H dengan RAM 16 GB DDR5 dan SSD 512 GB. Layarnya berukuran 14 inci dengan resolusi WUXGA dan rasio 16:10.

Buat saya yang cukup sering menulis dan bekerja menggunakan laptop, RAM dan penyimpanan tentu menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Apalagi kalau dalam satu waktu harus membuka banyak tab browser, dokumen, aplikasi komunikasi, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Beberapa varian Vivobook 14 juga sudah membawa fitur yang mendukung aktivitas meeting online, seperti kamera FHD, privacy shutter, dan AI Noise Cancellation. Fitur seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi cukup berguna bagi pengguna yang sering melakukan meeting atau kegiatan secara daring.
Laptop ASUS Sekarang Semakin Dekat dengan AI
Hal lain yang cukup banyak dibicarakan dalam gathering adalah perkembangan laptop dengan kemampuan AI. Sekarang kita memang semakin sering menemukan istilah AI PC atau laptop AI. Bahkan beberapa laptop ASUS terbaru sudah menggunakan NPU untuk menangani pekerjaan berbasis AI secara lebih efisien.
Kalau melihat angka TOPS pada spesifikasi, mungkin sebagian orang akan langsung berpikir soal performa. Tetapi bagi saya sebagai pengguna, pertanyaan yang lebih sederhana adalah: AI ini bisa membantu pekerjaan saya dalam hal apa?
Nah, di sinilah saya merasa perkembangan tersebut menarik. Dalam acara ini ASUS juga memperkenalkan OMNI Virtual Assistant, yang bisa membantu pengguna berinteraksi dengan file dan melakukan beberapa pekerjaan seperti membuat ringkasan.
Sebagai blogger, saya cukup sering berhadapan dengan dokumen, bahan tulisan, hasil meeting, dan berbagai informasi lainnya. Jadi fitur yang bisa membantu mengelola atau meringkas informasi tentu punya potensi untuk membuat pekerjaan menjadi lebih praktis.
Menurut saya, perkembangan laptop AI memang menarik untuk diikuti. Bukan sekadar karena sekarang semua produk seolah-olah harus memiliki embel-embel AI, tetapi karena teknologi tersebut mulai diarahkan untuk membantu aktivitas pengguna secara langsung.
Ada Vivobook Go 14 untuk Pelajar
Selain Vivobook 14, ada juga ASUS Vivobook Go 14 yang ditujukan untuk kebutuhan pelajar. Laptop ini memiliki ukuran yang ringkas dan bobot sekitar 1,38 kilogram pada konfigurasi tertentu, sehingga cukup mudah untuk dibawa.
Kebutuhan pelajar saat ini juga sudah semakin banyak menggunakan perangkat digital. Mulai dari mengerjakan tugas, membuat presentasi, mencari bahan pelajaran, mengikuti pembelajaran online, sampai membuat berbagai proyek sekolah. Karena itu, laptop yang mudah dibawa tentu menjadi nilai tambah.
Vivobook Go 14 juga memiliki beberapa fitur pendukung seperti webcam privacy shield dan engsel yang dapat dibuka hingga 180 derajat. Dari sisi tampilan, beberapa pilihannya juga punya warna yang cukup menarik dan tidak hanya bermain di warna hitam atau silver.
Saya Malah Suka Bagian Mencoba Produknya
Salah satu bagian yang saya nikmati dari acara seperti ini justru ketika bisa mencoba langsung produk yang dipamerkan. Apalagi saya sudah cukup sering menggunakan laptop ASUS, jadi rasanya menarik melihat bagaimana perkembangan perangkat yang sekarang ditawarkan.

Di booth, saya dan beberapa teman sempat mencoba laptop dan aksesori ASUS. Ada yang mencoba keyboard, melihat laptop lebih dekat, sementara saya juga ikut melihat beberapa perangkat yang dipajang.
Bagi saya, pengalaman mencoba langsung seperti ini tetap penting. Sebab ada hal-hal yang memang baru terasa ketika perangkat sudah ada di depan mata. Misalnya kenyamanan keyboard, ukuran laptop, tampilan layar, bobot ketika diangkat, atau sekadar melihat desain dan warnanya secara langsung.
Hal-hal seperti itu memang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh membaca spesifikasi di website.
Setiap Orang Punya Kebutuhan Laptop yang Berbeda
Setelah mengikuti gathering ini, saya semakin merasa bahwa memilih laptop sebenarnya tidak bisa hanya berdasarkan mana yang spesifikasinya paling tinggi. Kebutuhan setiap orang berbeda.
Pelajar tentu punya kebutuhan yang berbeda dengan pekerja. Blogger dan content creator juga bisa memiliki kebutuhan yang berbeda dengan orang yang sehari-hari hanya menggunakan laptop untuk mengetik dokumen. Begitu juga orang yang sering bepergian tentu akan lebih memperhatikan bobot dan ketahanan perangkat.
Karena itu, menurut saya pertanyaan pertama sebelum membeli laptop sebaiknya bukan “Mana yang paling tinggi spesifikasinya?”, tetapi “Laptop ini akan saya gunakan untuk apa?”
Setelah mengetahui kebutuhan, barulah melihat pilihan prosesor, RAM, storage, ukuran layar, bobot, fitur AI, daya tahan, sampai layanan purnajualnya.
