Ikan Mabuk di Sungai
Coret-coret lingkungan

Fenomena Ikan Mabuk di Bengawan Solo

Pemandangan berbeda terlihat di sepanjang bantaran sungai Bengawan Solo pada tanggal 18-20 Desember kemarin. Mulai dari bentaran sungai Wilayah Bojonegoro, Tuban hingga Kabupaten Lamongan tampak orang-orang bergerumbun di sepanjang bentaran. Mulai Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, kawula muda hingga anak-anak asyik berburu ikan. Ternyata saat itu sedang terjadi Fenomena Ikan Mabuk di Sungai Bengawan Solo. Orang-orang yang melihat atau menonton juga banyak sekali.

Ikan Mabuk di Sungai
Masyarakat yang mencari ikan di Sungai Bengawan Solo

Saya yang notabanenya tinggal di lokasi yang agak jauh dari Sungai Bengawan Solo, sempat terheran-heran dengan fenomena ini. Saat berkunjung ke rumah sepupu yang berada persis di dekat bentaran sungai, saya bisa mendapatkan berbagai informasi terkait fenomena ikan mabuk sekaligus gambarnya secara langsung.

Ikan Mabuk atau masyarakat sekitar menyebutnya Ngumbo, ikan munggut atau ikan pladu Bengawan Solo menurut masyarakat sekitar bentaran sungai terjadi setiap setahun sekali. Biasanya terjadi kala beralihnya musim kemarau ke musim penghujan. Air sungai yang semula agak tenang dan berwarna jernih mendadak berubah menjadi arus yang deras dan berwarna kecoklatan. Perubahan itu membuat ikan-ikan kaget dan langsung menepi di pinggir sehingga mudah untuk di tangkap.

Perubahan arus sungai disebabkan karena hujan deras yang mengguyur wilayah hulu Sungai Bengawan Solo. Setelah hujan, ketinggian air sungai naik drastis seperti terjadi banjir bandang. Warna air sungai yang berubah coklat keruh disebabkan karena pengaruh gelontoran tanah, seiring dengan masuknya air hujan. Fenomena ini tidak selalu terjadi setiap hari, tapi hanya setahun sekali saat peralihan musim kemarau ke musim hujan. Baik lama maupun waktunya juga tidak dapat diprediksi.

Menangkap Ikan
Menangkap Ikan Mabuk dengan alat seadanya

Fenomena Ikan Mabuk di Sungai Bengawan Solo mengikuti aluran air, dari hulu ke Hilir. Ikan-ikan yang tidak kuat dengan perubahan air memilih mengambang dan menepi, Masyarakat menyebutnya mabuk. Kalau di Bojonegoro fenomena ini terjadi tanggal 18 dan 19 Desember, Wilayah Kabupaten Tuban tanggal 19 dan 20 Desember. Sedangkan Kabupaten Lamongan yang dilewati Bengawan Solo terjadi tanggal 20 dan 21 Desember.

Saya pada tanggal tersebut kebetulan berada di Bojonegoro dan Tuban sehingga menyaksikan sendiri fenomenanya. Info Bengawan Solo hari ini langsung bisa saya dapatkan. Kalau di Lamongan saya tahu berdasarkan cerita teman-teman yang tinggal di sekitar sungai Bengawan Solo. Kemungkinan di daerah lain yang dilewati Bengawan Solo juga mengalami hal yang serupa, mengingat lebih dari 15 wilayah Kabupaten yang dilewati Sungai Terpanjang di Jawa ini.

Banyaknya ikan yang mabuk (iwak munggut/ngumbo) dimanfaatkan warga di sekitar sungai untuk beramai-ramai datang ke Sungai Bengawan Solo dan menangkap ikan di daerah masing-masing. Untuk menangkap ikan, tak perlu memakai alat tangkap ikan khusus. Masyarakat hanya menggunakan sederhana berupa serok, sengkap, jaring dan jala. Bahkan ada yang menggunakan tangan kosong atau kain yang berpori – pori. Karena ikannya lagi mabuk, jadinya mudah untuk ditangkap.

Ikan
Ikan hasil tangkapan seorang ibu di Sungai Bengawan Solo

Ikan yang mabuk sudah tidak gesit lagi. Mereka sepertinya pasrah dan tidak bisa kemana-mana. Para penangkap ikan juga tidak perlu susah – susah ke tengah sungai, karena ikan di bantaran sungai atau di bagian pinggir sudah melimpah ruah. Adapun jenis ikan yang didapat antara lain : ikan jendil, mujair, patin, bawal, nila dan juga udang. Ukuran ikannya bervariasi, ada yang besar, ada pula yang kecil.

Sebagian besar hasil tangkapan ikan mabuk di Bengawan Solo dikonsumsi sendiri atau dibagikan ke tetangga dan kerabat. Kalau hasil tangkapan lumayan banyak baru dijual kepada tengkulak atau orang yang membutuhkan. Harganya berkisar antara Rp10-25 ribu per kilogramnya tergantung jenis dan ukurannya. Hal ini tentunya membawa berkah dan rejeki bagi masyarakat sekitar Sungai Bengawan Solo.

Fenomena Ikan Mabuk di Sungai Bengawan Solo sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Sejauh ini belum ada laporan atau berita orang yang keracunan atau sakit setelah mengkonsumsi ikan mabuk hasil tangkapan di Bengawan Solo. Oleh karena itu dipastikan aman dikonsumsi. Seandainya berbahaya bagi kesehatan, pasti sudah sedari dulu ada larangan menangkap ikan mabuk. Jadi penasaran, di tahun depan inginnya bukan hanya melihat tapi ingin langsung mencari ikannya.

Berikut gambaran visual atau Video saat masyarakat menangkap ikan mabuk di Sungai Bengawan Solo.  Lokasinya di bawah jembatan Glendeng, Perbatasan Bojonegoro dan Tuban.

Munasya

Blogger, Writer and Teacher
Contact Person :
email : sy4r0h@gmail.com
Twitter : @Munasyaroh_fadh
IG. : @Muns_Fadh

Anda mungkin juga suka...

33 Komentar

  1. Wah, jadi semacam berkah juga ya bagi masyarakat sekitar, jadi bisa pesta makan ikan..
    Kalau karena fenomena alam tentu aman dan tidak beracun ikannya

  2. Aku baru tahu ada fenomena kayak gini
    Di satu sisi menguntungkan bagi penduduk sekitar, di sisi lain kasihan ikannya, yang kecil-kecil juga ikut terjaring
    Untungnya hanya setahun sekali ya
    Bener-bener fenomena alam yang unik

  3. Mas Kholis menulis:

    Kirain ikanya mabuk karena pencemaran sungai. Kejadian tersebut memang selalu terjadi di setiap tahun ya mbak?

    1. Sebelumnya emang ada kasus pencemaran sungai Bengawan Solo tapi gak sampai membuat ikannya mabuk, kalau yg ini murni karena fenomena alam

  4. Fadli Hafizulhaq menulis:

    Cuma terjadi setahun sekali ya Mbak, jadi momen yang ditunggu-tunggu warga sepertinya ya. Sampai ibu-ibu pun ikut nangkapin ikan

    1. Mumpung ada,jadi ibu ibu ikutan

  5. ridous menulis:

    Mak kalo di Tasikmalaya sungai keruh katanya sih gegara tambang pasir. Hahahahaha

    1. Beda lagi nih ceritanya

  6. menulis:

    Fenomena alam seperti itu kayaknya bukan hanya di sungai ya. Pernah baca, di waduk Cirata deket Bandung sini juga begitu. Karena perubahan cuaca yang mendadak. Trus ikannya pada mengambang. Asyik ya tinggal nyerok…
    Eh…tapi yang di Cirata itu ikan di keramba, jadi dibudayakan. Rugi ga ya? Soalnya semua ikan dari kecil sampai besar, mabuk semua…

  7. waduh lucu juga ya fenomena ikan mabuk, saya jadi ketawa ngebayangin serunya tradisi warga nangkep ikan setiap tahun hehhe

  8. menulis:

    ya ampun ternyat banyak banget ikan mabok pasti panen besar ni warga lokasi tersebut haha

  9. Ya ampiuunn Mbaak seneng banget nangkepin ikan mabuk gituu yaa.. Spt dpt rezeki nomplok ajahh… Ah memang Allah SWT selalu menghadirkan fenomena unik di alam semesta ini ya. Subhanallah

  10. Wah baru tahu ada fenomena ikan mabuk ini. Tapi iya juga sih, manusia aja juga banyak yang kena flu saat musim pancaroba gini

    1. Iya nih mabuk versi ikan sama kayak flu versi kita

  11. wehehehe.. baru tahu aku ada fenomena tahunan ikan mabok ini mba! Ini berkah bener buat warga sekitar. dan juga menguntungkan buat yang pengen masak ikan karena harganya pun gk mahal kalo beli.

  12. Berarti setahun sekali rutin ya mba muna ikan ikan pada mabok. Hihi aku teringat lagu Joshua kecil. Ikan mabok kareba diobok-obok.
    Kalo di Bengawan solo akibat perubahan musim dan debit air yang tiba-tiba banyak bikin air yang tadinya tenang dan bersih jadi kecoklatan

    1. Setahun sekali tapi waktunya tidak dapat diprediksi

    2. Wah ternyata ikan bisa mabuk juga ya, hehehe. Tapi ini mabuknya karena kondisi alam dan terjadi setahun sekali, jadi momen yang berkesan juga tentunya.

  13. Amir menulis:

    Menarik sekali ya. Kondisi air dan lumpur yang pekat bisa jadi penyebabnya. Kalau saya tinggal di daerah sekitar sungainya, tentu saya akan nimbrung juga. Karena aktivitas cari ikan selalu bikin penasaran biarpun gak suka-suka amat

    1. Biarpun gak dapat ikan, nyeburnya penuh kegembiraan

      1. Wah kirain ikannya mabok kena racun atau bahan kimia lain yang masuk ke sungai. ternyata karena perubahan musim ya. Di sungai tempat saya tinggal kayaknya gak ada kejadian begini, kalo ada kan enak dapet banyak ikan hehe

  14. INi fenomena alam yang normal, kok. Jadi ya memang tidak berdampak pada kesehatan. Yaa.., kalau dijual akan mmpengaruhi kesehatan dompet. Bisa dikatakan, ini memang rezeki tiban tiap tahun. Kami di pesisir juga punya rezeki tiban. Berupa kerang yang sangat banyak.
    Kali ini titik tibannya di desa saya. LUmayan… banget

    1. Alhamdulillah, fenomena alam yang menguntungkan

  15. Kasihan ya ikan-ikan mabuk ini. Udah pasrah aja pokoknya dengan takdirnya berakhir di meja makan sebagai ikan goreng, pesmol, kuah kuning.

    1. Gimana lagi, sudah takdirnya demikian

  16. Seru nich… bisa sekalian wisata dan nangkap ikan gratisan dan ga susah..secara ga setiap saat bisa kayak gini..ada musim2nya aja

    1. Kalo ikut nyebur malah lebih asyik

  17. Di kampung saya juga sering fenomena ini. Tapi bukan di sungai, di kolam. Orang Minang menyebutnya tabek. Pas kolam-kolam mulai kering, ikan bermunculan ke permukaan dan menepi. Akhirnya kami menangkapi ikan langsung dengan tangan, gak perlu pake alat pancing. Hehehe

    1. Terbayang keasyikannya

  18. Serunya ya liat fenomena alam kaya gini mba. Sebenarnya jadi ada alasan logis ya mba kenapa ikannya pada menepi dipinggir sungai. Tapi masyarakat menganggapnya ini fenomena ikan mabuk. Tadinya saya pikir karena limbah atau apa. Ternyata eh ternyata 🤪😂

    1. Awalnya juga mikir gitu, tapi aslinya krn ikannya pusing

  19. Yang datang seneng banget mbak soalnya biasanya dapet banyak ikan. Kalopun hasilnya cuma dikit pun mereka tetep seneng aja soalnya fenomena kayak gini cuma ada setahun sekali.

    1. Waktunya juga gk dpt diprediksi,jadi makin asyik n menantang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *