Mengapa Pohon Sangat Penting untuk Mencegah Banjir?

Dalam beberapa waktu terakhir, Indonesia berduka. Berbagai wilayah di Indonesia, khususnya di Pulau Sumatera, kembali dilanda banjir dan tanah longsor. Hujan deras yang turun berjam-jam memang menjadi pemicu, namun bencana tersebut tidak berdiri sendiri. Namun, di balik peristiwa alam tersebut, ada satu faktor penting yang kerap luput dari perhatian: berkurangnya jumlah pohon yang selama ini menghiasi Pulau Andalas.

Bencana banjir

Pohon bukan sekadar penghias lingkungan, melainkan penjaga keseimbangan alam yang memiliki peran besar dalam mencegah banjir dan longsor. Mari kita bahas lebih dalam bagaimana pohon bekerja sebagai penjaga alam kita!

Banjir besar dan tanah longsor yang terjadi di sejumlah daerah di Sumatera menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Banyak kawasan hulu sungai dan daerah perbukitan serta pegunungan yang seharusnya berfungsi sebagai hutan serta wilayah resapan air justru mengalami penggundulan hutan akibat alih fungsi lahan, penebangan liar, dan ekspansi perkebunan.

Hilangnya tutupan hutan menyebabkan air hujan tidak lagi terserap secara optimal. Akibatnya, air mengalir deras ke permukiman warga dan memicu banjir bandang serta longsor yang menelan korban jiwa dan kerugian besar.

Pohon dan Perannya dalam Mengendalikan Air

Pohon memiliki kemampuan alami untuk mengatur siklus air. Tajuk daun menahan air hujan agar tidak langsung jatuh ke permukaan tanah. Air hujan yang tertahan kemudian mengalir perlahan melalui batang dan diserap oleh tanah di sekitarnya.

Pohon hijau

Akar pohon berfungsi seperti spons alami yang menyerap dan menyimpan air. Proses ini membantu mengurangi limpasan air permukaan yang sering menjadi penyebab utama banjir, terutama di daerah perkotaan dan lereng perbukitan.

Menurut penelitian yang dibagikan UPNYP, tanaman memiliki kemampuan serap air yang luar biasa. Berikut caranya:

  • Akar pohon sebagai “pompa alami”: Akar yang menjalar ke dalam tanah mampu menyerap liter-liter air hujan, menyimpannya di lapisan tanah (akifer) sehingga tidak langsung mengalir ke permukaan. Ini mengurangi volume air yang membentuk genangan atau meluap ke sungai.
  • Daun dan ranting sebagai “atap pelindung”: Dedaunan yang rimbun memperlambat kecepatan jatuh air hujan, sehingga tanah tidak langsung “disemprot” dengan kuat. Hal ini mencegah erosi permukaan tanah dan membuat air lebih mudah meresap ke dalam bumi.
  • Tanah yang lebih sehat: Tanah yang ditutupi akar pohon dan dedaunan memiliki struktur yang lebih longgar dan berkapasitas menampung air lebih tinggi. Bandingkan dengan tanah yang gersang dan tidak ada tutupan – air hujan hanya mengalir cepat tanpa terserap.

Akar Pohon sebagai Penguat Struktur Tanah

Salah satu penyebab tanah longsor adalah struktur tanah yang rapuh dan mudah tergerus air. Akar pohon tumbuh menembus lapisan tanah dan saling mengikat satu sama lain, sehingga memperkuat kestabilan tanah.

Keberadaan akar pohon mampu menahan pergerakan tanah di lereng curam dan mengurangi risiko longsor, terutama saat curah hujan tinggi. Inilah alasan mengapa kawasan hutan yang terjaga jarang mengalami longsor dibandingkan wilayah gundul.

Dampak Penggundulan Hutan terhadap Banjir dan Longsor

Penggundulan hutan dan alih fungsi lahan tanpa perencanaan yang berkelanjutan menyebabkan daya serap tanah menurun drastis. Kondisi ini banyak ditemukan di wilayah Sumatera yang mengalami deforestasi cukup tinggi dalam beberapa dekade terakhir. Tanpa pohon, air hujan langsung mengalir ke sungai dan saluran air dalam jumlah besar, sehingga meningkatkan risiko banjir.

Selain itu, tanah yang tidak terlindungi akar pohon lebih mudah mengalami erosi. Material tanah yang terbawa air dapat menyumbat sungai dan memperparah banjir di daerah hilir.

Bayangkan jika semua pohon di sekitar kita ditebang, apa yang akan terjadi?

– Aliran air semakin cepat

Tanah yang tidak ada akar akan sulit menyerap air, sehingga air hujan langsung mengalir ke sungai dengan kecepatan tinggi. Ini membuat sungai mudah meluap dan menimbulkan banjir.

– Tanah semakin rapuh

Tanah yang tidak terikat akan lebih mudah erosi oleh air hujan dan angin. Di lereng, ini berujung pada tanah longsor yang merusak rumah, jalan, dan bahkan merenggut nyawa.

– Perubahan iklim

Kurangnya pohon juga memperparah perubahan iklim, yang membuat cuaca semakin ekstrem hujan lebih lebat dan sering, yang semakin meningkatkan risiko bencana.

Menanam Pohon sebagai Solusi Pencegahan Banjir

Menanam dan menjaga pohon merupakan langkah sederhana namun berdampak besar dalam pencegahan banjir dan tanah longsor. Program reboisasi, penghijauan lingkungan, serta pelestarian hutan menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Partisipasi masyarakat dalam menanam pohon di lingkungan sekitar, bantaran sungai, dan daerah resapan air dapat membantu mengurangi risiko bencana sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan nyaman. Upaya ini sejalan dengan berbagai program pelestarian lingkungan yang dijalankan oleh pemerintah daerah, seperti program perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang dapat diakses melalui https://dlhtapanulitengah.org/program/ sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga kelestarian alam.

Kasus banjir dan tanah longsor di Sumatera menjadi pengingat bahwa pohon dan hutan bukan sekadar aset ekonomi, melainkan penyangga kehidupan. Ketika hutan rusak, alam kehilangan kemampuannya untuk melindungi manusia dari bencana.

Upaya pemulihan hutan, penegakan hukum terhadap perusakan lingkungan, serta kesadaran kolektif untuk menjaga pohon harus menjadi agenda bersama. Tanpa langkah nyata, bencana serupa akan terus berulang.

Munasya

Blogger, Writer and Teacher Contact Person : email : sy4r0h@gmail.com Twitter : @Munasyaroh_fadh IG. : @Muns_Fadh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke atas
error: Content is protected !!