Cerita ini merupakan salah satu perjalanan terjauhku di akhir Desember 2025 lalu. Perjalanan darat dari Lamongan, Jawa Timur menuju Serang, Banten, dalam rangka agenda Outbound Monitoring Tim Avatar BG Muchtar. Kalau dihitung-hitung, total waktu di jalan kurang lebih 24 jam. Iya, sehari semalam merasakan aurora dalam bis dengan duduk, nunggu, bengong, dan kadang mikir, “Ini kapan nyampe sih?”. Meskipun ini bukan Pengalaman pertama ke arah barat via darat, tapi ini jadi pertama kalinya bagi saya naik Bis secara rombongan menuju Jakarta dan sekitarnya.

Pagi itu saya berangkat dari rumah sekitar jam 6 pagi. Nebeng sepupu ke titik kumpul, yakni di depan Ponpes SPMAA. Perjalanan lancar, gak sampai satu Jam. Sampai lokasi, bus sebenarnya sudah siap. Tapi namanya juga rombongan, pasti ada saja yang belum siap. Ada yang masih beberes barang, ada yang nyapu, ada yang sarapan. Bahkan ada yang baru mandi. Saya ikut sarapan juga, sekalian ngisi tenaga, karena di rumah gak ikut sarapan juga.
Rencananya, bus berangkat jam 08.00 pagi. Ada seremonial pemberangkatan dan foto bersama dulu jadi agak telat dikit. Masih wajarlah….. Ketika semua sudah naik bus dan duduk manis di kursinya masing-masing. Eh, tiba-tiba ada pengumuman dari panitia, masih harus nunggu satu orang lagi.
Awalnya sih masih santai. Mikirnya, “Ah paling bentar.” Tapi ternyata nunggu itu nggak sebentar. Orang yang ditunggu nggak datang-datang. Saya sendiri cuma bisa diam. Maklum, masih anak baru di tim ini. Jadi ya ngikut alur saja, nggak banyak komentar. Daripada bengong, akhirnya saya ambil smartphone dan nulis satu artikel. Judulnya Pendidikan Militer Tidak Selama Yang Saya Kira. Inspirasinya dari obrolan dengan teman lama yang anaknya masuk TNI AD. kelar nulis, langsung saya posting di blog. Lumayan, satu artikel lahir dari hasil nunggu ini.
Waktu terus jalan, sampai akhirnya hampir dua jam kami cuma duduk di bus tanpa kepastian. Baru sekitar jam 10 pagi orang yang ditunggu datang juga. Setelah itu, tanpa banyak basa-basi, dua bus langsung berangkat.
Saya sempat mikir, ini bus bakal ke arah Babat dan Tuban, karena kan mau ke barat ya Jawa. Ternyata malah ke arah timur dulu masuk tol. Langsung keinget perjalanan saya ke Jakarta bareng teman blogger tahun lalu cara BloggerDay 2024. Rutenya mirip. Bedanya dulu naik Hiace, sekarang bus besar.
Karena sebelumnya saya selalu mabuk kala perjalanan jauh, maka persiapan saya cukup extra. Di tas saya sudah ada “paket darurat” buat mabuk perjalanan. Ada kresek kecil, permen, minuman soda, minyak angin dan buah jeruk. Barang ini jadi bawaan wajib kala perjalanan ala saya. Panitia juga sempat membagikan minyak angin sebelum berangkat. Jadi nambah stok.
Sebelumnya, di November 2025, saya juga ke Jakarta. Tapi waktu itu naik kereta pas berangkat dan pulangnya naik pesawat. Jadi perjalanan darat pulang-pergi naik bus kali ini benar-benar nambah pengalaman baru.
Karena perjalanannya siang hari, saya bisa menikmati pemandangan. Saya duduk di dekat jendela, jadi bebas lihat luar. Tol Gresik, Jombang, Madiun, sampai Ngawi terasa cukup lancar. Sawah hijau di kanan kiri, jalan tol juga nggak terlalu ramai. Lumayan bikin pikiran agak adem, meskipun duduk lama. Kadang-kadang mata merem, tapi tidak bisa tidur sama sekali.

Masalah mulai muncul waktu sampai Exit Tol Ngawi. Harusnya ada penumpang yang naik di sini. Bus sempat melipir, tapi entah kenapa nggak jadi berhenti. Alhasil penumpang itu harus naik ke bus lain yang berhenti. Meski sudah penuh sesak, tapi daripada muter ya dinikmati dulu. Rencananya nanti dipindah lagi di rest area terdekat. Dari sini saya mulai mikir, “Wah, perjalanan kayaknya bakal panjang ceritanya.”
Kami masuk ke rest area Ngawi. Hujan mulai turun cukup deras. Jam sudah sekitar jam 1 siang. Saya langsung sholat dhuhur dan ashar dijamak di masjid Rest Area, tentu saja dilaksanakan dengan berjamaah. Setelah itu beli cemilan di minimarket. Teman-teman ada yang ngopi, ada yang beli gorengan. Kami berhenti lumayan lama karena harus nunggu bus satunya dan mindahin penumpang yang tadi ketinggalan, sekalian istirahat sejenak.
Sekitar jam 2 lewat menuju setengah 3 sore, perjalanan dilanjutkan. Cuaca nggak jelas, kadang panas, kadang hujan. Bus jalan terus, mata saya merem, tapi nggak bisa tidur. Badan capek, tapi otak masih melek.
Beberapa jam kemudian, bus berhenti lagi di rest area wilayah Semarang. Katanya ini jadwal makan. Tapi karena dari awal sudah banyak molor, makan siang berubah jadi makan malam yang kesorean. Rest areanya ramai banget. Banyak rombongan bus lain juga makan. Jadi harus sabar nunggu giliran. Makannya prasmanan. Saya manfaatkan waktu itu buat ke kamar mandi, ngecas HP, dan sekadar jalan-jalan dan berdiri biar kaki nggak kaku.
Menjelang maghrib, panitia bilang cukup wudhu saja. Sholatnya nanti di atas bus. Padahal saat itu sudah naik ke lantai atas buat sholat, tapi gak ada temannya. Sebagai anak baru, ya saya ikut saja. Jujur ini pengalaman baru buat saya. Sholat berjamaah di atas bus sambil duduk. Sekalian maghrib dan isya dijamak supaya nggak ribet berhenti lagi.
Saya kira setelah itu perjalanan bakal lancar. Ternyata belum. Drama baru dimulai. Sopir bus mendadak nggak mau jalan. Katanya urusan uang belum beres. Dari cerita penumpang lain, ternyata pihak travel belum transfer uang jalan ke PO bus. Bahkan bensin sebelumnya sempat ditalangi panitia. Sopir dan kenek nggak punya uang cukup buat lanjut. Panitia sendiri sudah bayar ke travelnya.
Saya cuma bisa diam. Nggak ikut nimbrung. Gak ikut komentar apapun. Dalam hati malah kebayang panitianya pasti lagi pusing luar biasa. Kalau saya jadi panitia rasanya tentu gak karuan. Dua bus penuh penumpang, ada anak-anak, ada balita, malam hari, hujan rintik-rintik. Situasi kayak gini bikin saya mikir, perjalanan itu bukan cuma soal niat berangkat, tapi juga soal kesiapan, tanggung jawab, dan sistem yang rapi.
Karena capek duduk di bus, saya turun ke rest area. Duduk sambil ngecas HP dan kepala nyender di meja. Cuaca dingin bikin bolak-balik pengin ke kamar kecil. Eh ternyata toiletnya bayar. Dua ribu sih, tapi saya nggak bawa dompet. Akhirnya minjam ke teman. Dari situ saya agak trauma kalau berhenti di test area, tanya dulu bayar apa gratis. Sekalian persiapan duit kalau turun dari bis.
Kami cukup lama terkatung-katung di rest area itu. Baru sekitar jam 10 malam masalahnya selesai. Penumpang diminta naik bus lagi, dan perjalanan dilanjutkan. Sepanjang jalan hujan masih sering turun. Mata saya kadang merem, kadang kebangun. Tidur nggak pernah benar-benar nyenyak.

Selama perjalanan, beberapa kali bus berhenti sebentar. Kayaknya sopirnya istirahat dan ngopi. Saya nggak ikut turun. Sudah malas, capek dan dingin. Menjelang subuh, sekitar jam setengah 4, bus masuk SPBU. Saya ikut turun buat ke kamar kecil dan ambil wudhu. Sholat subuh lagi-lagi dilakukan berjamaah di atas bus yang lagi jalan. Gelap, hujan, dan saya nggak tahu kami ada di mana. Pokoknya ikut saja.
Pas matahari mulai naik, tulisan-tulisan di pinggir jalan mulai kelihatan. Dari situ baru sadar, kami sudah masuk Jakarta. Sekitar jam 6 pagi, rombongan akhirnya sampai di lokasi tujuan. Yakni di SPMAA Serang.
Hal yang paling saya syukuri dari perjalanan ini: saya nggak mual dan nggak muntah sama sekali. Paling cuma capek duduk lama. Busnya tipe premium dengan kursi 2-2. Saya duduk bareng teman aliyah, jadi masih bisa ngobrol ngalor-ngidul buat ngilangin bosan.
Meski begitu, ada drama kecil lain. AC bus bocor. Air netes dari atas, kadang kena jaket saya. Di area kursi sebelah kiri saya malah lebih parah, airnya malah deras banget sampai harus ditampung pakai ember. Beberapa penumpang cowok gantian megang ember supaya airnya nggak tumpah.
Perjalanan ini memang capek. Banyak nunggu, banyak drama, banyak kejadian di luar rencana. Tapi dari perjalanan panjang ini, saya belajar satu hal: kadang perjalanan bukan soal cepat sampai, tapi soal seberapa kuat kita nerima semua hal yang datang di tengah jalan. Dinikmati saja semuanya. Insyaallah ada banyak pembelajaran berharga.
