PERMASALAHAN BANJIR DI DESA PUCANGRO

Desa Pucangro Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan yang merupakan tempat domisili saya, memiliki masalah klasik di bidang kebencanaan. Kawasan tersebut selalu menghadapi bencana banjir tiap tahunnya. Banjir Di Desa Pucangro seakan sudah menjadi tradisi dan tidak bisa dihindari. Tipe banjirnya sendiri bukan seperti banjir bandang yang sekali datang kemudian surut dalam satu waktu, namun banjir di kawasan ini datangnya secara berangsur-angsur mengikuti derasnya hujan atau meluapnya air sungai. Jangka waktu surutnya sangat lama, bisa kurang dari sebulan tapi kadang hingga berbulan-bulan.

Banjir Di Desa
Kantor Desa Pucangro (sumber gambar : dokumen pribadi)

Kabupaten Lamongan sendiri merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang masuk dalam wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) sungai Bengawan Solo. Topografi ketinggian tanah di sebagian besar wilayahnya yang lebih rendah dari daerah sekitarnya dan juga lebih rendah dari ketinggian sungai Bengawan Solo, mengakibatkan Lamongan menjadi daerah yang rawan terjadi banjir pada saat musim hujan datang. Salah satunya adalah di kawasan Desa Pucangro. Sebagian besar wilayah Kecamatan Kalitengah, Kecamatan Turi dan Kecamatan Karanggeneng juga mengalami hal yang serupa.

Baca juga : Tradisi Menyambut Malam kemerdekaan di Desa

Ada sebuah pameo unik yang berkembang di masyarakat Kabupaten Lamongan mengenai bencana banjir ini. Pameo tersebut berbunyi “Wayae ketigo ora iso cewok, wayae rendeng ora iso ndodok” (Artinya : waktu musim kemarau tidak bisa cebok, waktu musim hujan tidak bisa duduk). Pameo tersebut tidak tercipta begitu saja, namun berkembang di masyarakat akibat adanya bencana banjir yang terus menerus melanda tiap tahun. Saat musim penghujan, air sangat berlimpah ruah hingga kemana-mana, namun saat musim kemarau datang, setetes air menjadi barang yang sangat berharga dan sangat langka.

Masyarakat sudah menyadari bahwasanya letak geografis dari wilayahnya yang berada di dataran rendah dan diapit oleh daerah bonorowo membuat desanya menjadi tempat penampungan air hujan. Ditambah dengan faktor-faktor tambahan lainnya seperti kedangkalan sungai, perubahan alih fungsi lahan, semakin berkurangnya tempat resapan air hujan, dan lain sebagainya membuat bencana banjir di desa seolah menjadi tradisi yang sulit dicegah. Kalau tradisi kupatan di Lamongan banyak yang suka, tradisi banjir tentunya banyak yang tidak menyukainya.

Walaupun banjir menjadi bencana alam yang sering terjadi bahkan hampir tiap tahun menerjang, namun masyarakat tetap tinggal dan bertahan di desa yang didiaminya. Banjir sudah dijadikan hal biasa yang terjadi kala musim hujan melanda. Bahkan mungkin ada yang menjadikan berkah dengan berjualan jaring, jala, ikan dan segala pernak-perniknya di Pasar Wage Desa Pucangro. Asalkan banjirnya tidak sampai di atap rumah, masyarakat tidak akan mengungsi ke tempat lain. Mereka akan tetap bertahan di rumahnya, berlindung dengan segala pola adptasi mereka dan menjaga harta bendanya.

Dalam catatan sejarah, banjir besar yang membuat warga masyarakat mengungsi secara besar-besaran hanya terjadi di Tahun 1965 dan tahun 1968. Banjir tersebut merupakan banjir kiriman dari Kecamatan Babat dikarenakan jebolnya tanggul Truni dan mengakibatkan seluruh rumah tenggelam. Diluar tahun tersebut, masyarakat sudah tidak pernah lagi mengungsi karena banjirnya hanya beberapa centimeter saja memasuki rumah. Bahkan saat banjir besar yang melanda tahun 1996, dimana ketinggian air hampir mencapai 1 meter, masyarakat tidak ada yang mengungsi. Mereka tetap bertahan di rumah masing-masing.

Masyarakat secara tidak langsung sudah dapat memprediksi kapan datangnya banjir. Sehingga segala sesuatunya sudah disiapkan. Berbekal pengalaman berpuluh-puluh tahun menghadapi banjir, masyarakat telah memiliki pola, cara dan strategi tersendiri dalam menyambut musim hujan yang diiringi banjir sesudahnya.

Banjir yang datang sudah tidak lagi dianggap sebagai hal negatif yang mesti dihindari, namun banjir yang datang dimaknai sebagai hal positif dan dijadikan salah satu cara mengais rejeki. Walaupun dampak negatif dari banjir selalu ada dan mengiringi, tapi masyarakat sudah kebal dan berupaya untuk melakukan berbagai adaptasi menghadapi bencana banjir.

(Visited 40 times, 1 visits today)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!