Pengalaman Bersama Kelas Inspirasi Bojonegoro 7

Kelas Inspirasi Bojonegoro menjadi pengalaman pertama bagi saya sebagai relawan pengajar di Kelas Inspirasi. Setelah 2 sebelumnya hanya bisa mengikuti Kelas Inspirasi di Lamongan, pada tahun ini saya ingin merambah ke kota-kota lainnya. Pilihan Kelas Inspirasi tertuju di wilayah Kabupaten Bojonegoro yang merupakan tetangga sendiri.

Tahun 2018 yang lalu sudah pernah mendaftar di Kelas Inspirasi Surabaya, namun karena waktunya berdekatan dengan Residensi Sains di Makassar, saya terpaksa tidak bisa mengikutinya. Setelah mendapat informasi kalau saya diterima sebagai relawan pengajar, segala sesuatunya tentu di persiapkan. Karena kebanyakan relawan berasal dari luar kota, koordinasi segala persiapan dilakukan secara online di whatsapp grup.

Blogger
Tanda pengenal relawan

Lokasi berlangsungnya Kelas Inspirasi di Bojonegoro tahun ini menyasar di Kecamatan Margomulyo. Lokasinya ini terletak di Wilayah Bojonegoro paling barat dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Blora. Ada 10 rombel yang ditetapkan panitia lokal. Saya sendiri kebagian di Rombel 9 di SDN Meduri V.

Pelaksanaan Kelas Inspirasi Bojonegoro 7 dilaksanakan pada hari Sabtu 27 Juli 2019 kemarin. Sebagai persiapan saya berangkat dari rumah Jumat siang pukul 14.30 WIB. Pada kondisi normal perjalanan Lamongan – Bojonegoro biasanya tidak lebih dari 2 jam. Namun karena ada perbaikan jalan, kemacetan tak terelakkan. Kak Dirman sebagai Panitia lokal bolak-balik menanyakan posisi saya, sebenarnya gak enak sendiri, tapi karena kondisi jalannya sendiri juga tidak kondusif sehingga tidak bisa cepat sampai tujuan. Saya sampai Terminal Bojonegoro bertepatan dengan adzan maghrib.

Waktu turun di Terminal Rajekwesi Bojonegoro, saya dijemput di terminal Bojonegoro oleh beberapa relawan KI Bojonegoro. Rencananya sih bersama-sama ke lokasi di bonceng motor, tapi ternyata ada relawan pengajar wanita yang bawa mobil sendiri sehingga saya bersama relawan lainnya yang wanita nunut naik mobilnya. Meskipun baru pertama bertemu, suasana hangat sudah terasa.

Baca juga : Serpihan Memori Pasca Kelas Inspirasi Lamongan 6

Perjalanan dari Terminal Rajekwesi Bojonegoro menuju lokasi KI Bojonegoro lumayan lama. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 2 jam. Tak terbayang kalau harus naik motor dan gak bawa jaket, pasti capek dan menahan dingin. Syukur alhamdulillah saya bisa naik mobil. Walaupun kondisi jalannya tidak bisa di bilang bagus, namun setidaknya kami bersama-sama berjumlah 5 orang dan tidak kedinginan.

Untuk menuju lokasi SDN Meduri 5, harus melewati hutan, sawah dan perkebunan penduduk. Jika kebetulan lewat di perbatasan Bojonegoro dan Gresik, saya atau mungkin anda semua tidak akan menyangka bahwasanya ada banyak desa yang tersembunyi di balik hutan dan bukit.

Dari area jalan raya, persis di sebelah tulisan Watu Jago hanya terlihat satu bangunan kayu milik perhutani. Akan tetapi saat memasuki area perhutani tersebut terlihat jalan setapak yang berkelok-kelok. Gelondongan Kayu jati tampak berserakan di kanan kiri jalan. Jalannya sendiri bisa dilewati mobil walaupun harus terguncang-guncang.

Pemandangan alami gunung, sawah dan lainnya tidak bisa dinikmati saat perjalanan menuju lokasi karena hari sudah malam. Sebaliknya suara jangkrik dan ketenangan malam yang menyapa telinga. Teman relawan fasilitator ada yang merekam kondisi jalannya sebagai bukti sekaligus pengingat diri. Saya sendiri tidak ikut merekam atau memfoto kondisi sekitar karena hasilnya pasti gelap gulita.

Saya baru tahu ternyata dibalik kejayaan Bojonegoro dan kekayaan minyaknya yang melimpah ternyata ada desa terisolir yang kondisi jalannya memprihatinkan. Saat hampir sampai di lokasi, ada tanjakan dan turunan yang ekstrim. Baik penumpang maupun supir mobil kami adalah wanita. Ada rasa takut, tegang dan khawatir saat menuju tanjakan tersebut.

Kondisi jalannya juga benar-benar sepi. Kalau ada apa-apa gak tau minta tolong pada siapa. Sinyal HP sudah lama hilang semenjak masuk di kawasan perhutani tadi. Dengan semangat keyakinan tinggi dan juga doa-doa yang terucap, syukur alhamdulillah mobil kami bisa melewati tanjakan tersebut. Pada percobaan awal, mobil kembali turun (mundur) di pertengahan tanjakan. Di percobaan kedua, akhirnya bisa melewati tanjakan yang super ekstrim tersebut.

Setelah tanjakan tersebut, lokasi SD yang kami tempati mulai terlihat. Di sana sudah ada 2 relawan yang sudah sampai duluan dan juga penjaga sekolah yang rumahnya terletak di sebelah sekolahnya. Kami menginap di rumahnya Bapak Penjaga Sekolah tersebut. Setelah berbasa basi sebentar, relawan fasilitator mengeluarkan atribut dan keperluan Kelas Inspirasi. Ada head tag dan perak pernik lain yang harus dipersiapkan. Seperti saat di Kelas Inspirasi Lamongan, kamipun lembur menggunting dan merapikan headtag yang akan digunakan esok hari sambil menunggu teman relawan lain yang belum datang.

Sebenarnya saya tidak keberatan untuk lembur dan begadang menunggu teman relawan yang belum datang. Namun karena kondisi kamar kecil yang gelap gulita dan agak jauh, sehingga saya tidak ikut begadang dan memutuskan tidur di jam setengah 11 malam. Takut bolak balik ke kamar kecil, ntar malah menyusahkan yang lain. Rombongan teman relawan yang lain datangnya sekitar jam 2 pagi. Meskipun saya dengar suaranya tapi tidak ikut menyambut di depan, toh besok pagi bisa ketemu lagi.

Halaman depan SDN Meduri 5, Margomulyo Bojonegoro

Pagi menjelang, semua relawan bersiap-siap untuk melakukan tugasnya. Antrian di kamar mandi tak terelakkan dan itu sudah biasa terjadi. Di pagi hari itu masih ada 2 teman relawan yang belum sampai lokasi. Setelah menunggu sebentar, sekitar pukul 06.30 WIB semua relawan lengkap. Kamipun mengadakan briefing guna pembagian tugas dan juga teknis di hari Inspirasi.

SDN Meduri 5, hanya memiliki 3 ruangan saja. Satu ruangan disekat menjadi 2 kelas. Ruang guru dan Kepala sekolah menjadi satu dengan ruang kelas 1 dan 2. Hanya ada almari yang membatasi antara ruang guru dan ruang kelas 1/2. Pada hari biasa, kelas 1 sekolahnya pagi hingga pukul 09.00 WIB dan kelas 2 agak siang, mulai jam 09.00 WIB s/d jam 12.00 WIB. Khusus saat Hari Inspirasi semua kelas masuk pagi, yakni pukul 07.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Panitia lokal sebelumnya sudah mengkordinasikan ini dengan pihak sekolah sehingga tidak ada permasalahan.

Apel pagi dan perkenalan all relawan

Pukul 07.00 Kegiatan Hari Inspirasi dibuka dengan apel pagi. Satu persatu relawan memperkenalkan diri. Ada 8 relawan pengajar, 4 relawan dokumentator dan sisanya adalah relawan fasilitator. Senyum semangat dan rasa antusias tampak terpancar dari anak-anak SDN Meduri 5. Bahkan anak-anak PAUD dan juga TK yang lokasinya menyatu dengan SDN Meduri juga ikut ambil bagian dalam sesi apel pagi dan perkenalan.

Beberapa anak tampak hanya memakai sandal jepit sebagai alas kaki mereka. Namun hal itu tidak membuat mereka canggung karena kondisi tanah dan juga lokasi rumah mereka yang jauh dari sekolah membuat mereka terbiasa memakainya. Sepatu malah membuat mereka tidak leluasa bergerak.

Sandal jepit
Meski memakai sandal jepit tapi tak menyurutkan niat untuk belajar

Berdasarkan hasil tanya jawab singkat saya dengan anak-anak, sebagian besar dari anak-anak ini berjalan kaki menuju sekolah. Jarak rumah ke sekolah bisa sampai 5 km jauhnya. Yang paling dekat berjarak 800 meter. Hanya ada beberapa anak yang diantar orang tuanya memakai Sepeda motor, mereka ini tentunya yang berasal dari keluarga berada. Anak-anak yang lain lebih banyak berjalan kaki. Kalau memakai sepeda pancal, kondisi jalan dan tekstur wilayah sangat tidak mendukung karena penuh tanjakan dan turunan.

Sarana dan prasarana yang terbatas ternyata tidak menghalangi semangat anak-anak SDN Meduri 5 dalam belajar dan menuntut ilmu. Saya yakin ke depannya sekolah ini akan mencetak orang-orang yang luar biasa dan berguna bagi lingkungan sekitarnya. Ketika para relawan memberikan berbagai instruksi, entah itu ice breaking atau keperluan dokumentasi, tidak ada satupun yang membantah. Semuanya mengikutinya dengan rasa antusiasme yang tinggi. Bahkan anak-anak TK dan PAUD sekalipun, tidak ada satupun yang rewel atau menangis di lapangan. Ini menjadi bukti bahwa jiwa-jiwa mereka sudah benar-benar tangguh dalam segala kondisi. Hal yang sangat jarang terlihat di lingkungan tempat tinggal saya bahkan mungkin di sekolah yang sarana dan prasarana ya lengkap.

Relawan kelas inspirasi Bojonegoro
Para relawan SDN Meduri 5 beserta dewan guru

Di SDN Meduri 5 ada Relawan-Relawan yang luar biasa seperti Waty Ibrahim dari Jakarta, Usman dari Semarang, Nur Alimah (Pati), Rifqi Nur Haybah (Pasuruan), Dyah Wahyu (Surabaya), Fandy (Gresik), Rizky (Bojonegoro). Ditambah dengan Dirman, Tansanindya -Ervan, Tony, Synta, Iqbal Ramadhan dan Liyu sebagai Fasilitator. Tak lupa juga ada Tata Hastari dari Jogja, misbahul munir dari Bojonegoro, Zain dari Bojonegoro dan Minda dari Kediri yang mendukung sebagai dokumentator.

Usai apel pagi dan pembukaan, anak anak diminta masuk ke ruangan kelas. Agar lebih efisien, kelas 1&2, 3&4, 5&6 dijadikan satu. Relawan pengajar secara bergantian memasuki kelas berdasar jadwal yang sudah ditentukan. Di jam pertama saya kebagian di kelas 3&4. Sebelum berlanjut tentang materi profesi, anak-anak diminta menuliskan nama dan cita-cita mereka di headtag yang sudah dipersiapkan. Diantara mereka ada yang bercita-cita menjadi guru, dokter, polisi seperti pada umumnya cita-cita anak-anak. Tetapi ada yang unik juga telah diutarakan anak-anak seperti pemain sepak bola, petani sukses, dan blantik.

Kelas inspirasi
Bersama anak-anak kelas 3&4 yang penuh inspirasi

Saya menceritakan tentang profesi Blogger yang saya geluti saat ini. Dapat dipastikan anak-anak tidak pernah tahu apa itu Blogger dan bagaimana kerjanya. Karena di sana tidak ada sinyal sama sekali, saya jadi tidak bisa memperlihatkan seluk beluk dunia maya yang melibatkan Blogger. Saya hanya bisa memberikan sedikit gambaran serta penjelasan mengenai kerjanya Blogger dan manfaat yang dapat dirasakan orang banyak.

Karena dunia Blogger tidak lepas dari aktivitas menulis dan membaca, saya kemudian memberikan sebuah game yang berkaitan dengan hal itu. Dalam menulis diperlukan beragam kosa kata atau diksi. Kosa kata ini bisa didapat jika banyak-banyak membaca. Hal inilah yang saya tekankan pada anak-anak. Bukan hanya penulis saja yang butuh membaca, namun segala profesi lainnya jika ingin sukses harus rajin rajin membaca.

Pohon cita-cita
Menempelkan cita cita ke banner pohon

Pada akhir acara, anak-anak diminta untuk menuliskan kembali cita-cita mereka dan ditempelkan di pohon cita-cita. Tak lupa juga ada sesi foto bersama sebagai closing atau penutupan. Setelah itu semua relawan berpamitan ke guru dan juga pengurus sekolah. Selesai sudah agenda Kelas inspirasi hari ini.

Hari Inspirasi
Closing rangkaian Hari Inspirasi SDN Meduri 5
Perjalanan pulang menuju Kota Kecamatan menggunakan bak terbuka. Efisiensi sekaligus mewarnai kebersamaan semua relawan

Suka, duka, tawa, dan rasa lelah tak terasa pasca mengikuti kelas inspirasi Bojonegoro 7.  Walaupun perjalanan pulang harus menggunakan bak terbuka milik anak penjaga sekolah, namun kebersamaan terasa lebih indah. Ada banyak hal berharga yang saya dapatkan selama perjalanan ini. Terima kasih anak-anak sudah memberikan banyak inspirasi pada saya hari ini. Terima kasih juga buat semua relawan dan dewan guru. Semoga kedepan bisa bertemu kembali dan mengikuti lagi kelas inspirasi di kota lainnya.

4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!