Kesehatan

Tantangan Penanganan Kusta di Tengah Pandemi Covid-19

Tantangan Penanganan Kusta di Tengah Pandemi Covid-19. Jauh sebelum penyakit covid-19 merajalela di dunia, dahulu sudah ada penyakit sejenis yang tentunya membuat banyak orang merasakan sakit yang luar biasa. Penyakit itu adalah kusta. Persamaan Kusta dan Covid terletak pada metode penularannya dan juga sama-sama menjadi penyebab status Pandemi. Namun perbedaan mendasar antara kusta dan covid-19 terletak pada gejala yang ditimbulkan dan organ yang diserang virus.

Orang yang terkena Covid-19 tidak bisa dilihat secara kasat mata karena yang diserang virus adalah organ dalam. Orang tersebut hanya merasakan tanda-tanda tertentu yang dirasakan sendiri. Beda dengan orang yang terkena penyakit kusta. Penderita kusta terlihat jelas tandanya dari luar karena yang diserang penyakit adalah kulit dan organ gerak. Orang yang terkena kusta terdapat bercak putih di kulit dan bercak ini akan terus menyebar jika tidak segera ditangani. Pada kondisi tertentu yang parah, kusta bisa menyebabkan cacat permanen.

Talk show Penanganan Kusta

Pemahaman tentang penyakit kusta baru-baru ini saya terima saat mengikuti Talk show Ruang Publik KBR di Youtube tentang Geliat Pemberantas Kusta dan Inklusif Disabilitas pada Senin, 31 Mei 2021. Pada Talk Show ini menghadirkan Bapak Komarudin, S.Sos. M.Kes selaku Wasor Kusta Kabupaten Bone dan juga DR. Rohman Budijanto, SH, MH selaku Direktur Eksekutif The Jawa Pos Institut of Pro-Otonomi-JPIP Lembaga Nirlaba Jawa Pos yang bergerak di bidang otonomi daerah.

Fakta Tentang Penyakit Kusta

Penyakit kusta atau di masyarakat dikenal dengan nama lepra adalah jenis penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini menyerang kulit, sistem saraf perifer, serta selaput lendir. Walaupun penularannya tidak semudah flu maupun covid-19, namun harus tetap diwaspadai karena dampaknya yang fatal, yakni bisa menyebabkan kecacatan fisik.

Adapun gejala umum yang menyertai penyakit kusta adalah sebagai berikut :

  • Adanya Bercak pada kulit yang dapat berupa hipopigmentasi seperti panu atau kulit kemerahan. Bercak tersebut semakin lama semakin melebar
  • Mulai muncul mati rasa pada kulit yang mengalami bercak
  • Selain mati rasa, kelenjar keringat pada daerah bercak jadi tidak aktif sehingga tidak ada keringat yang dikeluarkan
  • Ada pelebaran saraf, terutama pada saraf ulnaris, medianus, auricularis magnus serta peroneus yang biasanya terjadi pada siku dan lutut.
  • Alis rambut rontok dan terdapat kelainan pada mata
  • Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa)
  • Deformitas pada anggota gerak karena Otot melemah, terutama terjadi pada kaki dan tangan.
  • Timbul luka tapi tidak terasa sakit.

Jika mengalami salah satu gejala tersebut, ada baiknya memeriksakan diri ke dokter untuk mendapat diagnosa yang tepat.

Antara Kusta dan Covid-19

Sedari dulu Kusta dianggap sebagai penyakit yang menyeramkan dan dapat menular secara mudah. Ditambah lagi dengan banyaknya stigma yang beredar di masyarakat bahwa kusta adalah penyakit ‘kutukan’ dan orangnya harus diasingkan. Faktanya, penularan kusta tidak semudah layaknya penularan flu atau covid-19. Sehingga semestinya orang yang menderita kusta tidak diasingkan dalam masyarakat.

Kusta sebagai salah satu penyakit menular, sudah ditemukan sejak puluhan tahun yang lalu dan pernah menyebabkan pandemi di masa lalu. Di masa kini, sebanyak 95 persen masyarakat telah memiliki kekebalan terhadap kusta, sehingga walaupun bakteri kusta berkeliaran, kita tidak akan tertular dengan mudah. Berbeda dengan Covid-19 yang merupakan penyakit baru dan muncul setahun terakhir ini. Penangananya masih intens dan terus dilakukan vaksinasi covid-19 untuk membangun kekebalan terhadap penyerangan virusnya.

Sama seperti covid-19 yang melanda saat ini, Kusta bisa ditularkan melalui kontak langsung dan saluran pernapasan. Atau bisa juga tertular melalui droplets atau cairan dari hidung yang biasanya menyebar ke udara ketika penderita batuk atau bersin. Hanya saja penularannya tidak seganas Covid-19. Kusta tidak dapat menular hanya dengan satu kali sentuhan fisik atau saat bersalaman dan duduk bersama. Bahkan seorang ibu hamil yang mengalami penyakit kusta, InsyaAllah tidak akan menular kan penyakitnya ke janinnya. Penularan penyakit kusta dapat terjadi jika terlambat berobat dan sistem kekebalan tubuhnya menurun.

Berikut adalah beberapa penyebab kusta:

  • Melakukan kontak fisik dengan hewan penyebar bakteri kusta tanpa sarung tangan. Hewan tersebut di antaranya adalah armadillo dan simpanse.
  • Bertempat tinggal di kawasan endemik kusta.
  • Memiliki kelainan genetik yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

Baca juga : 3 Tanaman Herbal Untuk Sistem Imun Tubuh

Ketika bakteri Mycobacterium leprae penyebab kusta mencapai saluran pernapasan, ia akan berpindah ke jaringan saraf dan berkembang biak di sana. Bakteri akan berkembang biak dalam waktu 2-3 minggu, lalu membelah dalam waktu 14-21 hari dengan masa inkubasi antara 3-5 tahun. Oleh karena itu, bisa saja orang yang telah terinfeksi bakteri ini baru merasakan gejala setelah beberapa tahun setelahnya. Berbeda dengan Covid-19 yang gejalanya bisa dirasakan beberapa hari setelah tubuh terpapar dengan virus.

Walaupun menular melalui pernapasan, orang yang terkena kusta ini rata-rata bisa sembuh sendiri karena memiliki kekebalan tubuhnya. Hanya sedikit sekali yang menimbulkan gejala atau sakit hingga membutuhkan pengobatan. Lingkungan padat penduduk juga berisiko tinggi menularkan penyakit ini.

Penanganan Kusta di Tengah Pandemi Covid-19

Tak dinyana penyakit kusta masih menjadi momok di Indonesia. Tiap tahun jumlahnya bertambah. Bahkan Indonesia menempati urutan ke-3 di dunia dengan kasus kusta paling tinggi setelah Brazil dan India. Salah satu provinsi yang memiliki jumlah pasien kusta yang tinggi adalah Provinsi Sulawesi Selatan.

Di masa pandemi Covid-19, pasien kusta mengalami hambatan dalam pelayanan akses kesehatan. Tingginya angka Covid-19 membuat tenaga kesehatan fokus untuk penanganan Covid-19. Ada banyak pembatasan yang diterapkan sehingga penderita kusta agak terabaikan dan jauh dari perhatian publik. Padahal pasien kusta tidak boleh mengalami putus obat. Pengobatannya harus dilakukan terus menerus.

Salah satu organisasi yang fokus menangani pencegahan kusta di Indonesia adalah NRL. Organisasi ini sudah sejak tahun 1975 berdiri dan fokus pada pemberantasan kusta di Indonesia. Dalam upaya pencegahan dan pengendalian kusta, relawan NRL mengalami banyak hambatan, terlebih di masa Pandemi Covid-19 dimana fokus dan program pemerintah banyak dialihkan pada program dan upaya penanganan Covid-19.

Menurut NRL Indonesia ada tiga kunci penting dalam penanganan kusta di Indonesia, diantaranya:

  • Mencari dan menemukan kasus kusta serta berupaya mengobatinya sampai sembuh mencegah deformitas organ tubuh (disabilitas).
  • Memeriksa kontak penderita kusta untuk menemukan apakah ada kasus baru antara mereka dan mencegah penularan kepada orang lain. Dalam hal ini adalah memutus rantai penyebaran kusta
  • Memastikan bahwa penderita kusta melakukan pengobatan dengan tuntas, hingga penyakit tersebut tidak timbul dan menular orang lain.

Tiga kunci penting penanganan kusta diatas bisa berhasil dengan baik jika ada peran serta masyarakat didalamnya. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah memberikan edukasi kepada seluruh lapisan masyarakat tentang penyakit kusta dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kusta. Diharapkan masyarakat bisa menerima keberadaan penderita kusta dan memberikan dukungan untuk bisa sembuh kembali. Dengan begitu penderita kusta tidak lagi dikucilkan serta tidak malu ataupun takut untuk pergi berobat. Semakin dini ditangani, maka kusta bisa segera disembuhkan dan Indonesia bisa bebas dari kusta.

Munasya

Blogger, Writer and Teacher
Contact Person :
email : sy4r0h@gmail.com
Twitter : @Munasyaroh_fadh
IG. : @Muns_Fadh

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *