Event Netizen

Jangan Termakan Hoaks Vaksin Covid-19, Mari Edukasi Diri!

Jangan Termakan Hoaks Vaksin Covid-19, Mari Edukasi Diri! – Pandemi akibat Covid-19 masih belum berakhir. Tiap hari selalu muncul kasus baru. Akhir-akhir ini jumlahnya makin banyak. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dan segenap pihak untuk menanggulangi persebaran virus covid-19 yang mematikan tersebut. Selain menyuarakan prokes dimanapun berada dan gerakan 5 M, program vaksinasi juga terus digalakkan.

Di tengah upaya pemerintah memberikan vaksin pada masyarakat, telah banyak beredar berita bohong atau hoaks seputar pandemi dan vaksinasi covid-19. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) selama periode 23 Januari 2020 hingga 25 Juni 2021 terdapat 1.670 hoaks mengenai covid-19. Hoaks tersebut kebanyakan tersebar di media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan pesan WhatsApp.

Hoaks Vaksin

Persebaran hoaks yang cukup besar tersebut menghambat upaya pemerintah Indonesia dalam menangani berbagai masalah akibat virus Covid-19. Masyarakat jadi bimbang dan ragu dengan segala program yang dijalankan  pemerintah akibat terpengaruh hoaks. Oleh karena itu diperlukan upaya edukasi supaya kita semua tidak termakan hoaks yang pada akhirnya merugikan diri sendiri.

Webinar “No Hoax: Vaksin Aman, Hati Nyaman”

Dalam rangka memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat terkait vaksin Covid-19, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkominfo bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pelita Harapan (UPH) menyelenggarakan Webinar dengan tema “No Hoax, Vaksin Aman, Hati Nyaman”.

Webinar tersebut diselenggarakan pada Rabu, 14 Juli 2021 di aplikasi Zoom dan disiarkan secara live streaming melalui kanal YouTube Ditjen IKP Kominfo. Webinar No Hoax : Vaksin Aman, Hati Nyaman menghadirkan beberapa narasumber yang kompeten di Bidangnya. Narasumber tersebut adalah :

  1. Prof. Dr. Widodo Muktiyo – Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa, Kemkominfo
  2. dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid. – Juru Bicara Vaksinasi COVID-19, Kementerian Kesehatan
  3.  Dr. Benedictus A. Simangunsong, S.IP., M.Si. –  Ketua Prodi Magister Komunikasi UPH

Untuk mendukung literasi informasi vaksin, selain 3 narasumber tersebut ada Marsefio Sevyone Luhukay, S.Sos., M.Si. Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UPH dan Drs. Bambang Gunawan, M.Si. Direktur Informasi dan Komunikasi Polhukam, Kemkominfo yang memberikan sambutan dan dukungan terhadap vaksinasi sebagai upaya untuk memutus rantai penyebaran COVID-19.

Baca juga : Kapan Kita Bisa Mendapatkan Vaksin Covid-19?

Dalam sambutannya, Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan Marsefio Sevyone Luhukay menyatakan bahwa webinar ini menjadi upaya penting dalam mengubah mindset dan perilaku orang-orang sekitar kita. Diharapkan mereka bisa lebih baik lagi menyikapi berita apapun dan bisa bijak dalam bertindak. Menurutnya, dengan mengikuti acara webinar seperti ini berarti turut berkontribusi bagi bangsa dan rakyat Indonesia.

Sementara Direktur Informasi dan Komunikasi Polhukam, Kemkominfo Bambang Gunawan dalam sambutannya mengatakan bahwa upaya-upaya pencegahan dan penanganan penyebaran COVID-19 tidak akan berhasil apabila tidak disertai dukungan masyarakat dalam menyosialisasikan 3M dan program vaksinasi. Selain informasi positif yang tersebar di internet, ada banyak juga informasi negatif terutama di media sosial. Salah satunya adalah mengenai berita vaksin Covid-19,

Bambang Gunawan dalam webinar tersebut juga berpesan pada generasi milenial sebagai pengguna terbesar internet supaya cermat dan berani mengambil sikap melawan disinformasi dan hoaks.

Ancaman Hoaks di Media Sosial

Prof. Dr. Widodo Muktiyo selaku Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa Kemkominfo dalam materinya mengungkapkan fakta bahwa saat ini pengguna internet di Indonesia mencapai 175 juta atau 64% dari jumlah populasi penduduk. Dari jumlah tersebut yang mengakses media sosial sejumlah 160 juta atau 59%. Jumlah yang cukup besar ini dapat menjadi kekuatan baru yang bisa menjadi harapan sekaligus ancaman.

Dunia digital telah menjadi tools cepat tergantung siapa yang menggunakan. Internet dan medsos dapat mempengaruhi opini masyarakat secara masal dalam waktu singkat dan peredarannya sulit dilacak. Hal ini juga bisa menjadi ancaman baru berupa propaganda medsos, dengan jalan provokasi, agitasi, dan propaganda.

Menurut Prof Dr Widodo Muktiyo, saat ini informasi mengenai vaksin banyak “dibelok-belokkan” dan belum jelas kebenarannya. Persebaran berita bohong atau hoaks menjadi konsumsi publik. Kebenaran, fakta, dan bukti tidak lagi penting sepanjang narasi bisa diterima berdasarkan kesamaan pandangan dan keyakinan. Karenanya harus berprasangka baik dan positive thinking dalam menghadapi dunia digital ini. Informasi tentang vaksin jangan ditelan mentah-mentah. Diperlukan upaya kehati-hatian dalam menyikapi berita yang beredar di dunia digital.

Baca juga : Waspadai Hoaks Di Dunia Maya

Jika kita cermati, hoaks di media sosial mudah dikenali melalui berbagai cirinya.  Diantaranya sumber informasinya tidak jelas, informasi memuat ketidakwajaran, bahasa yang digunakan cenderung provokatif, tidak mempunyai kesesuaian antara judul dan isi, tidak mencantumkan waktu dan tanggal kejadian, mendiskreditkan pihak tertentu, dan adanya ancaman jika tidak menyebarkannya.

Untuk meluruskan informasi dan berita hoaks, Kemkominfo telah melakukan upaya pencegahan dan penindakan diantaranya melalui Literasi digital, penindakan hukum terhadap pelaku pembuat dan penyebar hoaks, penutupan situs dan konten penyebar hoaks dan ujaran kebencian serta klarifikasi melalui berbagai media terhadap hoaks yang beredar.

Strategi Penanggulangan Covid-19

Pada Webinar yang sama, Jubir Vaksin Covid-19, Siti Nadia Tarmizi menjelaskan kodisi pandemi di Indonesia saat ini. Menurutnya perilaku pencegahan COVID-19 pada masa pandemi di masyarakat belum konsisten. Tingkat pengetahuan tentang gejala dan penularannya juga masih rendah. Masih banyak masyarakat yang takut untuk di-Covid-kan sehingga enggan memeriksakan gejala lebih dini. Padahal ini sangat penting untuk memutus rantai penularan Covid-19.

Adapun strategi penanggulangan covid-19 yang dilakukan pemerintah antara lain deteksi, terapeutik, vaksinasi, dan perubahan perilaku. Untuk memuluskan strategi tersebut tidak bisa dilakukan sendiri harus ada dukungan masyarakat. Bentuk dukungan masyarakat diantaranya adalah dengan menerapkan 5M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas) serta mewaspadai titik lengah yang bisa menyebabkan penularan. Agenda makan bersama, rapat tatap muka, foto bersama, kunjungan ke mal harus dihindari.

Terkait upaya vaksinasi Covid-19, Jubir Vaksin Covid-19, Siti Nadia Tarmizi telah menjamin bahwa vaksinasi Covid sangat aman. Izin penggunaan darurat oleh Badan POM juga sudah diberikan sehingga aspek keamanannya sudah diperhatikan dengan baik oleh Badan POM. Prosedur vaksin sudah didesain sedemikian rupa sehingga memudahkan  semuanya dalam prosesnya.

Menjadi Warga Digital Yang Baik

Ketua Prodi Magister Komunikasi UPH Benedictus Simangunsong pada Webinar ini membahas mengenai penggunaan internet saat ini. Ada banyak hal yang tidak disadari kala menggunakan teknologi Internet. Menurutnya teknologi digital telah membawa pada aktivitas-aktivitas yang tidak disadari seperti memanipulasi orang lain, membuat orang lain tidak menerima informasi dengan tepat dan benar, dan juga membuat orang lain memberikan gagasan bahwa kebenaran yang akan kita munculkan itu adalah kebenaran dengan cara-cara yang negatif.

Baca juga : Pentingnya Pembelajaran Literasi digital di masa kini

Di era sekarang, kebohongan yang diulang terus menerus dianggap sebagai kebenaran. Hal ini menjadikan teknologi atau media menjadi alat yang sangat kuat untuk mempengaruhi orang lain. Internet menjadi tempat perang komunikasi dan media sosial digunakan sebagai alat propaganda untuk mengalahkan pihak lawan.

Berdasarkan data dari Kemenkominfo, hingga awal Juni 2021 sudah ada 1.621 hoaks mengenai Covid-19. Diantara hoaks tersebut terdapat ratusan hoaks mengenai vaksin seperti penerima vaksin akan meninggal dua tahun setelah divaksin, vaksin Covid-19 mengandung unsur magnetic dan chip pelacak, vaksin Sinovac punya efek samping memperbesar organ reproduksi pria, dan masih banyak hoaks lainnya.

Hoaks bisa tumbuh subur karena 3 faktor utama. Yakni perilaku menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu (sharing tanpa saring), tingkat literasi dan sosial budaya masyarakat, serta faktor politik yang terjadi.

Perspektif mengenai media dapat membantu mengenali pilihan yang dibuat, khususnya pada sebuah situasi di mana ketika tujuan media berbeda dengan tujuan diri kita. Semakin tinggi tingkat literasi seseorang, semakin mampu melihat berbagai macam dimensi dari konten yang diterima. Dan sebaliknya semakin rendah tingkat literasi, semakin tidak mampu melihat berbagai macam dimensi dari konten yang diterimanya

Saat ini Covid-19 masih menimbulkan banyak kasus di Indonesia. Dengan adanya program vaksinasi Covid-19, kita semua berharap pandemi ini segera mereda hingga berakhir. Oleh karena itu Jangan Termakan Hoaks Vaksin Covid-19, Mari Edukasi Diri!

Munasya

Blogger, Writer and Teacher
Contact Person :
email : sy4r0h@gmail.com
Twitter : @Munasyaroh_fadh
IG. : @Muns_Fadh

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *