Tinggal di desa membuat saya sering menemukan hal-hal sederhana yang sebenarnya tidak terlalu menarik kalau diceritakan. Tidak ada kejadian luar biasa. Tidak ada tempat yang sedang viral. Bahkan mungkin bagi orang yang tinggal di desa, semua ini sudah dianggap biasa.

Tetapi namanya juga tinggal di desa. Setiap hari pasti ada saja yang bisa diperhatikan. Kadang saya baru sadar bahwa hal yang selama ini dianggap biasa ternyata menarik juga kalau ditulis. Karena ternyata di kota atau desa lainnya, hal-hal sederhana ini gak pernah ada.
Pagi di Desa Dimulai dari Suara Masjid
Kalau tinggal di desa, pagi biasanya tidak dimulai dengan suara kendaraan atau aktivitas orang berangkat kerja. Sebelum azan Subuh berkumandang, dari masjid sudah terdengar lantunan ayat Al-Qur’an melalui pengeras suara. Bagi saya, suara itu sudah sangat akrab. Kadang masih setengah mengantuk, suara tersebut sudah terdengar dari masjid. Tidak lama kemudian azan Subuh berkumandang.
Setelah itu barulah aktivitas mulai berjalan. Ada yang pergi ke masjid, ada yang menyiapkan keperluan untuk bekerja, ada juga beberapa yang sudah mulai berangkat bekerja. Tapi Sebagian besar banyak yang melanjutkan tidur. Namanya juga kehidupan, tidak semua orang langsung sibuk setelah Subuh.
Hal sederhana seperti ini mungkin tidak pernah kita pikirkan kalau sudah terbiasa mengalaminya.
Depan Rumah Bisa Jadi Tempat Ngobrol
Di desa, ngobrol tidak harus janjian. Kadang cukup duduk di depan rumah. Ada tetangga lewat, menyapa. Kemudian berhenti sebentar. Dari yang awalnya hanya bertanya mau ke mana, bisa berkembang menjadi obrolan macam-macam. Begitulah kalau sudah ketemu orang yang memang suka ngobrol. Kadang pembahasannya serius. Kadang juga tidak jelas arahnya. Tapi justru percakapan seperti ini yang membuat suasana lingkungan terasa hidup. Tidak perlu tempat khusus. Tidak perlu kopi mahal. Kursi di depan rumah pun sudah cukup.
Warung Kecil yang Selalu Ada

Saya juga masih sering melihat warung-warung kecil di desa. Ada yang menjual kebutuhan sehari-hari. Ada yang lebih banyak menjual jajanan anak-anak. Ada juga yang sekaligus menjadi tempat orang duduk dan ngobrol. Kalau di desa saya warung ini identik dengan Bapak-bapak atau para lelaki yang ngopi. Kalau tempat membeli kebutuhan rumah tangga, namanya toko.
Baik di warung maupun toko, kalau diperhatikan, tiap harinya selalu banyak cerita yang bisa ditemukan di sana. Di sana bisa jadi tempat transfer informasi
Anak-anak Masih Punya Tempat untuk Bermain
Hal lain yang masih sering saya lihat adalah anak-anak bermain di sekitar rumah. Memang sekarang mereka sudah mengenal gadget dan internet. Sama seperti anak-anak di tempat lain. Tetapi ketika sore tiba, masih ada saja yang keluar rumah dan bermain bersama teman. Kadang permainan mereka sederhana. Tidak membutuhkan banyak perlengkapan. Yang penting ada teman. Ada yang bermain bola, ada yang bersepeda, bahkan ada juga yang bermain petak umpet.
Saya kira ini salah satu pemandangan yang cukup menyenangkan dari kehidupan desa. Anak-anak masih punya ruang untuk bermain dan bertemu langsung dengan teman-temannya.
Menjelang Maghrib, Ada Suara dari Masjid Lagi
Kalau pagi ada lantunan ayat Al-Qur’an sebelum azan Subuh, sore menjelang Maghrib ada suara lain yang juga sudah akrab di telinga. Lantunan pujian dari pengeras suara masjid mulai terdengar. Itu biasanya menjadi tanda bahwa sebentar lagi waktu Maghrib tiba. Anak-anak yang masih bermain mulai dipanggil pulang. Aktivitas warga perlahan berkurang. Tidak lama kemudian azan Maghrib berkumandang.
Saya sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Bahkan mungkin kalau suatu hari suasana tersebut tidak terdengar, malah terasa ada yang berbeda.
Musim Kemarau Juga Punya Cerita
Sekarang kebetulan sedang musim kemarau. Jalan desa menjadi lebih berdebu. Tanah terlihat lebih kering. Aktivitas warga juga menyesuaikan dengan kondisi cuaca. Hal seperti ini sebenarnya biasa saja. Tetapi kalau sedang berjalan dan melihat kondisi sekitar, kadang saya berpikir, ternyata perubahan musim juga ikut mengubah suasana desa.
Tidak perlu pergi ke tempat wisata untuk menemukan sesuatu yang menarik. Cukup keluar rumah.
Ternyata Desa Punya Banyak Cerita

Mungkin itu yang saya suka dari tinggal di desa. Tidak selalu ada sesuatu yang besar untuk diceritakan. Justru banyak hal kecil yang setiap hari kita lihat.
Suara masjid sebelum Subuh.
Obrolan tetangga di depan rumah.
Warung kecil.
Anak-anak bermain.
Suara pujian menjelang Maghrib.
Jalan desa yang semakin berdebu ketika musim kemarau.
Semuanya sederhana.
Tetapi dari hal-hal seperti itulah saya sering mendapatkan ide untuk menulis. Barangkali memang tidak semua tulisan harus dimulai dari sesuatu yang luar biasa. Kadang cukup memperhatikan apa yang ada di sekitar kita. Siapa tahu, dari situ muncul satu cerita. Dan kali ini, saya hanya sedang mencatat beberapa hal sederhana yang saya temukan di desa.
Namanya juga corat-coret Munasya. Tidak harus selalu serius. Mohon dimaklumi yaaaa
