Budaya Kontes

Budaya Menyambut Ramadhan Dengan Kupatan dan Megengan

Budaya menyambut Ramadhan pastinya berbeda-beda di tiap daerah. Namun antusiasnya tetap sama. Ramadhan seperti baru kemarin dirasakan. Hingar bingar musik patrol masih terngiang di telinga. Kesyahduannya masih meninggalkan kesan mendalam. Kurang beberapa hari kita akan memasuki bulan Ramadhan lagi. Akibat pandemi virus Corona yang merajalela, moment Ramadhan tahun ini tidak akan bisa sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Himbauan dirumah saja dan larangan mudik harus dipatuhi. Musik patrol tidak akan bisa dinikmati. Begitu juga dengan sholat tarawih berjamaah dan buka bersama.

Buka bersama di masjid Namira
Buka bersama di masjid Namira

Sebelum memasuki bulan Ramadhan, masyarakat desa khususnya di Pulau Jawa memiliki beberapa budaya dan tradisi tersendiri. Beda tempat mungkin beda tata caranya, tapi maknanya sama yakni ingin menyambut kedatangan bulan yang penuh berkah dengan suka cita. Jika tahun lalu saya mengulas tradisi unik menyambut lebaran khas warga desa kali ini akan mengulas tentang tradisi dan budaya menyambut Bulan Ramadhan. Diantara budaya tersebut ada tradisi Kupatan dan Megengan.

Efek virus corona membuat pelaksanaan budaya ini sedikit berbeda. Ada protokoler yang ditetapkan dan harus ditaati. Namun tidak mengurangi makna didalamnya.

Kupatan

Kupat atau ketupat adalah sejenis makanan yang dibuat dari beras dan dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda dan dimasak sedemikian rupa. Makanan ini menjadi hidangan khas saat hari raya Idul Fitri, namun di beberapa daerah khususnya di desa saya tradisi Kupatan juga dilakukan sebelum datangnya bulan Ramadhan. 2 Minggu sebelum hari pertama bulan Ramadhan atau tepat di tanggal 15 bulan Sya’ban masyarakat membuat ketupat dan merayakan tradisi Kupatan. Tak lupa juga membuat lepet sebagai pendampingnya.

Tradisi kupatan ini kental dengan sentuhan ajaran agama Islam. Tanggal 15 bulan sya’ban atau dikenal dengan malam nisfu sya’ban dalam ajaran Islam merupakan malam ditutupnya buku amalan manusia dalam satu tahun. Esok hari tanggal 16 Sya’ban akan dimulai catatan baru amalan manusia. Sebagai penutup catatan amalan perbuatan itu disunnahkan untuk puasa 2 hari, yakni ditanggal 14 dan 15 bulan Sya’ban. Buka puasanya kemudian menggunakan kupat dan lepet.

Budaya menyambut ramadhan
Ketupat

Meskipun tidak ada ketentuan dalam Al-Qur’an dan Hadits harus menggunakan ketupat saat berbuka, namun masyarakat menjadikan hal ini sebagai budaya setempat. Bahkan orang yang tidak ikut puasa sunnah juga ikut memakannya. Budaya kupatan digunakan untuk mengingatkan antar sesama agar saling meminta maaf atas segala dosa dan khilaf yang telah dilakukan.

Istilah kupat berasal dari bahasa Jawa “ngaku lepat”. Artinya mengakui kesalahan. Kesalahan yang dimaksud disini adalah kesalahan pada sesama manusia dan kepada Allah Tuhan yang Maha Esa. Budaya menyambut ramadhan dengan kupatan juga merupakan bentuk rasa syukur terhadap sang pencipta. Kupatan dijadikan simbol dan penanda bulan suci ramadhan akan segera menghampiri.

Acara kupatan sebelum Ramadhan biasanya dilakukan di masjid atau musholla. Masyarakat berbondong-bondong datang ke masjid atau  mushollaterdekat dengan membawa kupat untuk di panjatkan do’a. Setelah itu saling bertukar bawaan dan di makan bersama-sama. Karena sekarang adal Corona, kupat di bawa ke mushola, didoakan dan ditukar dengan yang lain kemudian dibawa kembali untuk dimakan bersama keluarga di rumah.

Megengan

Selain Kupatan, ada lagi budaya sebelum Ramadhan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Namanya megengan. Dalam bahasa Jawa, megengan artinya menahan. Tradisi ini menjadi penanda datangnya bulan Ramadhan, bulan dimana umat Islam diwajibkan berpuasa dan kita harus menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa Ramadhan.

Kegiatan megengan bermacam-macam. Pada pelaksanaannya, tiap daerah memiliki adat dan kebiasaan sendiri. Ada yang melakukannya dengan cara pergi berziarah kubur bersama-sama, membersihkan makam kerabat serta menaburi bunga diatasnya dan tidak lupa membacakan yasin, tahlil dan mendoa’akannya.

Berdoa dan makan bersama

Di rumah ada yang masak besar untuk dibagikan kepada sanak famili dan pada malam harinya ada yang mengadakan selamatan atau kenduri dengan mengundang para tetangga untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal. Ada juga yang selamatan atau kendurinya diadakan bersama-sama oleh seluruh warga setempat di mushola terdekat.

Di tempat tinggal saya, megengan dilakukan secara bergantian. Dalam satu lingkungan, kepala keluarga atau lelaki yang mewakili satu keluarga berkeliling dari rumah satu kerumah keluarga lainnya membacakan doa. Satu rumah didatangi 10 hingga 20 Kepala Keluarga dan berdoa di sana. Setelah itu pindah ke rumah lainnya sampai seluruh rumah yang kepala keluarganya ikut keliling selesai didoakan. Setelah membaca doa bersama, masing-masing diberikan makanan didalam wadah yang disebut dengan berkat dan dibawa pulang.

Seiring berjalannya waktu, di beberapa tempat budaya menyambut Ramadhan dengan megengan mulai sedikit ditinggalkan. Mungkin karena sudah tergerus oleh perubahan zaman. Di desa mungkin masih bisa dijumpai, namun di kota sudah tidak lagi dilakukan. Kalau kupatan dilakukan 2 Minggu sebelum Ramadhan, maka Megengan di lakukan sehari sebelum malam Ramadhan atau malam pertama Ramadhan sebelum sholat tarawih.

Munasya

Blogger, Writer and Teacher
Contact Person :
email : sy4r0h@gmail.com
Twitter : @Munasyaroh_fadh
IG. : @Muns_Fadh

Anda mungkin juga suka...

34 Komentar

  1. Kira-kira sama nggak dengan tradisi ruwahan, yaa. Kalo di Palembanb sini, ada kegiatn serupa menjelang Ramadhan, disebut Ruwahan. Tapi, nggak makai ketupat, sih. Cuma yasinan, dàn makan bersama.

    1. Beda daerah pastinya beda budaya. Tapi saya yakin maknanya sama

  2. Firdaus Deni Febriansyah says:

    Gak kerasa ya, kini Ramadhan telah berlalu. Semoga kita dipertemukan pada Ramadhan di tahun-tahun berikutnya..

  3. Tradisi kupatan itu seolah lebaran duluan yah. Hehehe makan ketupat bareng dan mungkin untuk saat ini makannya bareng keluarga inti aja di rumah.

  4. Sama mbak di daerah saya Juga ada acara ini sebelum ramdan, cuma karena saat ini ada pandemi jadinya tidak diadakan deh, seru ya budaya kita ini

  5. Keren ya ada kegiatan adat kayak megengan dan kupatan gitu. Di tempat saya gak ada. Malah sekarang gak tarawih di masjid, karena masuk zona merah.

  6. Unik ya kebiasaan masyarakat kita, megengan di rumah saya biasanya kayak selametan gitu, bagi-bagi makanan dari satu rumah ke rumah lainnya. Eh iya juga ziarah ke makam leluhur

  7. Dua istilah unik yang baru pertama kali saya dengar. Namun, kalau kebiasaan di rumah saya namanya munggahan atau bahasa di atas megengan. Nah, untuk kupatan sendiri belum ada. Intinya sama-sama menyambut Ramadhan, tapi memiliki bahasa berbeda. Semoga pandemi ini segera berlalu ya kak.

  8. Ramadhan tahun ini nanti akan diingatsebagai Ramadhan yang paling berbeda. Budaya-budaya yang biasa dilakukan tidak sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

  9. Nambah pengetahuan baru nih tentang budaya menyambut bulan ramadan, aku pernah juga menuliskan artikel seperti ini tentang menyambut ramadan di kota pontianak misalnya menyalakan meriam karbit, pawai obor dan masih banyak lagi. Tapi karena corona tahun ini ditiadakan, duh sayang

  10. Aku penasaran sama masjid namira ini..
    Klo pandemi da berakhir, aku mau kesini ah..
    Rumah mbak dekat kah dgn masjid ini?

  11. di tempatku kalau mau ramadan namanya cucurak, makan2 sebelum puasa, tapi sekarang sudah tiba bisa karena ada pandemic

  12. Wuaaaaa aku kalau lihat gambar ketupat selalu saja hati menghangat bahagia
    Suka aja aku tuuuuu.
    Banyak juga ya tradisi-tradisi unik jelang ramadhan. Kalau di Bogor sini namanya munggahan

  13. Aku tinggal di jawa tapi ga tau megengan ya ampun, apa istilahnya aja ya yang beda ? Sayang sekarang dah gak ada tradisi2 tersebut di daerah saya, sudah tergerus

  14. Kalo di kampung halaman saya, tradisi kupatan biasanya dilakukan di hari ke-7 bulan syawal. Jadi akan ada 2 lebaran yaitu lebaran 1 syawal dan lebaran kupatan

  15. Kupatan itu seperti tradisi nisfu sya’ban di tempat kami. Menu makannya biasanya nasi bungkus. Kalau megengan tidak ada sih di sini. Hanya ziarah kubur sehari hingga seminggu sebelum puasa.

  16. tradisi yang menarik dan semoga tetap terlestari dan tidak tergores oleh zaman yang semakin canggih

  17. Haeriah Syamsuddin says:

    Setiap tempat biasanya memiliki tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang unik dan berbeda satu sama lain. Seru ya, ngeliatnya (apalagi kalau bisa merasakannya sendiri).

  18. Jadi kangen dengan megengan mbak. Kalau di Bali jarang ada selamatan di rumah-rumah menjelang Ramadhan. Ibu-ibu biasanya ngantar nasi kotak ke rumah tetangga kiri kanan untuk megengan. Atau mengajak teman-teman ke rumah makan untuk nraktir makan sebagai wujud megengan. Bagaimanapun juga tradisi megengan di Jawa bikin ngangenin..mau pulang situasinya tidak aman. Pandemi ini membuat kita terisolasi di daerah masing-masing. Kalau kupatan biasanya dilakukan saat lebaran hari ke 7. Kalau menjelang ramadhan tidak kupatan melainkan berdoa di masjid sambil membawa kue.

  19. wahhh seru banget ini kebiasaan yang harus dijaga jangan sampai punah, Tapi sepertinya saat corona begini sepertinya kebiasaan ini akan terhenti ya kak, tapi masih ada tahun depan. Duhhhh aku jadi pengen icipin makanannya. pasti enak enak semuanya

  20. Wah keren ini, tiap daerah memiliki cara tersendiri ya dalam menghadapi bulan puasa. Semoga amal ibadah kita diterima ya

    1. Aamiin

  21. Masa distancing gini kegiatannya masih dijalankan, gak mbak? Kupatan, setidaknya. Seru, ya, beragam kebiasaan menyambut Ramadan di berbagai daerah.

    1. alhamdulillah masih, tapi tidak semeriah biasanya. ada pembatasan-pembatasan tertentu yang diterapkan

  22. Tradisi yang menarik. Semoga tahun ini kita semua bisa menahan diri untuk nggak melakukan tradisi tertentu yang berisiko pada penyebaran virus korona ya. Nantilah kalau virus korona ini sudah hilang, tradisi dijalankan lagi :'(

    1. iya mbak, harus waspada dan jaga jarak

  23. Rudi G. Aswan says:

    Di desa ibu kemarin sepi ga ada yang bikin kupat lepet pas 15 Sya’ban, Mbak. Ya ekonomi lesu salah satunya, apa apa pas mahal jadi yang biasanya bikin semua, kemarin enggak. Biasane ngumpul di masjid habis magrib habis baca Yasin 3x. Karena wabah Corona juga, jd megengan ala kadarnya. Padahal kangen lepet bikinan ibu. Untunge masih dapat kiriman nasi kotak megengan dari muride Bunda. Lezaaat….

    1. di Pasar babat gak ada yang jual janur juga

  24. Kangen makan ketupat, tahun ini kayanya ibu saya ga bisa pulang karena ga ada biaya:(. Hmm. Kejam abis efek covid19 ini. Baru tau kalo megengan itu bermacam-macam. Sukak banget solidaritasnya, cuman ya kayanya bakal susah karena physical distancing kan ya.

  25. Di daerah ku tidak ada lagi kumpul-kumpul begini kak sudah off bener, kecuali kalau shalat 5 waktu masjid masih terbuka, tapi tarawih di rumah

  26. aku suka ketupat apalagi di tambah opor, duh selera makanku pasti meningkat tuh jika ada hidangan ginian

  27. Banyak ya macam budaya untuk menyambut Ramadhan. Kalau di daerahku juga ada tradisi makan dan doa bersama sebelum Ramadhan. Tapi sayangnya tahun ini tidak diadakan karena lagi menerapkan PSBB. Semoga tahun depan semua sudah aman dan bisa melanjutkan tradisi kembali.

  28. Di tempatku namanya nyadran kak. Hanya saja karena Corona kemarin nggak diadain. Karena kumpul2 gitu.

    1. Di desaku ada yang ngadain, ada juga yg gak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *