Ada satu momen yang sangat saya nantikan di bulan ini setelah melewati proses panjang sebagai mahasiswa magister, yaitu hari ketika saya harus mempertanggungjawabkan hasil penelitian tesis di hadapan dosen penguji pada ujian Munaqasah.

Namun, untuk sampai pada tahap tersebut tidaklah mudah. Sebelum menemukan judul penelitian yang disetujui dan diujikan, saya sempat mengalami proses yang cukup panjang. Judul pertama yang saya ajukan dalam proposal awal, ditolak oleh Dosen Pembimbing. Sempat down dan sedih. Karena sudah suka dengan judul itu. Tapi karena belum disetujui, akhiraya harus kembali mencari topik penelitian yang sesuai.
Setelah melalui berbagai bimbingan dan arahan, akhirnya saya mendapatkan judul tesis “Pemikiran KH Muhammad Abdullah Muchtar dan Relevansinya terhadap Arah Pendidikan Islam Kontemporer.” Judul tersebut menjadi fokus penelitian saya dalam menyelesaikan pendidikan Magister Pendidikan Agama Islam di salah satu universitas swasta di Semarang.
Penelitian yang saya lakukan menggunakan metode studi kepustakaan. Berbeda dengan penelitian lapangan yang banyak melakukan pengumpulan data secara langsung, penelitian ini membuat saya lebih banyak berinteraksi dengan berbagai sumber bacaan. Buku, jurnal ilmiah, artikel, dan berbagai referensi akademik menjadi bagian dari keseharian saya selama proses penyusunan tesis. Ada puluhan judul jurnal yang saya kaji baik-baik. Diteliti apakah sesuai dengan fokus penelitian atau tidak.
Semakin banyak referensi yang saya temukan, semakin besar pula waktu yang saya habiskan di depan laptop. Saya harus membaca, memahami, mencatat, membandingkan berbagai pemikiran, kemudian menuangkannya dalam tulisan ilmiah.
Dalam sehari, saya bisa menghabiskan lebih dari delapan jam di depan layar. Ini berlangsung selama beberapa minggu. Aktivitas tersebut semakin meningkat ketika mendekati jadwal ujian tesis. Saya kembali membuka seluruh bagian tesis, mempelajari ulang pembahasan, mengecek berbagai catatan, dan memastikan setiap materi dapat saya jelaskan dengan baik saat ujian.

Namun, di tengah persiapan menuju momen yang sudah lama dinantikan tersebut, muncul gangguan yang sebelumnya tidak terlalu saya perhatikan.
Mata mulai terasa kurang nyaman. Awalnya hanya terasa Mata SEpet, PErih, LElah setelah terlalu lama membaca dan menatap layar. Saya menganggapnya hanya efek dari pekerjaan yang terlalu padat. Tetapi semakin mendekati hari ujian, kondisi tersebut semakin terasa.
Mata menjadi berair, terasa sepet, dan membuat saya sulit berkonsentrasi ketika mempelajari kembali materi tesis. Padahal, waktu itu saya membutuhkan fokus penuh untuk mempersiapkan presentasi dan menghadapi pertanyaan dari dosen penguji.
Saya mulai menyadari bahwa hal kecil seperti rasa tidak nyaman pada mata ternyata bisa memberikan pengaruh besar terhadap aktivitas penting yang sedang dijalani.
Saya kemudian mencari informasi mengenai kondisi tersebut melalui internet. Dari beberapa sumber yang saya baca, ternyata keluhan seperti yang saya alami termasuk Gejala Mata Kering. Kondisi ini dapat terjadi ketika mata mengalami kekurangan kelembapan, terutama pada orang yang sering menggunakan perangkat digital dalam waktu lama.
Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa Mata SePeLe Jangan Disepelein. Rasa sepet, perih, atau lelah pada mata bukan sesuatu yang harus selalu diabaikan, terutama ketika kita sedang menjalani aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Saya mulai mencari solusi yang praktis untuk membantu menjaga kenyamanan mata. Salah satu produk yang saya temukan adalah INSTO DRY EYES. Setelah mencari informasi mengenai produk tersebut, saya kemudian membeli INSTO DRY EYES di Indomaret sebagai bagian dari persiapan menjelang ujian tesis.
Setelah menggunakannya, saya merasa lebih nyaman ketika mata mulai terasa kering setelah beraktivitas lama di depan layar laptop. Hal ini membantu saya kembali fokus membaca, mempelajari materi, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.
Selain menggunakan tetes mata, saya juga mulai memperbaiki kebiasaan sehari-hari. Saya berusaha memberikan waktu istirahat untuk mata, mengurangi menatap layar secara terus menerus, memperhatikan pencahayaan ruangan, dan lebih peduli terhadap kondisi tubuh.
Perjalanan menyelesaikan tesis memberikan pelajaran penting bagi saya. Mengejar target akademik memang membutuhkan kerja keras, tetapi menjaga kesehatan diri juga tidak kalah penting. Mata adalah salah satu bagian tubuh yang sangat mendukung proses belajar, membaca, dan bekerja.

Kini saya tidak lagi menganggap remeh ketika mata mulai terasa sepet, perih, atau lelah. Karena ternyata sesuatu yang terlihat kecil dapat mengganggu momen besar yang sudah lama dipersiapkan.
Pengalaman menyelesaikan tesis membuat saya semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan mata. Mari lebih peduli terhadap tanda-tanda kecil pada mata dan bersama-sama mewujudkan #BebasMataKering. Jangan tunggu sampai mengganggu aktivitas, karena #MataSePeLeJanganSepelein.
Ketika mata mulai terasa kering dan tidak nyaman, jangan lupa Tetesin Insto Dry Eyes segera!.
