Coret-coret

Cerita Banjir di Desaku : Ikan Tak Beridentitas

Cerita banjir di desaku sepertinya akan saya buat berseri. Karena ada banyak cerita yang terukir. Semenjak hujan deras yang mengguyur pada Kamis malam tanggal 10 April kemarin, debit air di desa terus naik. Sudah hampir seminggu desaku terkena banjir. Walaupun tidak ada hujan yang turun namun air yang berasal dari luberan air Sungai Bengawan Solo dan Bengawan Njero tersebut terus-menerus menggenangi area perkampungan dan persawahan.

Sempat mengira banjir ini hanya sekedar lalu saja karena masyarakat desa sudah punya strategi menghadapi banjir yang dilakukan tiap tahun. Namun banjir yang datang kali ini, intensitasnya lumayan besar. Biasanya banjir hanya menggenang di jalan atau got saja dan bisa diatasi dengan pompa-pompa air. Kali ini sangat susah untuk diantisipasi. Menurut informasi yang beredar ada puluhan desa di Kabupaten Lamongan yang terendam banjir. Desaku hanya salah satunya.

Cerita Banjir di Desaku

Konon kondisi banjir lumayan besar di desaku ini baru terjadi semenjak 20 tahun yang lalu. Tiap tahun memang langganan banjir, namun tahun 2020 termasuk banjir kategori parah. Orang dewasa dan orang tua sudah pernah mengalami banjir parah seperti ini, bahkan pernah lebih besar lagi sampai atap rumah. Namun bagi anak-anak dan remaja di desaku, banjir seperti ini baru pertama kali di alami. Dulu belum ada foto dan video jadi tidak ada bukti atau dokumentasi yang bisa diperlihatkan. Hanya cerita dari mulut ke mulut yang bisa diberikan. Namun sekarang semua orang punya Hp dan bisa mengabadikan peristiwa banjirnya.

Baca juga : Permasalahan Banjir di Desa Pucangro

Sejak rumahku kemasukan air pada Jumat dini hari hingga saat ini, ada banyak sekali hal yang ingin aku tuangkan dalam tulisan. Namun karena kesibukan menyelamatkan buku-buku dan memindahkan barang ke tempat yang aman, aku tidak sempat menuliskannya. Baru sekaranglah aku bisa menuangkan apa yang aku lihat dan aku rasakan dalam sebuah tulisan. Karena begitu banyaknya ide dan keterbatasan waktu, mungkin cerita banjir di desaku akan aku buat dalam beberapa bagian. 

Bagian pertama membahas tentang ikan-ikan yang lepas dari pemeliharaan. Nanti masih pengen membahas tentang lumpuhnya pasar Wage (pasar tradisional), wisata ala anak anak, kegiatan saat banjir melanda dan berbagai hal lainnya. 

Ikan Lepas Yang Tak Bertuan

Limpahan air yang melanda pemukiman warga di desa berimbas juga di area persawahan yang dijadikan tambak. Pada musim penghujan daerah Kecamatan Kalitengah, Turi dan Glagah, areal persawahannya menjadi tambak air tawar. Saat peralihan musim hujan ke musim kemarau baru ditanami padi. Jadi dalam setahun panen ikan sekali dan panen padi sekali. Musim kemarau panjang tidak ditanami apa-apa.

Tiap terjadi banjir. Saat para petani sawah tambak berjibaku menyelamatkan ikan-ikan yang dipeliharanya supaya tidak terseret banjir, ada pihak-pihak lain yang justru panen ikan di aliran sungai. Biasanya mereka ini adalah orang yang tidak memiliki garapan tambak, atau mereka yang memiliki tambak tapi tidak begitu luas. Banyak yang berpesta di tengah bencana. 

Berbagai alat pencari ikan digunakan untuk mendapatkan ikan yang terseret banjir. Mulai dari pancing, jala, jaring hingga wuwu. Penggunaan alat-alat tersebut tentunya disesuaikan dengan keahlian masing-masing. Alat yang paling cepat mendapatkan ikan adalah jala, tapi butuh keahlian khusus untuk menggunakannya. Disamping itu harganya juga lumayan mahal. Alat yang paling simpel digunakan tentunya adalah pancing, semua orang pasti bisa menggunakannya. Tapi hasilnya paling sedikit dibandingkan dengan alat lainnya.

Para pencari ikan berjejer di pinggiran sungai dekat areal sawah tambak. Beraneka ikan didapatkan. Mulai dari Mujair, Nila, Bandeng, Tombro hingga udang vanami. Ukurannya bervariasi ada yang kecil dan ada yang besar. Mau gimana lagi, ikan di sawah tambak tidak memiliki tanda pengenal ditubuhnya. Tidak ada yang tau ikan yang ini atau yang itu punya siapa. Jadi kalau ada yang lepas dari areal pertambakan dan masuk aliran irigasi sungai, itu sudah menjadi milik umum. Siapapun bisa mengambil dan memilikinya. 

Baca juga : Fenomena Ikan mabuk di Bentaran Sungai Bengawan Solo

Pemilik tambak tidak ada yang bisa mengaku kalau itu adalah ikan miliknya. Para petani tambak hanya bisa melihat saja sambil berusaha untuk membentengi area tambak miliknya menggunakan warung supaya tidak ada lagi ikan yang lepas. Kembali lagi pada prinsip, Rejeki sudah ada yang mengatur. Meskipun ikan di tambak lepas, Allah SWT pasti sudah memberikan jatah rejeki lainnya. 

Karena ikan tidak tak beridentitas, terkadang bisa jadi, tambak milik seorang petani saat panen malah hasilnya lebih banyak dan bervariasi. Tambaknya kemasukan ikan dari luar. Tapi tak sedikit yang malah sebaliknya. Hasil panen lebih sedikit dari seharusnya. Pokoknya Cerita banjir di desaku yang seperti ini tiap tahun selalu ada. Sayangnya karena akses jalan yang tidak memungkinkan, aku tidak bisa langsung mengabadikan gambar di sawah tambak. Hanya bisa menampilkan hasil ikannya saja itupun fotonya milik tetangga. 

Munasya

Blogger, Writer and Teacher
Contact Person :
email : sy4r0h@gmail.com
Twitter : @Munasyaroh_fadh
IG. : @Muns_Fadh

Anda mungkin juga suka...

1 Komentar

  1. Kalau ikannya banyak seperti itu pasti harganya murah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *