Corona di bidang pendidikan
Coret-coret Kesehatan Pendidikan

Efek Virus Corona di Bidang Pendidikan

Efek Virus Corona di Bidang Pendidikan. Sudah hampir sebulan gawat darurat pandemik corona di canangkan. Efek dari jenis virus baru ini semakin meresahkan masyarakat. Penyebaran virus yang semakin cepat dan luas membuat semua orang waspada. Berita yang berseliweran di media massa dan media sosial menambah kepanikan. Semua orang takut tertular, tak sedikit juga yang takut menularkan pada orang lain. Berita hoak di dunia maya turut berseliweran.

Pada mulanya banyak yang mengira virus ini tak ubahnya seperti virus-virus yang telah lebih dahulu mewabah. Sebut saja ebola, virus flu burung H5N1, SARS, atau MERS-Cov. Bahkan beberapa negara awalnya dengan pedenya menyatakan bahwa negaranya tidak bisa tertular virus ini karena iklim yang berbeda. Salah satunya adalah Indonesia. Saat negara lain menutup pintu bandaranya rapat-rapat, justru negara kita membukanya lebar-lebar untuk menarik wisatawan dan meningkatkan industri pariwisata.

Mendukung kesehatan

Nasi telah menjadi bubur, wabah Cofid19 tidak mau dianggap sebelah mata. Virus yang pertama kalinya ditemukan di kota Wuhan, China ini memiliki kemampuan penyebaran yang sangat cepat dan cakupannya jauh lebih luas. Awal Maret 2020 kasus pertama Corona ditemukan di Indonesia. Laporan penambahan kasus dan angka kematian terus meningkat. Pihak pemerintah menjadi kalang kabut. Berbagai kebijakan serba instan langsung diterapkan. Bahkan yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Kebijakan-kebijakan baru yang dibuat, merubah tatanan berbagai bidang. Semuanya demi memutuskan rantai penyebaran virus yang konon bisa masuk lewat hidung, mulut dan mata itu. Sejarah telah mencatat perubahan instan bidang pendidikan yang terjadi di negara Indonesia demi alasan kesehatan umat manusia. Virus Corona di bidang pendidikan efeknya lumayan besar.

1. Belajar di Rumah

Efek Corona mulai terlihat mencekam saat munculnya kebijakan belajar di rumah. Anak-anak sekolah diminta di rumah saja dan mengerjakan tugas-tugas sekolah di dampingi orang tua masing-masing. Proses belajar mengajar yang biasanya dilakukan dengan tatap muka dialihkan dari rumah melalui daring/online. Metode belajar diubah secara signifikan.

Kebijakan tersebut membuat sekolah harus menyiapkan metode yang tepat supaya kegiatan belajar mengajar berjalan dengan baik meski tanpa tatap muka di sekolah. Bagi masyarakat perkotaan atau yang memiliki sumber daya mumpuni, kegiatan belajar dilakukan dengan video conference atupun sejenisnya. Sedangkan masyarakat desa lebih memaksimalkan whatsapp grup untuk pelaksanaannya. Masyarakat pelosok yang susah internet entah bagaimana proses belajar mengajarnya.

Corona di bidang pendidikan

Dalam waktu sehari atau 2 hari anak-anak menyambut keputusan ini dengan suka cita. Namun setelah berlangsung lebih dari sepekan mulai muncul keberatan dan ketidakikhlasan. Banyak yang merasa kalau tugas yang diberikan oleh guru terlalu banyak, orang tua juga tidak sanggup mendampingi anak-anak terus menerus karena mereka juga punya kewajiban pekerjaan sendiri di rumah. Tak jarang orang tua tidak bisa membantu menjawab soal yang diberikan walaupun sudah serching di Google.

Para guru juga tidak jauh berbeda, meskipun tidak mengajar di dalam kelas. Para guru tetap memantau perkembangan murid-muridnya dari rumah. Di luar jam mengajar tak jarang masih ada orang tua atau murid yang bertanya mengenai pelajaran atau tugas yang diberikan. Handphone akhirnya tidak pernah lepas dari genggaman mereka. Sesekali ada guru yang bergilir mendapat tugas piket berjaga di sekolah. Tanggung jawab guru jadi lebih besar saat berlangsungnya belajar di rumah secara online.

Kalimat rindu sekolah dan enak sekolah sering terdengar. Namun itu tidak bisa membalikkan keadaan. Keputusan belajar di rumah terus diperpanjang. Awalnya hanya sampai tanggal 30 Maret, kemudian di perpanjang jadi 5 April dan sekarang kemungkinan sampai Mei atau hampir mencapai tahun ajaran baru. Efek virus Corona di bidang pendidikan sungguh terasa lama.

2. Penghapusan Ujian Nasional

Awalnya kegiatan belajar di rumah hanya anak kelas 1 sd 5 SD sederajat serta anak kelas 1 sd 2 SMP/SMA yang menjalankannya. Untuk anak kelas 6 SD dan kelas 3 SMP/SMA tetap masuk karena harus ujian. Namun seminggu kemudian muncul kebijakan baru penghapusan Ujian Nasional mulai tahun ini. Semua anak di segala jenjang pendidikan otomatis belajar di rumah.

Penghapusan Ujian Nasional dilakukan demi keamanan dan kesehatan anak-anak dan keluarganya. Mengumpulkan banyak siswa untuk melaksanakan Ujian Nasional dalam satu tempat menimbulkan risiko kesehatan yang sangat besar, bukan hanya untuk siswanya tapi juga untuk keluarganya. Selain itu, pertimbangan bahwa UN yang tidak menjadi syarat kelulusan ataupun seleksi masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi membuat pemerintah sepakat untuk meniadakan Ujian Nasional.

Mengenai pembayaran yang sudah terlanjur diberikan pada pihak sekolah akan dipikirkan bagaimana tindak lanjutnya setelah pandemik berakhir. Begitu juga dengan segala persiapan yang sudah dilakukan semua sudah tidak dipikirkan lagi. Prinsipnya lebih baik kehilangan nilai ujian dan uang daripada kehilangan jiwa jiwa penerus bangsa.

Kelas inspirasi
Bersama anak-anak kelas 3 & 4 yang penuh inspirasi

Tahun 2020 ini, sejarah baru bidang pendidikan telah muncul. Siswa yang lulus tahun ini untuk pertama kalinya menjadi siswa yang bisa lulus tanpa ujian. Siswa angkatan 2020 menjadi angkatan pertama yang penuh cerita. Dimana disaat segalanya sudah direncanakan dengan rapi, disusun sedemikian rupa, namun tidak akan terlaksana, hilang begitu saja karena Corona.

3. Nilai Ujian Sekolah

Adanya kebijakan belajar di rumah dan juga penghapusan Ujian Nasional membuat sistem penilaian di sekolah menjadi berbeda. Pemerintah melarang adanya Ujian sekolah dengan tatap muka langsung. Untuk mendapatkan nilai akhir bagi siswa, ada beberapa opsi yang ditawarkan. Sekolah bisa melaksanakan ujian secara online dan atau bisa mengukur dengan angka dari nilai 5 semester terakhir. Tergantung kebijakan sekolah masing-masing.

Apa yang ditulis diatas hanya efek Corona di bidang pendidikan saja. Bidang bidang lainnya juga mengalami imbasnya. Dalam bidang tatanan hidup masyarakat, jargon diam di rumah terus-menerus disebarkan. Tidak boleh salaman, tidak boleh nongkrong, harus cuci tangan, harus menjaga kebersihan dan masih banyak yang lainnya. Yang menjadi kontroversi tentunya adalah tidak boleh Jumatan. Hal ini semata-mata untuk mencegah penularan wabah Corona.

Ini baru satu bulan, bagaimana jika terus berlanjut beberapa bulan ke depan atau malah tahunan. Hanya doa dari semua masyarakat yang bisa dipanjatkan. Semoga doa itu terbang ke langit dan dikabulkan oleh-Nya agar badai segera berlalu. Aamiin Ya Rabbal Alamiin. Semoga Pandemik segera berlalu dan kita semua bisa menikmati indahnya Ramadhan.

Munasya

Blogger, Writer and Teacher
Contact Person :
email : sy4r0h@gmail.com
Twitter : @Munasyaroh_fadh
IG. : @Muns_Fadh

Anda mungkin juga suka...

4 Komentar

  1. Tergantung dari kebijakan sekolah masing-masing, ini yang saya suka
    Sehingga guru punya kebebasan tersendiri

    1. keahlian dan ketrampilan guru mutlak diperlukan. kalau mereka gak terampil, muridnya dibiarkan saja

  2. Akhirnya kita hanya bisa ambil hikmah dari peristiwa ini dan mengikuti tatanan yang di tetapkan demi keselamatan diri juga kan

    1. jadi punya kisah untuk masa depan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *