Anak-anak saat ini sangat mudah mendapatkan informasi dari internet. Cukup menggunakan smartphone, mereka dapat menemukan berita, video, gambar, dan berbagai informasi lainnya dalam waktu singkat. Masalahnya, tidak semua informasi yang ditemukan di internet merupakan informasi yang benar.

Anak perlu memahami bahwa informasi yang muncul di media sosial atau internet tidak selalu dapat dipercaya. Ada informasi yang benar, ada yang keliru, dan ada pula informasi yang sengaja dibuat untuk menyesatkan pembaca. Karena itu, kemampuan membedakan informasi benar dan hoaks menjadi bagian penting dari literasi digital anak. Kemampuan ini perlu dikenalkan secara bertahap sesuai usia dan kemampuan anak.
Apa Itu Hoaks?
Hoaks adalah informasi palsu atau menyesatkan yang disebarkan seolah-olah sebagai informasi yang benar. Hoaks dapat berbentuk tulisan, foto, video, rekaman suara, maupun pesan berantai. Informasi hoaks tidak selalu terlihat aneh. Kadang informasi tersebut dibuat dengan judul yang meyakinkan dan menggunakan gambar yang terlihat nyata. Hal ini membuat anak yang belum terbiasa memeriksa informasi menjadi lebih mudah percaya.
Anak perlu memahami bahwa sesuatu yang terlihat meyakinkan belum tentu benar. Informasi tetap perlu diperiksa sebelum dipercaya atau dibagikan kepada orang lain.
Mengapa Anak Perlu Belajar Mengenali Hoaks?
Anak yang aktif menggunakan internet akan bertemu dengan berbagai jenis informasi. Mereka bisa mendapatkannya dari media sosial, mesin pencari, grup percakapan, video, maupun aplikasi lainnya. Jika anak terbiasa menerima semua informasi tanpa memeriksa kebenarannya, mereka dapat dengan mudah mempercayai informasi yang salah. Bahkan, mereka bisa ikut menyebarkannya kepada teman atau anggota keluarga.
Mengajarkan anak mengenali hoaks bukan berarti membuat anak takut menggunakan internet. Tujuannya adalah membangun kebiasaan untuk berpikir dan memeriksa informasi sebelum mempercayainya.
1. Ajarkan Anak Tidak Langsung Percaya
Langkah pertama yang dapat dilakukan orang tua adalah mengajarkan anak untuk tidak langsung percaya pada setiap informasi yang mereka lihat.
Ketika anak menemukan informasi yang menarik, ajak mereka berhenti sejenak dan bertanya. Siapa yang membuat informasi tersebut? Dari mana sumbernya? Kapan informasi tersebut dibuat?
Kebiasaan sederhana ini dapat membantu anak memahami bahwa informasi perlu diperiksa sebelum dianggap benar.
2. Perhatikan Sumber Informasi
Sumber menjadi salah satu hal penting yang perlu diperiksa. Anak dapat diajarkan untuk melihat dari mana sebuah informasi berasal.
Jika informasi berasal dari akun atau website yang tidak jelas, anak perlu lebih berhati-hati. Sebaliknya, informasi dari lembaga resmi atau sumber yang memiliki reputasi baik dapat menjadi bahan pembanding.
Orang tua dapat memberikan contoh secara langsung. Ketika membaca sebuah berita bersama anak, tunjukkan nama website atau lembaga yang menerbitkannya. Jelaskan bahwa sumber informasi perlu diperhatikan.
3. Jangan Hanya Membaca Judul
Judul berita sering dibuat menarik agar orang mau membuka dan membaca isinya. Ada pula judul yang sengaja dibuat berlebihan untuk mendapatkan perhatian.
Karena itu, anak perlu dibiasakan membaca isi informasi sebelum mengambil kesimpulan. Jangan hanya mempercayai judul atau potongan informasi yang muncul di media sosial.
Jika mendapatkan informasi melalui video pendek, anak juga perlu memahami bahwa potongan video belum tentu memberikan seluruh konteks dari sebuah kejadian.
4. Periksa Tanggal Informasi
Informasi lama dapat kembali beredar dan dianggap sebagai informasi baru. Karena itu, tanggal publikasi juga perlu diperhatikan.
Misalnya ada berita mengenai sebuah kejadian yang sebenarnya terjadi beberapa tahun lalu. Jika seseorang hanya melihat judulnya tanpa memeriksa tanggal, informasi tersebut dapat dianggap sebagai kejadian yang baru saja terjadi.
Anak yang sudah cukup besar dapat mulai dibiasakan melihat tanggal publikasi sebelum mempercayai sebuah informasi.
5. Bandingkan dengan Sumber Lain
Satu informasi sebaiknya tidak langsung dipercaya jika hanya ditemukan dari satu sumber. Anak dapat diajarkan untuk mencari informasi pembanding.
Misalnya anak menemukan informasi tentang sebuah kejadian. Ajak mereka mencari informasi yang sama melalui sumber lain. Apakah informasinya sama atau justru berbeda?
Cara ini dapat membantu anak memahami bahwa membandingkan beberapa sumber merupakan salah satu cara untuk memeriksa informasi.
6. Waspadai Judul yang Terlalu Sensasional
Informasi hoaks sering menggunakan judul yang membuat pembaca merasa terkejut, takut, marah, atau penasaran. Tujuannya bisa saja untuk mendorong orang membuka dan membagikan informasi tersebut.
Anak perlu memahami bahwa judul yang membuat emosi meningkat bukan berarti informasinya benar.
Ajarkan anak untuk tidak terburu-buru membagikan informasi hanya karena judulnya menarik. Baca isinya dan periksa sumbernya terlebih dahulu.
7. Periksa Foto dan Video
Foto dan video juga dapat digunakan untuk menyebarkan informasi yang keliru. Sebuah foto yang benar bisa saja digunakan untuk menjelaskan kejadian yang berbeda.
Anak perlu memahami bahwa melihat foto atau video bukan bukti bahwa seluruh informasi yang menyertainya benar.
Untuk anak yang lebih besar, orang tua dapat mengenalkan kebiasaan mencari sumber asli foto atau video. Jika kemampuan tersebut belum memungkinkan, cukup ajarkan anak untuk bertanya dan tidak langsung membagikannya.
8. Ajarkan Anak Bertanya
Tidak semua informasi harus langsung diketahui jawabannya. Anak justru perlu dibiasakan bertanya ketika menemukan informasi yang membuat mereka ragu.
Mereka dapat bertanya kepada orang tua, guru, atau orang dewasa lain yang dipercaya. Jangan membuat anak merasa salah hanya karena mempercayai informasi yang ternyata keliru.
Yang lebih penting adalah membantu anak memahami cara memeriksanya. Dengan begitu, kesalahan tersebut dapat menjadi bagian dari proses belajar.
9. Berikan Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
Literasi digital akan lebih mudah dipahami jika anak mendapatkan contoh yang dekat dengan kehidupan mereka.
Orang tua dapat menggunakan berita yang sedang dibaca, pesan yang masuk ke grup keluarga, atau informasi yang muncul di media sosial sebagai bahan diskusi.
Misalnya ketika ada pesan berantai yang belum jelas kebenarannya, orang tua dapat mengajak anak memeriksa sumbernya. Anak dapat melihat bagaimana sebuah informasi diperiksa sebelum dipercaya.
10. Ajarkan Anak Tidak Sembarangan Membagikan Informasi
Setelah mengetahui cara memeriksa informasi, anak juga perlu memahami tanggung jawab ketika membagikannya. Informasi yang dibagikan kepada orang lain dapat menyebar dengan cepat. Jika informasi tersebut ternyata salah, anak bisa ikut menjadi bagian dari penyebaran informasi yang keliru.
Karena itu, biasakan anak melakukan pemeriksaan sederhana sebelum menekan tombol bagikan. Jika belum yakin dengan kebenarannya, lebih baik tidak membagikannya.
Orang Tua Perlu Ikut Belajar
Mengajarkan anak membedakan informasi benar dan hoaks bukan hanya tugas anak. Orang tua juga perlu memiliki kebiasaan memeriksa informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya. Anak biasanya belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua terbiasa membagikan informasi tanpa memeriksa sumbernya, anak dapat meniru kebiasaan tersebut.
Sebaliknya, ketika orang tua menunjukkan kebiasaan memeriksa sumber, membaca informasi secara lengkap, dan membandingkan beberapa sumber, anak dapat melihat contoh nyata literasi digital dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan Membuat Anak Takut Menggunakan Internet
Tujuan mengajarkan anak mengenali hoaks bukan untuk melarang mereka menggunakan internet. Internet tetap memiliki banyak manfaat untuk pendidikan, komunikasi, kreativitas, dan pengembangan pengetahuan.
Anak hanya perlu dibekali kemampuan untuk menggunakannya dengan lebih bijak. Mereka perlu mengetahui bahwa informasi di internet harus dipilih dan diperiksa.
Semakin sering anak berlatih memeriksa informasi, semakin terbiasa mereka untuk tidak langsung percaya pada apa yang muncul di layar.
Kesimpulan
Mengajarkan anak membedakan informasi benar dan hoaks merupakan bagian penting dari literasi digital. Anak perlu memahami bahwa tidak semua informasi yang ditemukan di internet dapat langsung dipercaya.
Orang tua dapat mengenalkan beberapa kebiasaan sederhana, seperti memeriksa sumber, membaca isi informasi secara lengkap, melihat tanggal publikasi, membandingkan beberapa sumber, serta tidak terburu-buru membagikan informasi.
Kemampuan tersebut tidak harus diajarkan dalam satu waktu. Orang tua dapat mengenalkannya melalui percakapan dan contoh yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat belajar menjadi pengguna internet yang lebih kritis. Mereka tidak hanya mampu mencari informasi, tetapi juga mampu menilai informasi sebelum mempercayai dan membagikannya.
