Pembelajaran Literasi Sains Untuk Anak-anak

Mendengar kata literasi sains, pasti banyak orang yang bingung, mengerutkan kening, dan menganggap itu sesuatu yang rumit. Sains identik dengan rumus-rumus dan penelitian yang njlimet. Sementara literasi berhubungan erat dengan baca tulis. Literasi sains dianggap sebagai ilmu yang susah digapai oleh orang awam dan
hanya dicapai oleh orang tertentu yang memiliki keilmuan tingkat tinggi.

Anggapan diatas ternyata salah besar. Literasi sains adalah ilmu di sekitar kita yang bisa dilihat, dipelajari dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Asal kata Literasi sains sendiri berasal dari kata Latin, yakni literatus dan scientia. Literatus artinya huruf, melek huruf, atau berpendidikan. Sedangkan scientia artinya memiliki pengetahuan. Literasi Sains secara umum dapat diartikan sebagai kemampuan individu dalam memahami dan mengaplikasikan pengetahuan serta memecahkan persoalan yang berkaitan dengan sains dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran Literasi Sains

Sedari usia sekolah dasar, sebenarnya kita sudah diajarkan pelajaran literasi sains ini. Pada jenjang sekolah dasar, pelajaran sains diajarkan sebagai bagian dari pelajaran Ilmu pengetahuan alam (IPA). Pada jenjang pendidikan menengah, literasi sains berkembang menjadi pelajaran Kimia, Biologi dan Fisika. Coba diingat-ingat….. dulu saat sekolah apakah anda menyimak materi pelajaran tersebut dan bisa mengingatnya hingga sekarang??

Jika anda masih mengingat semuanya berarti anda adalah orang yang cerdas dan memiliki daya tangkap yang tinggi. Tapi bagi anda yang sudah tidak mengingatnya sama sekali atau hanya mengingat beberapa saja diantaranya tidak perlu berkecil hati, karena memang banyak faktor yang memengaruhinya. Salah satunya karena metode pembelajaran yang terlalu monoton dan berpusat pada satu sumber saja.

Baca juga : Berbagai Metode Belajar Yang Efektif

Di Indonesia, Literasi sains dalam pembelajaran IPA sebagian besar masih terbatas pada materi buku ajar/teks saja. Ditambah dengan metode ceramah dari guru yang mengajar di dalam kelas. Kalaupun ada praktek langsung, porsinya teramat kecil. Hal ini menyebabkan pelajaran sains terasa berat bagi anak-anak di Sekolah Dasar. Pembelajaran yang dilakukan hanya untuk mengejar kurikulum yang mengandalkan bahan teori dan hafalan saja sehingga daya tangkap dan nalar anak-anak tentang literasi sains hampir tidak ada.

Pengetahuan dan penerapan literasi sains yang mengandalkan buku teks belum sepenuhnya menyentuh jiwa anak-anak. Kalau ditanya lebih lanjut, larinya langsung buka buku tanpa memahami lebih dalam tentang pelajaran tersebut. Saat dewasa, ilmunya hilang begitu saja tak berbekas.

Supaya anak-anak zaman now yang duduk di sekolah memiliki kompetensi dan pengetahuan yang mumpuni dibidang sains dan teknologi, pembelajaran yang mengacu pada buku teks selayaknya diubah. Metode pembelajaran tradisional yang hanya berupa ceramah pada literasi sains juga sudah tidak relevan lagi. Metode semacam ini hanya menjadikan anak-anak menjadi pendengar yang pasif. Jika masih diteruskan, kelak ketika dewasa mereka tidak akan dapat bersaing di era global.

Pada literasi sains, pembelajaran dapat dilakukan dengan metode yang lebih interaktif, inovatif dan kreatif. Anak-anak seyogyanya diajak berpikir logis, kritis, dan kreatif. Salah satu caranya adalah dengan mengajak anak-anak melakukan pengamatan sederhana di lingkungan sekitar. Anak-anak dapat diajak keluar kelas berinteraksi langsung dengan alam serta memanfaatkan alam sebagai sumber belajar. Pembelajaran sains tak lagi abstrak dengan membaca buku pelajaran dan menghafalnya, namun pembelajaran dapat langsung diterapkan dengan pengamatan langsung di alam.

Pembelajaran Literasi Sains
Pengamatan Sederhana sebagai metode pembelajaran literasi sains

Melalui pengamatan sederhana langsung di alam, tujuan dari pembelajaran literasi sains dapat diserap sempurna. Disamping dapat pengetahuan dan kecakapan ilmiah, anak-anak mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta yang dilihatnya langsung.

Baca juga : Apa dan Siapa Generasi Muda Itu?

Contoh kongritnya bisa diterapkan pada materi makhluk hidup dan proses kehidupannya. Pada materi ini anak-anak bisa diajak langsung ke halaman atau tempat terbuka lainnya untuk mengamati secara langsung ciri-ciri makhluk hidup yang dilihatnya, apa saja kebutuhan mereka, dimana habitatnya dan lain sebagainya. Hasil pengamatan ditulis dan dicocokkan dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari. Setelah melakukan pengamatan, anak-anak juga dapat melakukan percobaan untuk menjelaskan atau membuktikan kebenaran suatu konsep yang tertera pada buku.

Pengamatan sederhana ini tidak hanya bisa dilakukan pada materi makhluk hidup saja, namun bisa juga merambah pada materi lainnya. Seperti : ekosistem, energi, gaya, perubahan wujud benda, dan laun sebagainya. Semua hal yang berhubungan dengan literasi sains dapat dipelajari melalui pengamatan sederhana ini. Pembelajaran literasi sains yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari relatif lebih efektif dan menyenangkan buat anak-anak. Kelak saat dewasa, pembelajaran literasi sains yang semacam ini akan berguna dalam kehidupan sehari-harinya.

(Visited 63 times, 1 visits today)
3 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!