Tradisi Menyambut Malam Kemerdekaan Ala Warga Desaku

Sorak sorai menyambut perayaan kemerdekaan menggelegar di seluruh Nusantara. Diantara 12 bulan tahun di Masehi, bulan Agustus termasuk bulan yang istimewa. Di bulan tersebut pekik proklamasi dikumandangkan. Di bulan tersebut seluruh rakyat Indonesia merayakannya. 
Biasanya jika sudah masuk bulan Agustus, di jalanan akan mulai berjejer penjual bendera. Banyak instansi dan juga warga masyarakat mulai mengecat ulang gapura atau pagarnya. Aneka warna umbul-umbul melambai di sepanjang jalan. Warna merah putih mendominasi. Berbagai kegiatan diadakan untuk menyemarakkan Bulan Kemerdekaan Indonesia. Berbagai tradisi menyambut Malam Kemerdekaan diadakan.  

Jika dahulu tanggal 16 Agustus 1945, para tokoh nasional berjibaku menyusun naskah proklamasi guna dikumandangkan esok hari dan menjadi sejarah indah perjuangan Indonesia, maka untuk mensyukurinya warga masyarakat Indonesia masa kini mengadakan Malam Tasyakuran di malam hari Kemerdekaan. Meski tidak ada perintah atau instruksi resmi terkait kegiatan ini, namun hal itu sudah menjadi tradisi turun temurun dari generasi ke generasi. 

Tradisi Menyambut Malam Kemerdekaan
Tradisi Menyambut Malam Kemerdekaan

Di Desaku, desa Pucangro Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan, malam hari sebelum upacara bendera tanggal 17 Agustus, selalu diadakan kegiatan malam tasyakuran atau dalam bahasa disini disebut meleman. Saat malam tasyakuran ini biasanya warga akan datang dan kumpul di suatu tempat untuk kemudian membaca tahlil dan mendoakan arwah para pahlawan yang telah gugur membela tanah air Indonesia. Kegiatan kemudian ditutup dengan ramah tamah, makan bersama dan kegiatan lainnya yang disepakati bersama. 

Baca juga : Perjalanan Komunikasi dengan Teman Lama

Kegiatan yang dilakukan tiap tanggal 16 Agustus ini, titik kumpulnya berada di wilayah masing-masing RT. Berhubung di desaku ada 14 RT, maka ada 14 tempat yang dijadikan tempat berkumpul bersama. Ada yang digelar di tengah jalan RT, ada pula yang digelar di pelataran salah satu warga masyarakat. Pokoknya semua warga satu RT berkumpul di satu tempat yang disepakati. Meski masing-masing Rukun Tetangga (RT) membuat acara dengan format yang berbeda, namun pelaksanaannya dilakukan secara serentak seusai shalat Isya. 

Masyarakat bahu membahu mempersiapkan acaranya dan makanan yang dihidangkan adalah hasil urunan warga sendiri. Tidak ada batasan minimal maupun maksimal dalam penyajian makanan. Masing-masing orang boleh membawa makanan ringan, kue atau buah dari rumahnya dan disajikan di tempat acara serta dapat dimakan siapa saja.

Tradisi Menyambut Malam Kemerdekaan
Makan bersama sebagai cermin kerukunan

Untuk makanan yang berupa nasi dan lauk pauk, dipersiapkan di rumah salah satu warga RT atau di rumah ketua RT. Menunya bisa bermacam-macam sesuai kesepakatan dan dana yang dimiliki. Konsepnya adalah dari warga, oleh warga dan untuk warga. Ada RT yang urunan menyembelih kambing sebagai lauk, ada yang menyembelih hewan ayam, dan ada pula yang hanya berupa lalapan saja. Yang terpenting adalah kebersamaan antar warga dan harus ada nasi tumpengnya. 

Baca juga : Cara Mengolah Daging Menjadi Sosis

Beberapa tahun yang lalu, tradisi Menyambut Hari Kemerdekaan ala warga Desaku ini hanya dilakukan oleh warga yang berjenis kelamin laki-laki saja. Namun di 3 atau 4 tahun terakhir semua warga RT dibolehkan untuk ikut serta. Baik laki-laki, perempuan, anak-anak hingga dewasa dapat mengikuti kegiatan malam tasyakuran tersebut bersama. 
Tak terbayang betapa meriahnya suasana. Jika acara sudah digelar, jangan coba-coba keluar rumah atau masuk ke kampung, karena dipastikan semua jalan akan tertutup akibat jalanan yang sudah diduduki warga.

Kebersamaan antar warga masyarakat

Kegiatan semacam ini merupakan salah satu penerapan nilai-nilai gotong royong dan kerukunan antar warga masyarakat. Warga masyarakat yang biasanya sibuk sendiri dengan aktivitas dan kegiatannya, khusus untuk malam tasyakuran 17 Agustus tersebut berkumpul bersama di satu tempat mengenyampingkan ideologi dan rasa individualisme. Hal-hal seperti inilah yang sebenarnya menjadi keunggulan bangsa Indonesia sejak zaman dahulu yang dikenal dengan gotong royong, kerukunan dan toleransinya. Akan tetapi akibat tergerus oleh arus teknologi dan juga paham individualisme, sosialisasi dengan tetangga ataupun lingkungan sekitar kerap terabaikan. Kegiatan malam tasyakuran juga menjadi bukti rasa persatuan dan kesatuan yang tinggi antar warga masyarakat. 

Demikianlah tradisi Menyambut Hari Kemerdekaan ala warga Desaku, bagaimana dengan anda ? Apakah anda masih mengikuti tradisi malam tirakatan ini atau justru sebaliknya sekarang anda berada dalam lingkungan yang sangat indiviudalistis ??

6 Comments

Silahkan tinggalkan komentar, saran atau pertanyaan di bawah ini

error: Content is protected !!