Event Netizen

Warna Warni Pelangi di Gang Dolly Saat Ini

Kala mengunjungi Kota Surabaya, pasti tak bisa lepas dari segala potensi didalamnya. Namun jika menelisik sejarah 6 tahun silam, ada sisi kelam yang mewarnai. Di sebuah gang sempit bertempat di Kecamatan Sawahan Kota Surabaya, pernah ada pusat prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Namanya Gang Dolly.

Dulu di lokasi yang disebut Gang Dolly pernah menjadi warna gelap Kota Surabaya. Namun sejak ditutup pada bulan Juni tahun 2014, wajah gang Dolly saat ini sudah berubah. Nuansa kelam dunia malam sudah tidak lagi terlihat dan dirasakan di sana. Semua berubah bak pelangi yang berwarna warni. Perekonomian bergeliat dengan kegiatan berbagai UKM yang ada disana. Juga berbagai hal baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Pada Hari Sabtu tanggal 29 Februari 2020 kemarin, saya berkesempatan untuk melihat langsung denyut kehidupan di Gang Dolly. Di tanggal istimewa yang hanya terjadi 4 tahun sekali tersebut, saya mengikuti kegiatan bertajuk : Susur Kampung Bersama Pendidik Pancasila, Penggiat Kampung, Komunitas dan Jejaring di Jawa Timur. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)

Workshop Bersama BPIP

Sebelum melakukan agenda susur kampung, para pendidik Pancasila, penggiat kampung, anggota komunitas dan jejaring melaksanakan workshop terlebih dahulu di sebuah tempat di Surabaya. Workshop tersebut dilaksanakan sejak jam 8 pagi hingga jam 12 siang. Bertindak sebagai pengarah acara sekaligus salah satu narasumber adalah Ibu Irene Camelyn Sinaga. Beliau ini adalah Direktur Kebudayaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Saya pribadi merasa amat kagum dengan pemikiran dan juga sepak terjang beliau. Selama agenda workshop berlangsung, bahkan hingga acara jalan kaki menyusuri jalanan kampung di Gang Dolly, Ibu Irene tidak pernah meninggalkan para peserta. Beliau ikut serta dalam seluruh kegiatan. Seringkali di tengah kegiatan atau materi, beliau memberikan berbagai masukan berharga terhadap para peserta.

Menurut Ibu Irene, makna Pancasila itu teramat luas. Pancasila bisa diterapkan dalam segala lini kehidupan. Kehidupan yang penuh gotong royong, rukun dan berlandaskan agama. Selain itu pemberian kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mencapai kehidupan yang makmur sejahtera juga menjadi nafas dalam Pancasila. Warga Dolly yang kebetulan pernah mengalami masa kelam juga memiliki kesempatan yang sama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Oleh karena itu perlu didukung dan diberikan wadah seluas-luasnya.

Ibu Irene dan Bapak JJ Rizal

Pemateri lain yang mengisi workshop bersama BPIP adalah Bapak JJ Rizal yang merupakan sejarawan dan juga penulis. Pemateri yang satu ini memberikan banyak sekali wawasan dan juga pemahaman terkait Pancasila dan kehidupan masyarakat Indonesia di masa lampau. Dari sebuah sejarah itu akhirnya bisa menjadi pembelajaran di masa kini. Kita bisa seperti sekarang ini karena ada sejarah yang sudah terjadi di masa lampau.

Satu hal yang membuat acara workshop makin meriah adalah kehadiran Bapak Hanafi bersama keluarganya. Bapak Hanafi ini adalah penggiat kampung yang mempopulerkan alat musik Angklung di daerahnya. Bersama dengan istrinya, beliau mengajarkan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya permainan musik angklung. Dari pada berghibah atau kumpul-kumpul tidak jelas, ibu-ibu diajak berkreasi dan menghasilkan harmoni lagu dengan angklung.

Dalam workshop ini, Bapak Hanafi yang dibantu oleh istrinya mengajarkan cara memainkan angklung pada para peserta. Setiap peserta diberikan satu angklung untuk dimainkan. Saya yang baru pertama kali memegang angklung dan memainkannya, awalnya merasa kesulitan. Namun setelah berkali-kali latihan akhirnya bisa dan lancar. Ternyata satu angklung hanya bisa mengeluarkan satu nada. Ada yang do, re, mi dan seterusnya. Untuk memainkan sebuah lagu menggunakan angklung, diperlukan harmonisasi dari beberapa angklung.

Di setiap angklung sudah ada penanda nada yang dikeluarkan jadi tidak perlu bingung dengan nada apa yang dipegang. Ada dirigen khusus yang memandu jalannya lagu. Tiap nada memiliki kode tertentu yang dibuat dengan tangan. Yang saya ingat, untuk nada Do kodenya adalah tangan yang terkepal di depan. Kode Re adalah tangan terbuka menghadap kedepan. Kode lainnya saya tidak terlalu hafal. Masih butuh banyak waktu untuk belajar.

Pemateri terakhir dalam workshop adalah Yuniari Nukti atau yang akrab disapa Mbak Yuni. Beliau adalah seorang blogger yang sudah lebih dari 10 tahun menggeluti dunia perblogingan. Materi yang disampaikan tentunya tidak lepas dari profesinya. Apa itu blogger, bagaimana cara kerjanya dan berbagai hal lain terkait ngeblog disampaikannya. Tak luput juga bayaran yang diterima kala menulis dalam blog. Blognya sendiri memiliki trafik yang sangat tinggi.

Agenda Susur Kampung (Gang Dolly)

Selepas shalat dhuhur dan makan siang, saya bersama para pendidik Pancasila, penggiat kampung, anggota komunitas dan jejaring melaksanakan agenda susur Kampung. Supaya memiliki arah dan tidak asal datang di kampung yang memiliki banyak sejarah itu, ada komunitas yang pemandu kami. Nama komunitasnya adalah Sobo Dolly. Dalam bahasa Indonesia, sobo artinya Datang. Sementara Dolly sendiri adalah *istilah tempat* prostitusi di wilayah Surabaya. Bukan *nama tempat* dalam arti sebenarnya.

Berdasarkan penuturan warga sekitar, Dolly adalah nama seorang wanita keturunan Belanda yang memiliki nama lengkap Dolly Van Der Mar. Suaminya adalah warga negara Thailand. Noni Belanda yang dipanggil Mami Dolly ini mendirikan satu rumah prostitusi di daerah sekitar pemakaman China. Tepatnya di kawasan Kupang Gunung Timur I. Lambat laun banyak yang membuka praktek disana dan tempat ini makin terkenal hingga ke seluruh dunia. Sampai akhirnya Pemerintah Kota Surabaya resmi menutup lokasi prostitusi ini tahun 2014.

Sejak ditutup, wajah gang Dolly yang kelam lambat laun mulai berubah. Hal itulah yang ingin kami susuri dan lihat secara langsung.

Cerahnya Warna Rumah Batik Dolly

Lokasi pertama yang kami datangi dalam agenda susur kampung gang Dolly adalah kampung batik atau disebut juga Rumah Batik Dolly. Lokasi ini pada awal penutupan Dolly dipergunakan untuk tempat belajar membatik bagi warga penghuni Dolly. Harapannya supaya mereka bisa beralih profesi untuk memajukan perekonomian keluarga. Setelah banyak warga sekitar yang mahir membatik, tempat ini sekarang bisa didatangi oleh siapa saja yang ingin belajar membatik.

Saat susur kampung gang Dolly kemarin, saya bersama peserta yang lain mencoba belajar membatik. Meskipun hanya menghasilkan coretan kecil di secarik kain, tapi sudah cukup memuaskan. Mengingat waktunya juga terbatas. Setidaknya bisa merasakan memegang canting dan menuangkan lilin/malam (khusus untuk batik) ke secarik kain. Selain itu kami juga bisa melihat dari dekat proses pewarnaan batik dan penghilangan lilin/malam di kain. Prosesnya cukup singkat, tapi tidak bisa kami praktekkan langsung karena pastinya bikin tangan penuh warna.

Di rumah batik Dolly disediakan hasil produksi aneka batik beragam motif dan juga model. Bagi yang ingin memiliki bisa mengambilnya dengan menukarkan sejumlah uang sesuai harga yang tertera di batiknya. Yang istimewa dari rumah batik Dolly, ternyata tempat ini sering didatangi rombongan sekolah yang studi karya dan ingin belajar membatik. Para siswa ini kebanyakan datang dari luar kota, seperti : Pasuruan, Malang dan Sidoarjo. Sayangnya untuk sekolah dari Surabaya masih belum ada.

Rumah batik Dolly saat ini menjadi penyumbang warna yang cerah ceria bagi Kampung sekitar Gang Dolly. Harapan kedepan tentunya bisa makin terkenal dan membuat Surabaya bangga dengan kehadirannya.

Aneka Warna Sentra Usaha Kecil Menengah

Di Kampung sekitar Gang Dolly sekarang ini sudah tidak akan ditemui rumah-rumah bordil yang menawarkan jasa kehidupan malam. Deretan rumah di Gang Dolly saat ini menawarkan produk-produk UKM yang unik. Beraneka ragam UKM (Usaha Kecil Menengah) menjadi mata pencaharian masyarakat. Ada produk makanan dan minuman seperti : susu kedelai beraneka rasa, bothok telur asin, aneka sambal khas Surabaya, jajanan pasar dan lainnya. Industri konveksi rumahan juga banyak dijumpai. Tak ketinggalan tentunya ada usaha kelompok burung berkicau yang lagi nge-hits saat ini.

UKM gang Dolly saat ini
Aneka produk UKM warga Gang Dolly saat ini

Pada saat Susur Kampung Gang Dolly kemarin, kami berkesempatan untuk diskusi dan bertanya banyak hal kepada Bapak Nirwono, ketua RT Kampung Kreatif Dolly. Salah satu tokoh masyarakat di Gang Dolly ini menceritakan tentang kehidupan di Dolly masa lampau dan sekarang. Tentunya perbedaannya teramat jauh. Jika dahulu sangat mudah mendapatkan uang, sekarang butuh kerja keras untuk mendapatkannya. Namun dari segi fikiran dan kedamaian hati, tentu lebih nyaman sekarang.

Harapan kedepannya dari Bapak Nirwino dan juga masyarakat, Dolly dapat dikenal sebagai sentra UKM yang sukses. Perekonomiannya maju dan masyarakat tertata dengan baik. Upaya untuk meraih hal tersebut terus dilakukan. Namun tetap butuh dukungan semua pihak sebagai penguat sekaligus penyokong seperti lambang rantai dalam Pancasila yang bermakna saling membutuhkan dan menguatkan satu sama lain.

Kilau Pesantren Di Gang Dolly

Siapa sangka diantara riuh rendah dunia malam di Kampung Gang Dolly, ada tempat menimba ilmu agama di tengah-tengahnya. Sebuah bangunan pesantren bernama Pesantren Jauharatul Hikmah (JEHA) hadir diantara padatnya pemukiman kampung Dolly. Kehadirannya seperti kilauan warna di kegelapan. Saat banyak orang berlomba-lomba mendapatkan nikmat duniawi yang diharamkan agama, masih ada yang mau peduli dan senantiasa mengajak untuk berpaling dan meraih kehidupan akhirat yang abadi.

Perjuangan Ustadz/Kyai di pesantren ini patut diacungi jempol. Pasti tidak mudah memberi pengertian sekaligus mengajak masyarakat untuk beribadah dan meninggalkan hal yang haram. Namun dengan semangat meraih ridho Ilahi, mereka terus berupaya mengajak masyarakat sekitar berlomba-lomba dalam kebaikan. Ada anak yang dulunya suka sekali minum minuman keras, dia lahir dan besar di tengah-tengah kehidupan Dolly yang kelam. Berkat dorongan dan arahan dari Ustadz pesantren, si anak berlahan lahan mulai insaf. Anak tersebut sudah tidak pernah lagi minum minuman keras, malah sekarang rajin beribadah dan bisa ngaji.

Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin dituliskan disini terkait kegiatan susur Kampung bersama pendidik Pancasila kemarin. Namun tulisan di postingan ini sudah terlalu banyak. Next saya masih ingin menuliskan potensi wisata yang bisa di nikmati di Dolly saat ini.

Munasya

Blogger, Writer and Teacher
Contact Person :
email : sy4r0h@gmail.com
Twitter : @Munasyaroh_fadh
IG. : @Muns_Fadh

Anda mungkin juga suka...

2 Komentar

  1. Tak perlu menyesali semua yang telah terjadi, yang baik akan jadi pengalaman sedangkan yang buruk akan jadi pelajaran. Dari hal dulu yang pernah terjadi sekarang bisa menjadi wirausaha yang malah menjadi kebanggaan masyarakat di Surabaya yakan,,. Jadi siapapun bisa berubah

    1. Dunia emang sementara dan selalu berubah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *