Budaya Coret-coret

Lebaran 2020 Yang Berbeda, Tradisi Banyak Yang Hilang

Lebaran 2020 tahun ini memang sungguh berbeda. Lebarannya bisa dibilang tidak biasa bagi semua orang. Rutinitas dan kebiasaan yang sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun berubah drastis karena adanya wabah virus Corona. Kebiasaan berkumpul bersama keluarga, mudik ke kampung halaman dan berduyun-duyun ke Masjid untuk sholat Id nyaris tidak ada.

Akses jalan benar-benar lengang. Semua jalanan dilihat mulai dari jalan raya, jalan alternatif hingga jalanan di dalam desa menjelang hari raya hingga beberapa hari setelah hari sepi seperti kota mati. Tak terlihat kerumunan orang atau pengendara yang hilir mudik. Kalaupun ada, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Sejarah baru di hari Raya tercipta di tahun 2020 ini.

Akibat virus Corona yang telah menelan banyak nyawa, berbagi peraturan dibuat oleh pemerintah. Disamping berimbas pada dunia pendidikan, virus Corona juga merubah tatanan segalanya. Bidang Budaya, Agama, Ekonomi, Pariwisata dan lainnya semua terkena imbasnya.

Cuti Lebaran

Biasanya tiap tahun ada cuti bersama hingga 1 Minggu di momen lebaran. Namun di tahun 2020, cuti bersama Lebaran yang harusnya di tanggal 26 hingga 29 Mei 2020 ditiadakan. Cuti lebaran di geser ke akhir tahun yakni pada tanggal 28 hingga 31 Desember 2020. Untuk libur karena Hari Raya Idul Fitri Tahun
2020 tetap pada tanggal 24-25 Mei 2020.

Cuti lebaran tahun 2020 yang hanya 2 hari ini membuat para pekerja atau pegawai akhirnya memilih untuk tidak mudik ke kampung halaman dan tetap stay di domisili masing-masing. Mobilitas masyarakat akhirnya bisa ditekan seminimal mungkin dan membuat suasana lebaran menjadi berbeda.

Dilarang Anjangsana

Selain larangan mudik, peraturan baru yang dibuat karena adanya wabah virus Corona adalah larangan untuk anjangsana atau silaturahmi di lingkungan tempat tinggal. Desa-desa di wilayah Kabupaten Lamongan bahkan banyak yang menerapkan aturan lockdown lokal. Masyarakat dari luar desa di larang masuk ke dalam desa. Gerbang masuk desa di portal dan dijaga. Kalau ada yang ingin masuk di mintai KTP, kalau terbukti penduduk desa setempat boleh masuk. Tapi kalau bukan penduduk desa tersebut, diminta untuk balik.

Pamflet dilarang Anjangsana yang disebar ke seluruh desa

Di desa saya sendiri, karena begitu patuh dan proteknya pemerintahan desa terhadap upaya pemutusan penyebaran virus corona-19, rumah-rumah warga tertempel stiker tidak menerima tamu. Keluarga jauh dan para tetangga dilarang untuk saling berkunjung. Istilah lainnya mungkin disebut gerakan tutup pintu. Silaturahmi hanya diperuntukkan untuk keluarga inti saja.

Sholat Ied di rumah

Suasana yang begitu aneh dan ganjil terjadi di lebaran tahun ini. Pemerintah menganjurkan untuk sholat Idul Fitri dirumah bersama keluarga. Sepanjang perjalanan hidup saya, ini baru pertama kali terjadi. Tidak ada kegiatan sholat ied berjamaah seperti biasanya. Masjid desa yang biasanya penuh dengan umat muslim yang melaksanakan sholat ied sepi dan lengang. Meskipun banyak yang protes tapi tidak diindahkan.

Bagi keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang agamis, Sholat Idul Fitri benar-benar dilaksanakan di rumah bersama keluarga besar. Namun yang biasa-biasa saja memilih tidak melakukan shalat idul Fitri. Beruntung saya memiliki keluarga besar yang agamis dan bisa melaksanakan Sholat Idul Fitri di mushola dekat rumah.

Tradisi Yang Hilang

Biasanya menjelang lebaran, tiap rumah menyiapkan jajanan lebaran di meja masing-masing. Namun karena adanya larangan anjangsana, jajanan itu tidak lagi diperlukan. Jajanan akhirnya disimpan dan dimakan sendiri. Begitu juga dengan pemberian angpao untuk anak-anak, tradisi itu juga hilang.

Biskuit

Tradisi lebaran yang lain seperti megengan, kirim parcel/makanan, ziarah kubur dan kupatan masih berlangsung walaupun dengan intensitas yang kecil.

Memang ada bagusnya lebaran 2020 yang Berbeda ini. Setidaknya tidak ada pameran baju lebaran baru, gamis baru, sandal baru atau mukena baru di hari raya. Jajanan yang biasanya tumpah ruah jadi tidak ada. Semua terlihat sangat teramat biasa, seolah-olah tidak ada hari raya

Menghadapi itu semua, saya pribadi mensikapinya dengan biasa saja. Ada banyak hikmah yang bisa diambil, yang penting tetap bersyukur, ikhlas dan menikmatinya. Mau bagaimana lagi, keadaan memang seperti ini. Pandemi telah merusak semua tatanan dan segi kehidupan agama dan masyarakat negeri ini.

Untuk anjangsana dan silaturahmi cukup memanfaatkan teknologi internet yang ada.

Tradisi lebaran unik

Akan menjadi sebuah cerita dan sejarah dimasa mendatang, dengan tetap berada dirumah telah dianggap membantu keamanan dan keselamatan suatu desa, bangsa dan negara.

Hari ini Hari Kemenangan tanpa merayakan..
Dimana memaafkan tak harus saling berjabat tangan.. Kembali ke fitri tak harus kunjung ke sanak famili. Setiap senja selalu akan bersambut pagi. Semoga wabah segera berlalu dan pergi dan kehidupan normal seperti sediakala. Aamiin…

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1441H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Munasya

Blogger, Writer and Teacher
Contact Person :
email : sy4r0h@gmail.com
Twitter : @Munasyaroh_fadh
IG. : @Muns_Fadh

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *