TRADISI KUPATAN DI LAMONGAN

Lebaran sudah lewat seminggu lebih, tapi pembahasan mengenai lebaran tidak pernah bosan untuk dibicarakan. Momentum lebaran di Indonesia tidak pernah terpisahkan dengan namanya ketupat. Saat lebaran tiba, ketupat selalu ada. Baik itu yang berbentuk makanan maupun hanya berbentuk gambar dalam ucapan saja.

Tradisi Kupatan di Lamongan
Bentuk Kupat dari Janur

Ketupat yang terbuat dari anyaman daun kelapa muda (janur) dan berisi nasi/beras bukanlah tradisi budaya Arab atau budaya Islam. Ketupat adalah hidangan khas dari Asia Tenggara khususnya masyarakat Jawa. Ketupat biasanya selalu tersaji di rumah-rumah penduduk dan menjadi menu wajib di hari lebaran. Tapi bagi masyarakat Lamongan dan sekitarnya, tradisi memakan ketupat ini berbeda dengan masyarakat daerah lain. Jika beberapa daerah menyajikan ketupat di hari Lebaran (tanggal 1 Syawal), masyarakat Lamongan memiliki tradisi kupatan yang berbeda. Letak dan kondisi alam Kabupaten Lamongan dapat dibaca di Profil Kabupaten Lamongan Jawa Timur.

Kupatan atau tradisi membuat dan memakan ketupat di Lamongan dilaksanakan 2 kali dalam setahun. Tradisi Kupatan di Lamongan yang pertama dilakukan menjelang Ramadhan atau 2 minggu sebelum puasa ramadhan. Tradisi ini dikenal dengan nama Megengan. Kupatan kedua dilaksanakan 7 hari setelah hari raya idul fitri, tepatnya tanggal 8 Syawal dan disebut dengan riyoyo kupat (Hari Raya Kupat).

Tradisi Kupatan saat Megengan

Masyarakat di Kabupaten Lamongan terutama yang di pesisir utara sangat kental dengan nuansa Islam. Menjelang bulan Ramadhan, untuk mengungkapkan rasa syukur atas kedatangan bulan ramadhan yang mulia, masyarakat mengadakan tradisi Kupatan saat megengan. Tradisi kupatan ini kental dengan sentuhan ajaran Islam karena kupatan di lakukan di malam nisfu sya’ban (tanggal 15 bulan Sya’ban). Dalam ajaran Islam Malam Nisyfu Sya’ban adalah malam ditutupnya buku amalan manusia dalam satu tahun. Keesokan harinya catatan baru dimulai dan harus diawali dengan sesuatu yang baik.

Sebagian masyarakat banyak yang melakukan puasa sunnah nisfu sya’ban untuk menandai datangnya Nisfu sya’ban ini dan berbuka dengan ketupat. Ada beberapa filosofi yang tersirat dalam pembuatan ketupat ini. Filosofi tersebut dapat dibaca di makna tersirat dari kupat dan lepet makanan khas lebaran.

Kupat dan lepet
Kupat dan lepet

Pembuatan ketupat ini biasanya dibarengi dengan pembuatan lepet. Jika ketupat adalah makanan berupa beras yang dibungkus jalur, lepet merupakan makanan yang terbuat dari ketan. Meskipun sama-sama terbuat dari janur, namun cara membungkusnya berbeda. Kupat dibentuk segi empat atau segi lima, sedangkan lepet dibentuk memanjang seperti guling kecil dan ditali.

Kupatan 7 Hari Setelah Lebaran 

Saat lebaran tanggal 1 Syawal masyarakat Lamongan biasanya tidak membuat ketupat untuk disuguhkan di hari lebaran itu. Di hari pertama hingga ke tujuh lebaran, masyarakat biasanya berkumpul dan bersilaturahmi dengan sanak saudara. Terutama dengan keluarga dan handai tolan yang lama tak bersua. Ketupat dibuat dan dimakan pada hari ke 7 lebaran atau tanggal 8 Syawal.

Kupatan ini juga menandai berakhirnya puasa sunnah 6 hari setelah Idul Fitri yang disunnahkan dalam Agama Islam. Dalam ajaran Islam, puasa 6 hari di bulan Syawal pahalanya seperti puasa setahun penuh. Sehingga keutamaan yang luar biasa. Setelah puasa 6 hari tersebut masyarakat baru merayakan hari raya Kupatan. Memang tidak semua masyarakat Lamongan melakukan puasa 6 hari ini, namun tradisi Kupatan di Lamongan pada hari ke 7 lebaran selalu dirayakan.

Tradisi Kupatan di Lamongan
Ketupat yang belum ada isinya

Bagi masyarakat Lamongan, hari raya Idul Fitri itu bukanlah waktu yang tepat untuk langsung menuangkan kegembiraan dan merayakan kemenangan. Karena bisa jadi mereka belum bertemu seluruh keluarga dan saling maaf memaafkan. Saat lebaran memang hari raya sudah dirayakan namun setelah 7 hari setelah lebaran masih ada hari raya lagi yakni Hari Raya kupat. Jadi orang Lamongan seperti saya punya 2 hari raya yang berdekatan.

Ada berbagai cara merayakan tradisi Kupatan di Lamongan. Kalau di desa saya, di desa Pucangro Kecamatan Kalitengah, tradisi Kupatan di tandai dengan membawa kupat dan (temannya) yakni Lepet ke musholla. Di musholla kupat tersebut dimakan bersama sama dan sisanya dibawa balik ke rumah dengan prinsip saling tukar. Yang dibawa pulang diusahakan tidak sama dengan yang dibawa.

Baca juga : Teori Umum Tentang Kebudayaan

Di desa lain seperti Desa Sumberwudi Kecamatan Karanggeneng, acara Kupatan dilaksanakan di Balai desanya. Warga Desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng Lamongan Jawa Timur berkumpul di balai desa dengan membawa kupat dan lepet. Makanan tersebut kemudian dimakan bersama dengan didahului pembacaan do’a. Mereka melakukannya dengan cara duduk lesehan di atas alas yang digelar di lantai balai desa.

Di desa lainnya ada juga yang dilakukan dengan saling menukar kupat dan lepet antar tetangga dan sanak famili. Di Tanjung Kodok yang berlokasi di Paciran Lamongan (sekarang bernama Wisata Bahari Lamongan) tradisi Kupatan selalu dirayakan secara besar-besaran. Bahkan acaranya lebih meriah dibanding tanggal 1 Syawalnya. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan mendukung penuh tradisi tersebut dan memasukkannya dalam agenda daerah tahunan.

Di Wisata Bahari Lamongan, Lebaran Ketupat atau yang biasa disebut Kupatan oleh masyarakat Lamongan, sekarang ini menjadi salah satu wisata budaya yang ramai dikunjungi wisatawan. Acara yang dilakukan setiap tujuh hari setelah Idul Fitri ini dinamai dengan Gebyar Ketupatan. Melalui gebyar ketupatan ini, pemerintah Kabupaten Lamongan ingin menghidupkan kembali tradisi leluhur sekaligus mengenang syiar Islam di Kabupaten Lamongan.

Menurut hikayat, tradisi Riyoyo Kupat (Gebyar Ketupatan) di pesisir Lamongan seperti ini sudah berlangsung turun-temurun mengikuti ajaran dari salah satu walisanga penyebar agama Islam di Lamongan yakni Sunan Drajad.  (baca juga : Perjalanan Ziarah Wali di 4 Propinsi)


Gunungan Kupat
Gunungan Kupat saat Gebyar Ketupat (sumber : detik.com)

Gebyar Ketupatan di WBL diawali dengan parade perahu hias nelayan Pantura dan makin meriah dengan rebutan gunungan ketupat oleh masyarakat yang hadir. Acara diakhiri dengan Kenduri kupat, yakni makan beramai-ramai kupat dengan berbagai sayur dan olahan lauk oleh pejabat dan seluruh masyarakat yang hadir.

Itulah tradisi Kupatan di Lamongan yang unik dan tidak ada di daerah lain. Bagaimana dengan daerah anda? Adakah tradisi unik lainnya. Jika ada tambahan, pertanyaan atau sanggahan terkait tradisi ini bisa ditulis di kolom komentar. Jangan lupa follow akun Twitter saya @Munasyaroh_fadh dan like fanspage blog ini untuk mendapatkan update terbaru dari blog ini.

8 Comments

Silahkan tinggalkan komentar, saran atau pertanyaan di bawah ini

error: Content is protected !!